Ganyang PKI, Campakkan Kapitalisme

03 Oktober 15:18 | Dilihat : 775
Ganyang PKI, Campakkan Kapitalisme Ilustrasi: Nobar film Pengkhianatan G30S/PKI

September adalah bulan yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Di bulan ini bangsa ini diingatkan akan kebiadaban PKI yang telah membunuh para Jenderal dan dikubur dalam satu sumur di daerah Lubang Buaya. Tepatnya pada 30 September 1965. Maka tragedi ini disebut dengan G30S/PKI. 

Di bulan September kali ini tampak berbeda dari bulan September tahun-tahun sebelumnya. Panglima TNI menginstruksikan kepada seluruh jajarannya di daerah untuk mengajak masyarakat menonton bersama film Pengkhianatan G30S/PKI. Film yang diproduksi di era Orde Baru ini dulu dimasa rezim Soeharto setiap bulan September wajib untuk ditonton. Hal ini sebagai bentuk propaganda akan kebiadaan PKI, sehingga rakyat tidak boleh mengambil paham komunisme. Namun anjuran nobar film G30S/PKI yang di serukan Jenderal Gatot Nurmamtyo ini diwarnai pro dan kontra. Panglima TNI mengklaim, nobar film yang masih menjadi polemik itu bertujuan untuk mengingatkan para generasi muda akan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI).

PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah sebuah partai politik berpaham komunisme, partai ini sempat menduduki peringkat ke-4 dalam pemilu tahun 1955 dan menjadi pendukung setia Presiden Soekarno saat itu. Partai ini tercatat pernah melakukan tiga kali pemberontakan, pertama tahun 1926 memberontak pemerintahan kolonial, kedua tahun 1948 atau yang sering disebut peristiwa Madiun 1948 dalam pemberontakan ini mereka banyak membunuh orang-orang yang tak sepaham dengan mereka terutama dari kalangan santri dan kyai. Ketiga tahun 1965 di tahun ini tepatnya di bulan september terjadi peristiwa berdarah yang dikenal sebagai G30S/PKI dimana PKI berusaha melakukan kudeta. Mereka membunuh para jenderal senior. Upaya kudeta ini berhasil digagalkan. Ditahun inilah penumpasan PKI dimulai sampai akhirnya tanggal 5 Juli 1966: Terbit TAP MPRS No.XXV th.1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme. 

Mengapa paham PKI dilarang di negeri ini? 

Bukan hanya kebengisan mereka saja yang berbahaya melainkan ideologi yang dianutnya juga berbahaya.  Ideologi adalah cara pandang mendasar, yang melahirkan sistem kehidupan untuk menyelesaikan masalah manusia, atau sebuah pemikiran tentang kesejahteraan sekaligus jalan untuk mencapai kesejahteraan itu. Dalam kitab Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa ideologi di dunia ini ada 3 yakni sosialisme-komunisme, kapitalisme dan Islam.

Komunisme memandang segala sesuatu adalah materi (evolusi materi), dan inilah masalahnya. Karena semua adalah materi yang berevolusi, maka perubahan sosial akan terjadi bila tesis dibenturkan dengan antitesis, hingga tercipta sintesis, masyarakat sosialis. Dalam proses perubahan itu, komunis akan melihat agama sebagai penghalang proses perubahan. Maka mereka tidak akan pernah suka dengan agama dan para penganutnya. Mereka menganggap bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Paham inilah yang membuat mereka memberontak 3 kali dengan jumlah korban terbanyak dari kalangan kaum muslim yakni para santri dan kyai.

Kapitalisme sama bahayanya dengan Komunisme

Lain halnya dengan kapitalisme, kapitalisme memandang bahwa agama harus dipisahkan dalam pengaturan kehidupan (sekulerisme). Mereka mengakui adanya penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan akan tetapi mereka tidak mau diatur pencipta dalam urusan dunia. Akhirnya agama juga harus dipisahkan dalam kehidupan bernegara. Sehingga wajar orang yang menganut paham kapitalisme menjadikan agama hanya sebagai agama ritual saja dengan kata lain agama hanya mengatur urusan mereka dengan Penciptanya. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat aturan sendiri wajar jika Ideologi ini sangat menjunjung tinggi kebebasan. 

