#Selamatkan Al Quds

Nasionalisme Melanggengkan Penjajahan Israel atas Palestina

Selasa, 19 Desember 2017 - 05:15 WIB | Dilihat : 621
Nasionalisme Melanggengkan Penjajahan Israel atas Palestina Peta Palestina

Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya di Gedung Putih (7/12/2017) telah mengumumkan pengakuan bahwa Al Quds (Yerusalem) adalah ibu kota Negara Israel. Dia lalu memerintahkan Kementrian Luar negri untuk memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Al Quds. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan aksi nyata menurunkan pasukan untuk melakukan pengusiran di kota Yerusalem. Perang pun pecah. 

Dunia Islam pun bereaksi atas peristiwa ini. Bentuk reaksi mereka beragam, mulai dari mengecam, mengutuk, melakukan penggalangan dana, mengirimkan misi kemanusiaan ke Palestina, berunjuk rasa, melakukan istighosah/doa bersama, dll. Berulang kali krisis Palestina-Israel, reaksi diawali dari rakyat negeri-negeri muslim, bukan malah dari penguasa negeri-negeri muslim. Penguasa negeri-negeri muslim terkesan slow respon, atau kalaulah merespon sekedar kamuflase dalam menunjukan kepedulianya pada krisis Palestina-Israel. Mengapa saya katakana berkamuflase? Kita tahu bahwa rezim negeri-negeri muslim tidak pernah benar–benar menentang kezaliman AS dan Israel. Tetapi mereka justru mengikuti arahan kebijakan AS dan membohongi rakyatnya seolah-olah benar-benar peduli dan mencari solusi atas krisis Palestina-Israel. 

Pihak AS mengklaim sebelum Trump mengumumkan hal itu, lebih dahulu melakukan komunikasi dengan mayoritas penguasa muslim. Trump berkomunikasi dengan Raja Salman, Abbas, Abdullah, Al-Sisi, Muhammad VI, dll. Setelah kaum muslim bereaksi atas kebijakan AS itu, para rezim negeri-negeri muslim yang tergabung dalam OKI dan melakukan kesepakatan menyatakan bahwa Al Quds, Yerusalem tetap sebagai ibu kota Palestina. Pernyataan para rezim negeri-negeri muslim ini jelas sekali hanya pepesan kosong. Apakah bisa hanya pernyataan lalu problem akan selesai, sedangkan tidak ada tindakan nyata. AS saja menurunkan pasukan untuk melakukan pengusiran sebagai tindak lanjut dari pernyataanya, lalu apa reaksi konkrit para rezim negeri-negeri muslim dengan pernyataan mereka?

Jika rakyat negeri-negeri muslim hanya dengan mengecam, mengutuk, melakukan doa bersama, mengirimkan misi kemanusiaan, dan sejenisnya karena memang hanya itu yang bisa dilakukan  level rakyat terhadap penjajahan Israel karena rakyat tidak memiliki kekuasaan. Sedangkan para rezim negeri muslim yang memiliki kekuasaan tidak pantas hanya melakukan reaksi yang sama selevel rakyat jelata tetapi harus mencegah kezaliman AS dan Israel atas Palestina. Kekuasaan mereka tidak digunakan untuk menolong agama Allah, tidak digunakan untuk memuliakan Islam dan kaum muslim. 

Berulang terus problem Palestina-Israel karena sejatinya para rezim negeri-negeri muslim tidak benar-benar melakukan solusi mendasar, tidak benar- benar menjadikan penjajah kaum muslim sebagai musuh namun menjadikan tuannya. Mereka selalu merujuk pada AS dalam menyelesaikan problem Palestina. Melalui tangan PBB. Duduk bersama para penjajah berdiplomasi menentukan solusi atau melalui Uni Eropa yang nyata-nyata kaum kafir harbi yang jelas tidak akan pernah member solusi untuk dunia Islam, dan melalui keluarga internasional yang sesuia arahan barat. Hasilnyapun tidak jauh- jauh dari kata “gencatan senjata” dan “solusi dua negara” solusi pragmatis, parsial yang tidak akan pernah menyentuh problem mendasar. Maka problem akan terus berulang dikemudian hari.

Pendudukan Israel atas Palestina adalah masalah penjajahan Negara pada Negara. Maka untuk menghapuskan penjajahan juga harus oleh level Negara. Bukan oleh level individu atau masyarakat seperti mengirimkan misi kemanusiaan. Masalah penjajahan juga masalah menghadang rintangan fisik, maka yang harus dilakukan juga aktivitas fisik bukan sekedar doa bersama namun semestinya rezim negeri- negeri muslim mengirimkan tentaranya yang jika mereka bersatu pasti jumlahnya akan sangat banyak dan sangat mudah mengalahkan tentara Israel dan AS. Namun hal ini tidak akan pernah terjadi manakala negeri- negeri muslim masih mengemban paham nasionalisme. Karena paham nasionalisme itulah yang membuat umat muslim terpecah belah menjadi negeri-negeri kecil tak berdaya, sehingga menjadi jarahan kaum kafir imperialis. Penguasanya pun bukan penguasa independen yang hanya menjadi para agen penjajah yang tidak akan mampu bergerak kecuali atas arahan tuanya. 

Kaum muslim harus menyadari bahwa solusi atas Palestina harus nyentuh problem mendasar. Jika kaum muslim ingin melihat Palestina dibebaskan maka harus bersatu memperjuangkan sebuah institusi pemersatu umat yaitu Khilafah yang akan dipimpin oleh Khalifah, yang akan menjadi negeri adi daya dan independen tidak mengikuti arahan Barat. Menebarkan dakwah dan jihad ke seluruh penjuru dunia. Dengan prinsip national state mustahil umat Islam bersatu, mustahil rezim negeri–negeri muslim benar-benar melawan penjajahan Israel atas Palestina. 

Siti Roisah, A.Md
Aktivis Dakwah di Cilacap

0 Komentar