Media Sosial dan Tawuran Antarpelajar

20 Februari 11:08 | Dilihat : 1081
Media Sosial dan Tawuran Antarpelajar Ilustrasi

 

Internet seolah menjadi raga kedua dalam kehidupan manusia saat ini. Dengan modal HP manusia bisa melakukan berbagai macam transaksi dan akses yang mendunia. Fasilitas media sosial telah menjadikan  pertemanan bisa dilakukan dimana-mana walau tanpa tatap muka. Kemudahan inilah yang mendorong manusia menjaring interaksi lewat dunia maya. Dari hasil survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada tahun 2016 mengungkap bahwa sekitar 132,7 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Pengguna dari kalangan pelajar 8,3 juta, dan dari kalangan mahasiswa mencapai 10,3 juta. (21/11/2016, isparmo.web.id).
 
Dari data di atas tampak bahwa pengguna dari kalangan pelajar atau remaja memiliki angka yang lumayan besar. Dengan fantasi media sosial yang mengiurkan tentu wajar jika banyak remaja yang terpikat. Apalagi usia remaja adalah usia dimana ingin mendapatkan posisi di kalangan teman-temanya. Lebel gaul dan keren dengan ber-medsos adalah salah satu gelar yang ingin mereka dapatkan. Makanya tak heran jika social life mereka sering diumbar di medsos. Keberanian mereka di media sosial terkadang berujung pada hal negatif semisal menjalin hubungan dengan orang yang me-maya-kan identitasnya sehingga mereka terjebak dengan kata-kata maya juga. 
 
Kasus pemanfaatan media sosial yang lebih parah lagi adalah sebagaimana yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini yaitu dibuatnya grup-grup bernuansa kekerasan. Semisal grup tawuran seperti @01gbg baswet, @Basis Strong Wania, @Basis Cirebon Strong dan Juga @Tawuran Antar Pelajar Cirebon (29/1/2017, m.okeazone.com). Para siswa ini memanfaatkan media sosial sebagai ajang untuk berkoordinasi terkait aksi tawuran yang akan mereka lakukan. Sungguh miris, mereka disekolahkan ternyata untuk menjadi seperti ini? 
 
Mencermati kondisi pelajar yang suka bermain-main dengan kekerasan ini pihak sekolah akan melakukan pendisiplinan baik dari sikap maupun pengawasan terhadap penggunaan gadget. Hal ini positif untuk dilakukan, akan tetapi belum menjadi solusi tuntas akan persoalan ini. Mengapa demikian? Sebab, maraknya tawuran di kalangan remaja ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. 
 
Faktor Pertama adalah faktor pelajar itu sendiri yang dalam dirinya sudah ada pemikiran untuk berbuat buruk. Dan hal ini adalah buah pergaulan dan juga pendidikan yang sekuler. Sehingga pelajar menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan akan tetapi akhlak dan perilakunya tidak diikat dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah Swt.  Padahal Islam telah menjelaskan bahwa setiap muslim adalah bersaudara,  dan diperintahkan untuk saling menyayangi bukan menganiaya. 
 
Faktor kedua adalah faktor kesempatan yang telah dibuka secara luas oleh sistem sekuler-liberal yang memuja kebebasan untuk berpikir, berbuat dan bertindak. Sistem ini yang telah menjadikan internet dengan segala fasilitasnya membebaskan manusia menggunaknnya untuk apa. Kontrol atas situs-situs negatif inipun masih sangat kurang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga grup-grup yang tidak benar bisa berseliweran di dunia maya.
 
Dengan demikian, penyelesaian secara komprehensif haruslah dilakukan. Penerapan sistem pendidikan dengan kurikulum yang kaaffah adalah suatu keharusan, yaitu kurikulum yang bervisi mencetak pelajar menjadi pribadi berkepribadian Islami, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta cakap dalam mengatasi problematika kehidupan yang berlandaskan pada Islam. Adapun kurikulum yang demikian ini akan bisa membuahkan hasil sebagaimana tujuannya apabila didukung oleh sistem pergaulan, ekonomi, dan politik yang sesuai dengan syariah Islam. Sehingga tidak cukup hanya dengan perbaikan sistem pendidikannya saja sedangkan pergaulannya berlandaskan kepada kebebasan. Demikian pula kran-kran kebebasan di dunia siber juga harus ditutup. Karena hakikat dari setiap perbuatan manusia itu terikat dengan hukum syara’ bukan hukum kebebasan. 
 
Maka dengan demikian penegakan kekhilafahan Islam yang menerapkan seluruh syariah Islam itu adalah amanah bersama seluruh umat manusia untuk menegakkannya. Karena hanya kekhilafahan Islam, sistem yang akan menerapkan hukum Allah dan akan membasmi kemaksiatan, menjaga kehormatan manusia dan memberikan rahmat keseluruh alam. Wallahua’lam.
 
Puji Astutik
Syabah HTI Chapter UIN Sunan Ampel Surabaya
1 Komentar