Cinta Rasulullah, Cinta Panji-Panjinya

06 April 08:14 | Dilihat : 783
Cinta Rasulullah, Cinta Panji-Panjinya Ilustrasi

Seorang muslim akan selalu menjadikan Rasulullah menjadi suri tauladan dalam setiap aktifitasnya. Rasa cinta dan rindu pada baginda Rasulullah Muhammad tak terbendungkan. Meski berbeda cara dan kadar masing-masing orang memaknai dan mengungkapkannya. Tapi semua sama yakni tertuju pada ingin mendapatkan ridha Allah dan Ridha Rasulullah.

Lalu bagaimana sebenarnya sikap kaum muslimin terhadap panji-panji Rasulullah? Hal itu terjawab dengan sikap Rasulullah dan para sahabat yang memberikan keteladanan dalam mengemban panji dan bendera Islam. Hal itu sebagaimana sikap Rasulullah kepada pemegang panji al-râyah ketika Perang Khaibar:

“Sungguh aku akan memberikan ar-Râyah ini esok hari kepada seseorang, yang ditaklukkan (benteng) melalui kedua tangannya; ia mencintai Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah akhirnya menyerahkan panji tauhid ini kepada ’Ali bin Abi Thalib. Bagaimana sikap para sahabat? bahwa mereka mengharapkan kemuliaan tersebut, yang juga menunjukkan agungnya kedudukan al-liwâ’ dan al-râyah dalam Islam.

Maka setiap stigmatisasi negatif dan kriminalisasi atas al-liwâ’ dan al-râyah, hakikatnya merupakan makar terhadap Allah dan Rasul. Ia merupakan kemungkaran yang harus diwaspadai kaum Muslim, wajib diluruskan, sehingga kaum Muslim tidak memandang al-liwâ’ dan al-râyah kecuali dengan pandangan Rasulullah dan para sahabatnya.

Kebutuhan adanya sinergi berbagai ormas Islam, para ulama, mubaligh, tokoh umat, pengusaha dan intelektual serta segenap elemen masyarakat dalam mengembalikan pemahaman masyarakat tentang Islam yang benar “Islam rahmatan lil alamin”. Yang pada akhirnya, kaum muslimin tergerak dan bangga untuk mengibarkannya kembali, dengan berjuang menegakkan kehidupan Islam, dalam naungan al-Khilâfah ’alâ Minhâj al-Nubuwwah yang berdiri di atas asas kalimat Lâ ilâha illâlLâh Muhammad rasûlulLâh.

Indha Tri Permatasari, S.Keb, Bd. 
Bidan, ibu dari dua anak di Surabaya
 

1 Komentar