Bukti Kehancuran Keluarga

12 April 08:10 | Dilihat : 482
Bukti Kehancuran Keluarga Ilustrasi

Hari ini, kita dihadapkan dengan berbagai masalah yang seluruhnya berpangkal dari masalah ekonomi. Baik dalam lingkungan keluarga sampai dalam kehidupan bernegara. Bahkan di negeri ini, sebagian besar penduduknya adalah kalangan menengah ke bawah. Masalah ini memang tidak bisa dielakkan dari kehidupan kita, sebab yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat tidak dijamin oleh negara. Sehingga muncul masalah cabang dari permasalah ekonomi.

Contoh yang sering kita jumpai dalam lingkungan keluarga yaitu masalah keluarga yang tidak harmonis. Saat terjadi ketimpangan peran dalam keluarga pasti akan menimbulkan percekcokan/perkelahian antar suami dan istri. Sudah menjadi barang tentu bahwa anak akan menjadi korban pertama, psikologinya akan terganggu apabila terus menerus melihat percekcokan yang dilakukan orangtuanya. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap kebribadian anak. 

Adanya ketimpangan peran dalam keluarga biasanya karena suami tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga atau tidak mempunyai lapangan pekerjaan. Dalam keadaan seperti ini tentu akan memaksa istri untuk bekerja dan bisa saja mengesampingkan tugasnya sebagai seorang istri yang patuh pada suami dan pendidik yang baik untuk anaknya. Segala upaya dilakukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan keseharian. Ditambah dengan adanya paham feminisme yang tengah berkembang pada masyarakat. Bukanya menjadi solusi untuk masalah ekonomi malah akan memungkinkan masalah lain muncul, seperti rusaknya moral anak akibat tidak didik dengan baik, peerceraian, dll. Masalah semacamnya memang umum terjadi di era Kapitalis, mengingat kebutuhan pokok bukan lagi menjadi jaminan negara, akan tetapi sudah menjadi bisnis yang menggiurkan.

Singkatnya, yang menjadi penyebab hancurnya keluarga adalah lemahnya penanaman takwa pada setiap individu, karena Syariat merupakan peraturan yang diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Jika semua masalah didudukan dengan Islam maka akan menjadi rahmat bagi seluruh alam dan seisinya. 

Dalam persoalan keluarga tadi, menurut Islam mencari nafkah bagi perempuan hukumnya mubah, sedangkan kewajiban yang tidak boleh dilalaikan adalah mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Namun bagi laki-laki maka diwajibkan untuk mencari nafkah bagaimanapun caranya asalkan sesuai Syariat. Dalam Islam juga, yang merupakan kebutuhan pokok haruslah dijamin oleh negara. Islam mewajibkan negara untuk mengelola sumber daya dan energi untuk kemaslahatan masyarakat, seperti dalam sabda Rasulullah Saw, "Kaum muslim beserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api." (HR. Abu Daud)

Lavia Sri Dayanti
 

0 Komentar