Liberalisme, Biang Hancurnya Keluarga

11 Juli 09:45 | Dilihat : 1049
 Liberalisme, Biang Hancurnya Keluarga ilustrasi

Akibat dari hancurnya keluarga bukan hanya soal rusaknya hubungan suami dan istri tetapi juga mengenai orang-orang yang merupakan akibat dari hubungan pernikahan tersebut. Pihak utama dan pertama yang merasakan dampaknya adalah anak keturunannya. Sangat disayangkan, banyak anak-anak berada diantara percekcokan kedua orangtuanya, seringkali kehilangan figur orang tua yang seharusnya mendidik, mengasihi dan sekaligus menjadi tuntunan baginya. Anak-anak yang seperti ini akan mencari lingkungan yang bisa membuatnya tenang dan merasa aman. Tak mengapa bila menemukan lingkungan yang baik, tapi jika sebaliknya?

Namun pada faktanya lebih banyak yang justru lari pada narkoba, miras, yang katanya bisa membuat mereka tenang, aman, senang walau hanya sesaat, atau pada perilaku menjijikan sepertihanya Lesbi, Guy, Biseks, Transgender (LGBT). Jika banyak yang mengalami hal serupa, baimana kondisi generasi berikutnya?
Biang Keladi

Banyak hal yang menjadi penyebab hancurnya keluarga/perceraian, antara lain masalah ekonomi, perselingkuhan, KDRT, dll. Di daerah saya tinggal (Cilacap), angka perceraian terlampau tinggi hingga menduduki posisi teratas kasus perceraian di Jawa Tengah. (Radar Banyumas, 4/7)

Tahun 2016 tercatat 5.551 kasus perceraian dengan gugat cerai diatas 50 persen dan selebihnya gugat talak. Sebagian besar disebabkan oleh permasalahan ekonomi, perselingkuhan. Bagaimana tidak, banyak sekali ibu rumah tangga yang berkerja sebagai TKW atas desakan ekonomi yang dihadapi seiring dengan dicabutnya subsidi kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok yang seharusnya dijamin oleh negara, malah hari ini terabaikan. Buktinya kongkritnya terlihat pada dicabutnya subsidi listrik, malahan pemerintah menaikkan dana untuk parpol. Kemudian banyaknya investasi swasta asing masuk sehingga sumber daya alam tidak bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Lebih parah lagi, investor asing itu juga ikut membawa pekerja dari negerinya sehingga kecil peluang menyerap pekerja lokal.

Neoliberalisme dan Neoimperalisme itulah yang menyebabkan hancurnya keluarga, bahkan generasi penerus bangsa. Akan sangat mengancan eksistensi bangsa ini dikemudian hari. Maka tak ada kompromi untuk menolak liberalisme. Saatnya beralih pada Islam, yang akan memberikan solusi bagi setiap permasalahan kehidupan. Dalam Islam, kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, keamanan akan dijamin oleh negara. Negara yang menjadikan Islam sebagai peratutan kehidupan, akan mendudukan masalah sesuai dengan syariat. Misal dalam mencari nafkah, wajib bagi laki-laki yang sudah baligh, tetapi mubah bagi perempuan. Islam juga melarang perzinaan dan hukumannya pun tak main-main, dirajam bagi yang masih punya ikatan pernikahan dan seratus kali cambuk bagi yang tidak punya ikatan pernikahan. Negara juga wajib mengelola sumber daya alam dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Terbukti, Islam akan menlindungi keluarga dari kehancuran.

Wallahu a'lam bis shawab

Lavia Sri Dayanti
Asal Cilacap

0 Komentar