Penjualan Jalan Tol Bikin Beban Rakyat

20 November 04:58 | Dilihat : 625
Penjualan Jalan Tol Bikin Beban Rakyat Tol Medan-Binjai

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memberi sinyal ke PT Hutama Karya (Persero) untuk menjual Tol Medan-Binjai jika seluruhnya sudah tersambung. Padahal tol Medan-Binjai seksi 2-3 (Heltevia-Binjai) sepanjang 10,46 km baru sehari diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kita tahu bahwa jalan tol adalah salah satu asset negara yang harus dipergunakan dengan benar untuk kepentingan rakyat.Dan Allah juga telah mengatakan bahwa membelanjakan harta sesuai yang diarahkan adalah tujuan utama syariat dalam masalah harta. Karena harta bukan untuk menyulitkan dalam memperolehnya kecuali untuk diinfakkan demi memenuhi kebutuhan manusia. Namun nampaknya harta negara kini banyak yang dikuasai asing dan disalahgunakan oleh para petinggi negara. Seperti halnya korupsi ,penjualan jalan tol juga termasuk didalamnya.

Penjualan jalan tol ini akan berakibat pada kemahalan biaya masuk karena asset tersebut dimiliki oleh swasta. Memang benar akan diperoleh dana segar dari penjualan jalan tersebut. Tapi hal itu berakibat pada rakyat yang harus terbebani biaya masuk. Padahal seharusnya kepemilikan rakyat tidak dijadikan bisnis yang terorientasi oleh penguasa.

Buktinya kezaliman penguasa saat ini misalnya aset di bidang perbankan, bangsa asing telah menguasai lebih dari 50 persen. Begitu pula di sektor lain seperti migas dan batu bara antara 70-75 persen, telekomunikasi antara 70 persen, dan lebih parah lagi adalah pertambambangan hasil emas dan tembaga yang dikuasi mencapai 80-85 persen. (Kompasiana)

Pada zaman pemerintahan Umar bin Abdul 'Aziz dulu beliau memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahik, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. 

Di masa pemerintahan Umar bin abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. 

Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara. Maka dari itu hanya dengan aturan islam lah solusi dari berbagai pemasalahan umat termasuk dalam kepemilikan negara. Keberkahan di bumi akan diberikan oleh Allah Swt ketika hambanya mampu untuk menaati syariatnya. Wallahualam bishowab

Rini Christiyanningsih
Tinggal di Cilacap, Jateng

0 Komentar