Mahasiswa Jadi Agen Moderasi Agama, Perlukah?

07 November 00:01 | Dilihat : 272
  Mahasiswa Jadi Agen Moderasi Agama, Perlukah? Ilustrasi: Aksi demonstrasi oleh mahasiswa di Istana Bogor.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual memiliki peran penting di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya sebagai agent of change/agen perubahan. Perubahan kepada kondisi yang lebih baik tentunya. Kecerdasan, kekuatan fisik, pengalaman dan ilmu yang diterima di kampus adalah modal yang cukup bagi mahasiswa.

Ada peran lebih untuk mahasiswa muslim selain penyalur ilmu terapan dalam kehidupan, ada tanggungjawab agama yang harus ia kerjakan. Tanggungjawab untuk menjaga agamanya dari rongrongan isu seperti intoleransi, radikalisme, dan ekstrimisme. Menjaga Islam utuh seperti apa adanya. Tanpa kontaminasi liberalisasi agama, sekulerisasi agama, maupun kapitalisasi agama. Semangat menegakkan amar ma’ruf dan juga nahi munkar. 

Sejak kelahirannya, Islam adalah agama yang toleran. Sikap Rasulullah kepada kafir Quraisy waktu penaklukkan kota Makkah salah satu buktinya. Demikian pula kemampuan umat Islam hidup rukun dengan non muslim di Negeri ini. ”Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (QS. Al Kafirun: 6)

Allah Swt juga melarang umatnya bersikap radikal. Seperti mengadopsi pemikiran dan perilaku orang-orang sekuler-liberal.  “Hai orang orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syeitan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al Baqarah: 208). 

Jadi, sebutan radikal ini juga pantas disandang bagi mereka yang berani mengimani Islam tapi tebang pilih dalam menjalankan perintahNya, berani melawan syariat Nya, dan berani melanggar laranganNya.

Islam tidak pula mengajarkan untuk bersikap ekstrim kanan atau kiri. Karena istilah ekstrim kanan atau kiri ini juga bukan dari Islam. Istilah ini adalan jebakan bagi umat Islam. Menjebak umat Islam untuk mengkompromikan pelaksanaan perintah Allah Swt. Sebagian dilaksanakan sebagiannya tidak. 

Islam adalah agama yang lurus. Yang haq dan yang batil di dalam Islam jelas. Halal dan haram dalam Islam juga nyata. Rasulullah Saw bersabda, 'Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membagikan kehormatan dan agamanya…” (HR. Bukhari)

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 42).

Apabila yang haq dan yang batil itu jelas, dan dilarang mencampuradukkannya, perlukah agama ini dimoderatkan? Memoderatkan agama Islam akan menjadikan umat Islam meninggalkan sebagian ajaran agamanya. Memanfaatkan alasan moderasi agama untuk kemudian tidak menutup aurat, anti penerapan syariat Islam, ikut dalam perayaan hari raya umat agama lain, mendukung LGBT, membolehkan homo dan lesbi, mengikuti lifestyle Barat, dan sebagainya.

Mahasiswa sebagai pemegang estafet agama ini, harus mengerti konspirasi Barat di balik isu intoleran, moderasi agama, radikalisme maupun ekstremisme ini. Sehingga bila mahasiswa mengekor, biarkan mereka mengekor kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Saw. Bukan kepada sekulerisme-liberalisme-kapitalisme yang didengungkan Barat. Yang nyata-nyata melempar propagannda untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya dan menghadang laju kebangkitan umat Islam.  

Wahai mahasiswa muslim, jadilah agen pembela agama ini. Agen yang meniupkan angin kebenaran, menentang setiap kedholiman dan kemaksiatan. Dengan mengamalkan ilmu agama dalam kehidupan, mengembangkannya dan menyebarkannya kepada yang lain. Raihlah gelar khoiru ummah atas penjagaan agama yang telah kalian lakukan. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah...”(QS. Ali Imran: 110).

Puji Astutik
Penulis Buku Hayya Ekspresikan Islammu
Tinggal di Pogalan, Trenggalek, Jatim

 

0 Komentar