Waspadai Islam Moderat Penangkal Radikalisme

Sabtu, 09 Desember 2017 - 14:03 WIB | Dilihat : 361
Waspadai Islam Moderat Penangkal Radikalisme Pembacaan Deklarasi Serpong. [foto: okezone.com]

Senin 21 November 2017 lalu, insan pendidikan Islam dari seluruh Indonesia mendeklarasikan Deklarasi Serpong di ICE BSD Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Deklarasi ini dinyatakan sebagai seruan dari civitas akademik Islam Indonesia kepada masyarakat dunia untuk mewujudkan harmoni dalam keberagaman. 

Perwakilan ormas dari berbagai golongan turut serta dalam deklarasi ini. Dengan empat poin yang terkandung di dalamnya, deklarasi ini diklaim sebagai upaya untuk memperbaiki kehidupan bernegara, dan menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu cara untuk menjadikan peradaban lebih baik. Sekilas, hal ini tentu saja terlihat baik, akan tetapi benarkah demikian?

Pada poin pertama dinyatakan bahwa “Setia mengamalkan, sekaligus menggaungkan nilai-nilai Islam wasathiyah (moderat) yang rahmatan lil alamin”. Serta poin ketiga yang berbunyi “Menolak setiap penyalahgunaan agama untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan watak dasar dan tujuan agama itu sendiri.” Mereka beranggapan bahwa dengan dijauhkannya Islam dari politik, atau dengan menggencarkan Islam moderat, yang penuh dengan toleran, maka negeri ini akan jauh dari kata radikalisme.

Anggapan ini tentu saja salah besar, poin-poin ini sangat jelas sekali adalah sebagai bentuk upaya memangkas pemikiran dan politik Islam yang sekarang semakin berkembang di tengah-tengah masyarakat. Karena mereka beranggapan bahwasanya Islam harus dijauhkan dari kepentingan kepentingan yang berbau politik, sehingga radikalisme itu dapat dihindari.

Dengan digencarkannya Islam moderat, tentu saja ini merupakan sebuah ancaman besar bagi seluruh umat muslim. Bagaimana tidak, ketika hal ini diklaim sebagai Islam yang anti kekerasan, menjunjung tinggi rasa toleransi, namun pada akhirnya dibalik itu semua, ide ini hanya semakin menjauhkan umat Islam dari syari’at Islam yang sebenarnya. Moderasi Islam merupakan bagian dari perang pemikiran, karena ide ini adalah ide asing yang tidak berasal dari Islam. Ide ini menjunjung tinggi sikap toleransi dan pluralisme, yang notabene bertentangan dengan syariat Islam.

Sehingga jelaslah bahwa kata “moderat” adalah sebuah upaya propaganda yang membahayakan umat Islam dari dua sub kehidupannya. Yang pertama adalah politis, tujuannya adalah untuk mempertahankan negara- negara yang mayoritas muslim agar tetap menjadi mitra para negara penganut sekuler. Dan yang kedua secara ideologis, para penganut sekuler menginginkan negara-negara mayoritas muslim tetap menjalankan sistem sekulerisme dalam kesehariannya, bahkan menginginkan ide tersebut semakin mengakar di dalam benak-benak kaum muslim. Dan pada akhirnya mendiskreditkan Islam ideologis dan umat Islam itu sendiri.
                
Rasulullah Saw adalah seorang nabi sekaligus sebagai politikus ulung dan kepala negara yang mengatur pemerintahannya berdasarkan sistem pemerintahan Islam yang telah Allah tetapkan. Hal ini membuktikan bahwa politik merupakan bagian dari ajaran Islam, dan tidak dapat dipisahkan. Di sepanjang pemerintahannya, sedikit sekali kendala atau pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu. Dari sini dapat dilihat bagaimana sistem Islam dapat mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamiin. Juga pada pemerintahan-pemerintahan yang berlangsung setelah beliau wafat. 

Dalam naungan sistem Islam, hampir 2/3 dunia merasakan bagaimana sistem Islam memberikan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya mulai membuka mata dan menyadari akan bobroknya sistem yang ada saat ini, dan mulai kembali kepada sistem yang membawa kebaikan bagi seluruh manusia. Wallahu a’lam

Winda Oktavianti
Tinggal di Lembang, Jabar

0 Komentar