Dalam ideologi kapitalisme yang paling menonjol adalah sistem ekonominya, dimana kekuasaan (pemerintahan) sangat dipengaruhi oleh para kapitalis (pemilik modal) sehingga wajar jika kebijakan-kebijakan yang diambil oleh penguasa selalu berpihak pada para kapitalis bukan kepada rakyat. Di Indonesia misalnya cengkeraman ideologi kapitalisme sangatlah terasa, kebijakan-kebijakan pro kapitalis sangatlah banyak misalnya kebijakan penghapusan subsidi (BBM, listrik, dan gas), penguasaan SDA oleh asing, pemungutan pajak dan masih banyak sekali kebijakan-kebijakan pro asing lainnya di negeri ini. Belum lagi masalah pembiayaan negara, yang berasal dari pajak dan hutang ribawi. Hal inilah yang membuat negeri ini berkubang dalam masalah kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Bagaimana tidak, SDA yang kita miliki sebagian besar telah dikuasai asing sehingga mau tidak mau negara harus mencari sumber pendapatan lain yakni pemungutan pajak dan hutang luar negeri. Kapitalisme memang identik dengan imperialisme yang sejalan dengan paham kebebasan kepemilikannya. Jadi ideologi kapitalisme yang saat ini dianut oleh negeri inipun sama bahayanya dengan ideologi komunisme.

Sedangkan ideologi yang ketiga yaitu Islam, tidak diemban oleh satu negara pun, setelah hancurnya Khilafah Islamiyah di Turki tahun 1924. Namun demikian, ideologi Islam tetap diemban dan dianut oleh individu-individu dalam masyarakat dan tetap ada di seluruh penjuru dunia.

Islam memandang bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ada Al-Khaliq (Pencipta) yaitu Allah SWT yang wajib diimani keberadaannya. Islam menetapkan pula mengimani kehidupan setelah kehidupan dunia yakni adanya alam akhirat. Dan bahwa dalam kehidupan dunia ini manusia wajib terikat dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya termasuk dalam kehidupan bernegara. Islam adalah aqidah ruhiyah (spiritual) dan siyasiyah (politik). Islam bukan hanya mengatur hubungan manusia dengan sang Penciptanya saja tapi mengatur hubungan manusia dengan dirinya dan hubungan manusia dengan sesama manusia yang lainnya. Dalam hubungan manusia dengan sesama manusia yang termasuk didalamnya aspek bernegara dan aspek ekomoni misalnya. Islam memposisikan Penguasa adalah pelayan rakyat artinya Penguasa sebagai pelindung rakyat, mereka bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyatnya. Dalam masalah kepemilikan, Islam telah membaginya menjadi 3, kepemilikan umum, kepemilikan individu dan kepemilikan negara. Jadi tidak ada kebebasan kepemilikan seperti dalam ideologi kapitalisme. Karena standar perbuatan dalam Islam adalah halal haram serta semata-mata untuk mencari Ridho Allah maka penguasa tidak akan sewenang-wenang pada rakyatnya. Karena keimanan yang mendasari mereka bukan kepentingan sesaat. 

Islam telah terbukti mampu mensejahterakan manusia selam 13 abad lamanya, sejak Rasulullah SAW mendirikan daulah Islam pertama di Madinah kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyiddin dan dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya sampai berakhirnya kehilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924. Bukan hanya umat Islam saja yang merasakan kesejahteraan hidup dibawah naungan Islam, umat-umat non Islam pun mengakuinya.

Maka Umat Islam perlu memiliki kewaspadaan yang utuh, adanya faktor trauma sejarah terhadap PKI membuat umat Islam Indonesia lebih peka terhadap ancaman PKI. Namun kita juga tidak boleh melupakan bahaya ideologi Kapitalisme yang lebih eksis daripada Sosialisme Komunisme hari ini, bahaya neoimperialisme dan neoliberalisme. Kapitalis ini bahkan diakui oleh Jenderal Gatot Nurmantyo lebih berbahaya dari PKI (detik.com, 2 Juni 2016).

Kita harus menjadi khoiru ummah (umat terbaik), menjadikan ideologi Islam di atas ideologi bathil merusak yakni Kapitalisme maupun Sosialisme Komunis. Lawan kebangkitan komunis dengan ilmu, iman dan kecerdasan, dan lawan Kapitalisme dengan Syariah Islam dan penegakan Islam Kaffah!

Wallahu'alam bish-shawab.

Lisa Budiarti
Akifis dakwah di Cilacap

 

0 Komentar