Stop Pendidikan Memproduksi Generasi Tawuran

16 Maret 09:41 | Dilihat : 709
Stop Pendidikan Memproduksi Generasi Tawuran Ilustrasi: Tawuran antarsiswa. [foto: mediaindonesia]

Dunia pendidikan Indonesia tidak henti-hentinya diuji dengan berbagai tingkah negatif yang dilakukan oleh pelajar maupun gurunya. Mulai dari keterlibatan pelajar dalam kasus narkoba, seks bebas, aborsi, pencabulan, dan kasus yang baru-baru ini terjadi lagi yaitu tawuran antarpelajar. Sebagaimana dilansir Republika Online, Senin 13 Maret 2017 dimana Sabtu, 11 Maret 2017 telah terjadi tawuran antar pelajar hingga menewaskan dua orang pelajar. Tawuran yang tejadi di kota Bekasi ini melibatkan empat nama sekolah. Betapa tidak pilu dan malu mendengar berita ini. Aksi bunuh antarpelajar telah terjadi. Keras dan beringas mungkin itulah gambaran sebagian pelajar yang ada saat ini. 

Sekulerisme Akar Penyebab Masalahnya

Sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini adalah sistem pendidikan sekuler kapitalistik. Sekulerisasi pendidikan bisa dilihat dari pemisahan antara lembaga pendidikan Islam dalam payung Kemenag dan lembaga pendidikan umum dalam payung Kemendikbud. Dari sisi kurikulum juga terlihat adanya sekulerisasi dengan diberikannya porsi yang sedikit untuk pelajaran agama, bahkan di perguruan tinggi pelajaran agama hanya ada di semester awal saja. Konten materi agama juga dalam sekup seputar akidah, ubudiyah, dan akhlak yang tidak menyentuh ranah politik Islam. Maka wajar jika generasi saat ini tidak paham sistem pemerintahan Islam dan kewajiban untuk menegakkannya. 

Sekulerisasi pendidikan juga tampak dari Ujian Nasional yang hanya melibatkan mata pelajaran umum meskipun bersekolah di lembaga pendidikan Islam. Selain ruh sekuler dalam muatan kurikulum juga terasa ruh kapital dalam dunia pendidikan saat ini. Hal ini bisa dilihat dari mahalnya biaya pendidikan khususnya biaya pendidikan tinggi. Berikutnya adalah beramai-ramainya lembaga pendidikan mengajak peserta didik untuk ber-entepreneurship yang akan mencetak lulusan menjadi pribadi berjiwa pekerja bukan ilmuwan. 

Kondisi pendidikan yang sekuler ini pada akhirnya menimbulkan beberapa akibat.  Pertama, konten materi agama yang diterima siswa tidak membekas dalam hidupnya. Kedua, Islam hanya dimaknai sebagai akidah spiritual semata sehingga pelajar buta akan politik Islam. Ketiga, kecintaan pelajar pada pelajaran umum begitu tinggi sehingga menggangap agama tidak berkontribusi terhadap kesuksesan dalam meraih pekerjaan dan kebahagiaan. Keempat, tingginya rasa cinta kepada dunia dan rendahnya pengorbaan untuk membela agama. Kelima, tercerabutnya kesadaran pada diri pelajar akan pengawasan Allah dan adanya alam pertanggungjawaban nantinya. 

Dari sini nampak bahwa sekulerisme mematikan potensi agama dalam diri pelajar. Bagaimana mereka akan berfikir Islami sedangkan dalam keseharian mereka diajari untuk tidak membawa agama dalam kehidupan sehari-harinya. Bagaimana mereka akan menyayangi sesama muslim sedangkan dalam kapitalisme diajari untuk bersaing meraih materi dan posisi diri. Maka wajar jika kemudian bermunculan group-group tawarun antara pelajar. Mereka bangga jika berhasil membuat yang lainnya jatuh bahkan hingga tewas. Jiwa kasar dan bringgas dalam diri pelajar telah mematikan pemikiran dan perasaan kasih dan sayang terhadap sesama saudara. 

Tinggalkan Sekulerisme dan Terapkan Pendidikan Islam

Bila cap sebagai penghasil generasi tawuran tidak ingin terus melekat maka harus ada perubahan mendasar dalam pendidikan di negeri ini. Sekulerisasi pendidikan harus dihentikan demikian pula penerapan sistem demokrasi. Sekulerisme adalah induk bagi demokrasi. Selama sekulerisme menjadi asasnnya maka sistem demokrasi beserta derivatnya akan  tetap bercokol di negeri ini sehingga kerusakan generasi tetap merajalela. 

Pendidikan Islam saja yang bisa melahirkan sosok pelajar yang khas dengan identitas keislamannya dan ketinggian ilmunya. Tsaqafah Islam menjadi muatan kurikulum yang selalu dibekalkan kepada pelajar di seluruh jenjang. Dengan demikian akan tercetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap Islami. Standar perbuatan mereka adalah halal haram, bukan lagi nafsu dan materi. Ilmu diamalkan untuk memakmurkan bumi bukan untuk eksploitasi guna meraih prestis pribadi. Demikian pula pergaulan antarteman dibangun di atas pijakan iman bukan persaingan. Keutuhan pribadi sebagai sosok agamawan dan ilmuwan melekat dalam pribadi pelajar muslim dalam sistem pendidikan Islam. 

Inilah tujuan yang akan diwujudkan dalam pendidikan Islam, yaitu mencetak pelajar yang bersyakhsiyah Islam (berkepribadian Islam), menguasai tsaqafah Islam dan menguasai sains, teknologi dan ketrampilan yang memadai sebagai bekal mengarungi kehidupan.  

Ketiga tujuan pendidikan ini akan tercapai dalam sistem pemerintah Islam (daulah Islam). Hal ini karena daulah Islam menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Sehingga setiap peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh daulah adalah didasarkan pada akidah dan syariat Islam. 

Dengan demikian sosok ilmuwan seperti Ibnu Sina, al Khawarismi, Lubna akan bermunculan kembali di abad modern ini. Sehingga bukan mustahil bila pernyataan tokoh Barat Gaston Wiet akan terulang lagi. Dia berkata, “Orang-orang di Barat seharusnya mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada para ulama dari periode Abbasiyah yang dikenal dan dihargai di Eropa selama Abad Pertengahan”.  Wallahua’alam.

Puji Astutik
Aktivis MHTI Surabaya

1 Komentar