Pendidikan Sekuler Melahirkan Kerusakan Generasi

04 Februari 17:30 | Dilihat : 679
Pendidikan Sekuler Melahirkan Kerusakan Generasi Ilustrasi foto murid dan guru yang dianiaya di Sampang

Dunia pendidikan di Indonesia tercoreng dengan tragedi meninggalnya seorang guru yang dianiaya muridnya beberapa hari yang lalu.

Kelakuan salah satu siswa SMAN 1 Torjun, Sampang sungguh terlalu. Bukannya memuliakan seorang guru, dia justru melakukan penganiayaan kepada sang guru hingga meninggal dunia setelah sebelumnya korban didiangnosa mengalami patah leher dan pecah pembuluh darah otak. (Kabarmadura.com 1/2/2018).

Saat ini kita menyaksikan potret kerusakan generasi muda terutama dikalangan para remaja bak jamur di musim hujan. Kejahatan demi kejahatan menjadi pemberitaan media hampir setiap detik. Seperti kasus  narkoba, tawuran, pornoaksi, LGBT dan tindak kekerasan lainnya.

Kasus penganiayaan seorang murid kepada gurunya dan kasus-kasus lainnya yang mewarnai buruknya pendidikan telah membuktikan kegagalan sistem pendidikan dinegeri ini.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah sistem pendidikan sekulerisme. Sistem pendidikan ini menjadikan pendidikan agama hanya sebagai formalitas. Paham sekularisme menolak peran agama dari kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan.

Bukti pendidikan dinegeri ini menganut paham sekuler-matrealistik adalah UU Sisdiknas no.20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur,jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan dan khusus.

Dari pasal ini ada dikotomi pendidikan yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Dikotomi semacam ini terbukti telah gagal melahirkan generasi yang shalih, memiliki kepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. 

Kurikulum dalam pendidikan sekuler membatasi mata pelajaran pendidikan agama disekolah dengan waktu yang minimalis yaitu 2 sampai 3 jam dalam seminggu. Sehingga wajar banyak kaum pelajar yang tingkah lakunya jauh dari nilai-nilai agama. Pelajar sekarang lebih identik tawuran, narkoba, pergaulan bebas dan kekerasan dikarenakan penanaman paham-paham seperti pluralisme dan liberalisme sudah ditanamkan sejak dini dalam sistem pendidikan sekuler ini. Sehingga kebebasan berfikir, berpendapat, kepemilikan dan bertingkah laku sudah menancap kuat dibenak generasi kita. 

Pendidikan memiliki peranan penting dalam proses kehidupan seorang manusia, lebih dari itu penting bagi berjalannya regenerasi sebuah bangsa yang berkualitas. Islam telah mewajibkan bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :

ٍﻄَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻓَﺮِﻳْﻀَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ

Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam” (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

Pendidikan dalam Islam memiliki tujuan mengembangkan manusia yang : 1. Berkepribadian Islam 2. Menguasai tsaqofah Islam. 3. Menguasai ilmu kehidupan (sains, tekhnologi dan seni) yang memadai, yang selalu menyelesaikan masalah kehidupannya dengan syariat Islam.

Akidah Islam menjadi asas dalam sistem pendidikan Islam. Sehingga dasar kurikulum (mata pelajaran dan metode pengajaran) berdasarkan akidah tersebut. Pendidikan dianggap tidak berhasil apabila tidak ada keterikatan pada syariat Islam bagi peserta didik, walau pun mungkin membuat peserta didik menguasai ilmu pengetahuan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan maka negara memiliki peranan yang harus dilakukan : 1. Memberlakukan kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan. 2. Manajemen Sumber daya manusia sebagai tenaga pendidik bukan sekedar transfer ilmu. 3. Mendorong peningkatan peran dan kemampuan keluarga dalam mendidik (pengawasan dan teladan orangtua) dan menciptakan suasana kondusif bagi pendidikan di masyarakat.

Sehingga sistem pendidikan Islam mampu melahirkan generasi shalih dan mushlih yang dapat mendatangkan kebaikan bagi masyarakat.

Untuk menyelamatkan dan melahirkan generasi yang berkualitas, saatnya kita mengganti dengan sistem pendidikan Islam yang paripurna dan membuang jauh sistem pendidikan sekuler yang sudah tidak layak lagi. Wallahu a'lam bishowab.

Selvi Sri Wahyuni Spdi.

0 Komentar