Bela Negara Kekinian

Kamis, 21 Desember 2017 - 05:44 WIB | Dilihat : 463
Bela Negara Kekinian Ilustrasi

Mungkin tidak banyak yang tahu, bahwa tanggal 19 Desember diperingati sebagai Hari Bela Negara. Saat ini sedang digalakkan lagi seruan bela negara. Bela negara itu penting terutama dalam menghadapi ancaman dan musuh negara. 

Namun, yang perlu diketahui terlebih dahulu siapa musuh negara yang sebenarnya, yakni yang memiliki niat jahat terhadap negeri ini bahkan sudah terbukti melakukan tindakan-tindakan yang merugikan negeri ini seperti merampas kekayaan alam, memecah belah persatuan masyarakat, menyebarkan ide-ide sesat yang menjerumuskan manusia ke dalam kehinaan.

Kapitalisme-liberalisme adalah musuh sebenarnya di negeri ini. Ideologi ini sudah sangat nyata membawa berbagi kerusakan bagi negeri ini. Ideologi ini dikemas dengan apik oleh pengembannya, Amerika serikat dan negara-negara barat. Ideologi inilah yang melahirkan neoimprealisme yang nyata-nyata mengancam negeri ini tidak dianggap sebagai ancaman. Akibatnya tentu sangat fatal, pasalnya teman dijadikan musuh, sementara musuh sebenarnya malah dijadikan kawan. Walhasil ancaman dan lawan tidak bisa diatasi.

Membela negara merupakan fitrah yang timbul pada dirinya manusia. Islam sebagai agama fitrah telah menuntun sedemikian rupa bagaimana cara membela negara dengan benar. Bela negara menurut Islam adalah:

Pertama, kewajiban jihad di Sabilillah melawan musuh/ penjajah. Allah Swt telah menentukan metode untuk mengemban risalah Islam, yaitu dengan dakwah dan jihad.

Kedua, kewajiban menjaga kesatuan negara (mencegah disintegrasi). Islam tidak membiarkan potensi perbedaan dan perselisihan yang bisa menghancurkan kesatuan dan persatuan. Karena itu Islam menetapkan akidah Islam sebagai dasar negara.

Ketiga, melindungi negara dari ide-ide yang merusak. Untuk melindungi negara dari ide-ide yang rusak, pendidikan menjadi pilar utama negara. Dasar yang menjadi pondasi kurikulum pendidikan di dalam negara Khilafah adalah akidah Islam. Karena itu seluruh kurikulum, materi pendidikan, metode pendidikan dan seluruh proses belajar mengajar tidak boleh bertentangan atau menyalahi dasar (akidah Islam) ini.

Keempat, melindungi negara dari makar yang menghancurkan negara; mencegah intervensi asing dalam segala bentuknya.

Kelima, Menyejahterakan rakyat. Khilafah wajib melakukan distribusi kekayaan secara adil kepada seluruh individu masyarakat. Khilafah mengambil berbagai kebijakan ekonomi dalam bidang perdagangan, jasa, pertanian dan sebaginya agar harta tidak beredar di kalangan orang-orang kaya saja.

Keenam, Mengoreksi penguasa zalim. Mengoreksi penguasa adalah fardhu kifayah. Bahkan menurut Ibnu Taimiyah, fardhu kifayah (kewajiban bersama) ini bisa berubah menjadi fardhu 'ain (kewajiban setiap orang), yaitu bagi orang yang mampu untuk melakukan dan mengubahnya.

Kewajiban mengoreksi penguasa ini sama sekali tidak bertentangan dengan kewajiban menaati penguasa. Sebab, kewajiban menaati penguasa itu hanya dalam hal yang baik saja. Karena itu jika penguasa menyimpang dari syariat Islam maka tidak ada ketaatan bagi dia.

Elis Tsamratul Jannah
Alumnus UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Anggota Cyber Muslimah Tanjungsari , Kab, Sumedang

0 Komentar