Kamuflase Sang Pemimpin

26 Januari 16:59 | Dilihat : 1790
Kamuflase Sang Pemimpin Ilustrasi

Sudah luka tertusuk sembilu pula. Bisa jadi itu adalah untaian kata yang tepat untuk rakyat zaman now.  Sadisnya kebijakan yang ditetapkan pemerintah sangat menyakitkan masyarakat. Naiknya harga kebutuhan pokok, listrik dan BBM menjadi penyebab beratnya tekanan ekonomi rakyat. Bahkan menurut kementerian kesehatan menunjukkan, sekitar 14 juta orang di Indonesia yang berusia diatas 15 tahun mengalami gangguan kejiwaan. Sedangkan gangguan jiwa berat mencapai 400.000. Salah satu penyeabnya yaitu faktor ekonomi.

Belum lagi propaganda murahan mengenai “Ancaman Radikalisme” terhadap keutuhan bangsa. Faktanya, konflik-konflik sosial terjadi diakibatkan kegagalan pemerintah dalam mewujudkan keadilan dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyat. Wajar saja jika menjadi Negara Gagal dalam mewujudkan rasa aman bagi rakyat. 

Kegagalan tersebut mengakar kepada penerapan ekonomi kapitalisme yang memberikan kebebasan dalam melakukan penguasaan terhadap sumber-sumber ekonomi baik pengelolaan tanah, privatisasi ataupun penjualan industri BUMN, perdagangan bebas maupun perihal problem ketenagakerjaan hingga mewujudkan kesenjangan yang begitu lebar.

Ironi sang pemimpin

Seharusnya dengan berbagai kegagalan yang ada. Seorang pemimpin harus semakin banyak evaluasi. Bukan justru menciptakan berbagai pencitraan untuk menutupi kegagalan kegagalan yang kian hari memuncak. Teori blusukan dengan memakai kaos oblong hingga sandal jepit. Padahal kebijakan sadis.

Kekuasaan yang dimiliki hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan segelintir orang saja, yang memberikan kontribusi singgasana kekuasaan. Tak perduli bagaimana keadaan rakyatnya. Ironi sang pemimpin di zaman now.

Sistem demokrasi akan senantiasa mencetak generasi pemimpin yang serba abu-abu dan abal-abal. Mau diganti sebaik apapun pemimpinya, selama sistem yang digunakan tidak berubah maka akan tetap sama. Sifatnya sistemik, mulai dari level daerah sampai pusat.

Balasan atas kezaliman 

Ingatlah kisah Fir’aun, Namrud dan Abu Lahab. Allah telah datangkan kematian yang teramat tragis kepada mereka, orang-orang yang dzalim. Kematian merekapun teramat buruk. Naudzubillahindzalik.

Namrud, mati karena sakit kepala  akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, dokter pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya dia mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.

Nasib serupa dialami Mustafa Kamal juga menerima pembalasan yang setimpal dari Allah. Cerita Muammar Qadafi yang mati terhina  di saluran air. Dan banyak kisah balasan kezaliman pemimpin dari zaman old hingga zaman now.

Pemimpin peduli umat, hanya dengan Islam.

Kepemimpinan adalah perkara yang sangat penting dalam Islam. Dengan adanya seorang pemimpin, kepemimpinan (imamah) dan pengaturan (imarah) akan bisa diwujudkan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, benar pula bahwa memilih pemimpin dalam Islam yang memenuhi syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama (Islam) agar terwujud kemaslahatan bersama dalam masyarakat adalah sebuah kewajiban.

Becermin dari negara ideal Rasulullah Saw, indikator sebuah kepemimpinan dikatakan gagal atau Kepemimpinan dipandang gagal ketika negara tidak mampu memenuhi dan menjamin hak-hak warga negaranya-seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, dan hak dasar hidup manusia semisal sandang dan pangan; menegakkan supremasi hukum sehingga terwujud apa yang disebut sebagai pemerintahan yang bersih dan pemerintahan yang baik. 

Demikian juga teladan ideal yang dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. Abu bakar yang memanggul gandum sendiri. Menghantarkan makanan kepada seorang nenek yang kelaparan. Umar bin Khatab yang menegur wanita yang curang dalam timbangan dan yang menangis tatkala ada keledai yang terperosok dijalan. Ali bin Abi thalib yang adil dalam pengandilan hilangnya baju besinya.

Banyak kisah teladan para khalifah sepajang sejarah Islam. Tentunya karna Individu yang bertaqwa, kontrol masyarakat dan pengaturan dengan Islam.

Dalam Al-Qur'an dan Sunah Rasululllah Saw terdapat kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain:

1. Pemimpin haruslah orang-orang yang amanah, amanah dimaksud berkaitan dengan banyak hal, salah satu di antaranya berlaku adil. Keadilan yang dituntut ini bukan hanya terhadap kelompok, golongan atau kaum muslimin saja, tetapi mencakup seluruh manusia bahkan seluruh makhluk.  

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat." (QS. An-Nisa’: 58) 

 2. Seorang pemimpin haruslah orang-orang yang berilmu, berakal sehat, memiliki kecerdasan, kearifan, kemampuan fisik dan mental untuk dapat mengendalikan roda kepemimpinan dan memikul tanggung jawab. "Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri) kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)." (QS. An-Nisa’: 83) 

3. Pemimpin harus orang-orang yang beriman, bertaqwa dan beramal shaleh, tidak boleh orang dhalim, fasiq, berbut keji, lalai akan perintah Allah Swt dan melanggar batas-batasnya. Pemimpin yang dhalim, batal kepemimpinannya.

4. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan tatanan kepemimpinan sesuai dengan yang dimandatkan kepadanya dan sesuai keahliannya. Sebaliknya Negara dan rakyat akan hancur bila dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Apabila diserahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya maka tungguhlah kehancuran suatu saat”. 

5. Senantiasa Menggunakan Hukum yang Telah Ditetapkan Allah. Sebagaimana yang Allah jelaskan dalam al-Qur’an. "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa': 59).

Bisa diambil kesimpulan, bahwa pemimpin yang peduli umat hanya akan tercapai jika, Pertama : Individu pemimpin sesuai dengan kriteria Islam. Kedua: Sistem yang diterapkan adalah sistem dengan pengaturan Islam bukan yang lain. Wallahu'alam.

Silvi Ummu Zahiyan 
(Muslimah Peduli Generasi,Tinggal di Bogor)

0 Komentar