Keluarga dalam Jeratan Sistem Kapitalisme

28 Januari 06:04 | Dilihat : 364
Keluarga dalam Jeratan Sistem Kapitalisme 	Ilustrasi

Depresi tampaknya lebih sering menjerat perempuan dibandingkan pria. Kasus tewasnya tiga orang anak di tangan ibu kandungnya sendiri adalah salah satu contohnya. Diduga sang Ibu dengan tega meminumkan racun pada tiga orang anaknya dan juga dirinya sendiri adalah karena bermasalah dengan kehidupan rumah tangganya. Ironis, tiga anaknya tewas setelah menenggak racun obat nyamuk cair, namun dirinya masih bisa diselamatkan. Bunuh diri memang menjadi tren ketika seseorang mengalami depresi atau tekanan hidup yang berat. Atas dasar motif kisruh rumah tangga dan asmara, Evi melakukan percobaan bunuh diri yang melibatkan anak-anaknya (tribunnews.com, 17/1). 

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang sering terjadi, juga tak jarang depresi menjadi penyebab banyak orang membunuh dirinya sendiri. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eka Viora, mengatakan, di Indonesia prevalensi penderita depresi adalah 3,7 persen dari populasi. Jadi sekitar 9 juta orang Indonesia mengalami depresi, dari jumlah penduduk 250 juta jiwa (tempo.co, 21/5/17). Untuk masalah depresi berat, perbandingan antara laki-laki dan perempuan jumlahnya 1:3, artinya perempuan lebih banyak mengalami depresi disbanding laki-laki (kompas.com, 2015).
    
Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi banyaknya perempuan mengalami depresi berat sehingga dengan tega menghabisi nyawanya sendiri, bahkan anggota keluarganya. Permasalahan ini sesungguhnya adalah lingkaran setan yang tak pernah putus dan selalu terhubung dengan mata rantai lainnya. Mulai dari faktor ekonomi kemudian mengusik keharmonisan rumah tangga. Hal ini menyebabkan seorang ibu kehilangan fitrahnya dalam mendidik anak dan mengurusi urusan rumah tangga. Ibu yang seharusnya mengerahkan segala pikiran, jiwa, dan tenaganya untuk anak dan rumah tangga, terbelah menjadi banyak arah. Era kapitalisme ini, ibu turut serta dalam mencari nafkah demi kehidupan anak-anaknya. Dalam kehidupan yang semakin sulit, harga kebutuhan pokok melonjak tajam, biaya kesehatan dan pendidikan yang melesat tinggi, ibu ikut berjuang bersama suami demi masa depan anaknya. Namun ironis, alih-alih bekerja demi anak, justru masa depan anak tergadaikan oleh materi yang tidak seberapa. Anak-anak mereka menjadi bias identitas, bahkan tidak mengenal agama. Puncaknya, sang anak akhirnya terjerumus dalam kubangan pergaulan bebas yang menyesatkan dan merusak masa depannya. Nau’dzubillah.
    
Begitupula, kapitalisme sekuler telah merenggut peran ayah yang seharusnya perlindungan dan tanggung jawab keluarga berada di atas pundaknya. Kini peran itu seolah pudar. Seorang laki-laki yang tidak memliki akidah kuat dengan begitu mudahnya terjerumus pada perzinahan, kriminalitas, serta tindakan-tindakan kotor lainnya. Bagaimana mungkin sebuah keluarga tercipta sesuai dengan yang selalu didamba-dambakan para pasangan suami-istri, sakinah, mawaddah, wa rahmah, jika seorang pemimpin keluarga dengan tega melepas tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya?
    
Inilah era kapitalisme sekuler yang telah merenggut fitrah manusia dari Sang Khaliq menuju jalan yang sesat. Masihkah kita berharap pada sistem rusak ini? Padahal Allah swt. telah membuat sistem aturan terbaik untuk seluruh manusia di muka bumi. Ya, Islam adalah sistem terbaik itu. Pertanyaan selanjutnya, maukah kita menerapkan aturan Allah secara sempurna? Wallahu’alam bi ash-shawab

Ariefdhianty Vibie 
Pengamat Sosial dan Politik, tinggal di Bandung

0 Komentar