Jeratan Narkoba Dunia Artis

03 April 11:22 | Dilihat : 734
Jeratan Narkoba Dunia Artis Ilustrasi

"...dan narkotika (tika), apapun jenismu tak akan kukenal lagi dan tak akan kusentuh lagi walau secui (secuil)."

Di atas adalah sepenggal lirik lagu "Miransantika" yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama. Seperti buah simalakama, lagu tersebut sekarang banyak dibicarakan karena putra dari si Raja dangdut terkena kasus narkoba. Sebagaimana diberitakan oleh banyak media masa pada  sabtu (25/3/2017) dini hari, penyanyi dangdut Ridho Rhoma putra dari Rhoma Irama ditangkap tim satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat disebuah hotel di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Polisi menemukan sabu seberat 0,7 gram di dalam paper bag warna cokelat yang disimpan di jok depan kiri mobil Honda Civic yang ditumpangi Ridho. Selain itu, ditemukan pula alat isap jenis bong.
Ridho mengaku menggunakan narkoba selama sekitar dua tahun. Menurutnya, dia menggunakan barang haram tersebut karena beban kerja. Alasannya supaya tidak cepat ngantuk.

Ini bukan kasus pertama, seorang publik figure terjerat kasus narkoba. Bahkan Anwar Fuadi yang pernah menjadi ketua Umum Persatuan Artis Sinetron (PARSI) mengatakan banyak artis terutama yang masih muda yang terjerat narkoba karena kebiasaan menikmati gemerlapnya dunia malam. 

Mungkin kita masih ingat beberapa kasus para artis. Misal, tertangkapnya aktor senior Roy Marteen yang kedapatan sedang mengkonsumsi narkoba. Pelawakpun tak ketinggalan terjerat narkoba, seperti Doyok dan Tessi yang terkenal dalam grup srimulat. Musik dan narkobapun kadang hidup "berdampingan". Meski tidak semua penyanyi terjerumus, tapi ada beberapa penyanyi yang pernah tertangkap tangan sedang menggunakan narkoba.  

Narkoba memang bisa menjerat siapa saja, dari anak kecil sampai orang dewasa, orang miskin juga orang kaya, dari orang biasa sampai artispun bisa menjadi pecandu barang haram tersebut.

Pandangan Islam

Narkoba dalam fiqh kontemporer disebut "al-Mukhaddirat". Dalam bahasa Inggris disebut "Narcotics".
Narkoba adalah masalah baru, yang belum ada pada masa imam-imam mazhab yang empat. Narkoba baru muncul di dunia Islam pada akhir abad ke-6 hijriyah. (Ahmad Fathi Bahnasi, Al-Khamr wa Al-Mukhaddirat fi Al-Islam, [Kairo:Muassasah Al-Khalij Al-Arabi], 1989, hal.155).

Narkoba apapun jenisnya, dalam pandangan Islam hukumnya HARAM. Nash yang mengharamkan narkoba, adalah hadits dengan sanad shahih dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah saw telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR. Abu Dawud no.3686)
Mufattir adalah zat yang menimbulkan rasa tenang atau rileks (Istirkha) dan malas (Tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal'ahjie, Mu'jam Lughah Al-Fuqoha, hal.342).

Secara fakta memang narkoba memiliki efek berbahaya:
1. Kehilangan kepercayaan diri, lemah.
2. Terjadi perubahan tingkah laku yang menjurus  kearah paranoid dan antisosial sebagai akibat rusaknya sel-sel saraf otak.
3. Gangguan konsentrasi belajar
4. Adiksi (ketagihan tinggi). 
5. Bahkan dapat menyebabkan kematian.

Sehingga sudah saatnya kita menyelesaikan permasalahan narkoba ini secara total atau menyeluruh dan melibatkan semua sektor. Pertama, secara individu harus mampu membentengi diri dari jerat narkoba. Tanamkan ketakwaan yang kuat kepada Allah swt dan Rasul saw, yakin bahwa Allah swt akan melindungi kita dari godaan-godaan yang bisa menjerumuskan kepada kebinasaan. Termasuk memahami bahwa setiap amal ada ganjaran di akhirat dan ada siksa yang pedih bagi yang melanggar.
Kedua, perlu adanya kontrol masyarakat yang ketat. 

Ketiga, perlu ada kekuatan dari penguasa untuk membuat dan menerapkan aturan dan sanksi yang tegas. Penguasa jangan setengah-setengah dalam memberikan sanksi baik bagi pemakai ataupun pengedar.

Tidak cukup hanya direhabilitasi saja, karena pada faktanya banyak orang yang terjerat kembali narkoba. Maka dengan ada sanski yang tegas orang akan berpikir dua kali untuk mencoba-coba barang haram tersebut.

Dalam Islam sanski bagi pengguna narkoba adalah TA'ZIR, yaitu sanski yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh Qodhi (hakim). Ta'zirnya bisa berbeda-beda sesuai tingkat kesalahan. Pengguna narkoba baru atau lama akan berbeda. Pengedar dengan pemilik pabrik narkoba akan berbeda pula sansksinya. Ta'zirnya bisa dicambuk, diasingkan, dipermalukan dengan dipublikasikan, didenda hingga hukuman mati.

Sumiyati 
Tinggal di Tanjungsari, Kab. Sumedang, Jawa Barat
 

1 Komentar