Haram Menjadikan Orang Kafir sebagai Pemimpin

Kamis, 01 September 2016 - 13:20 WIB | Dilihat : 15130
Haram Menjadikan Orang Kafir sebagai Pemimpin Ahok Musuh Islam

Menjelang Pilkada atau Pilpres, umat Islam telah mendapatkan ujian, khususnya dari mereka yang disebut orang berilmu, pasalnya mereka berani mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan Al Quran dan As Sunah serta yang disepakati sebagai ijmak. Segala dalil dikemukakan, bahkan ada yang jelas berani menyatakan, “Ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat Al Quran”. Dengan alasan itu, dia tidak lagi mengindahkan larangan Al Quran padahal dia mengklaim sebagai muslim. Larangan Al Quran, as sunnah dan ijmak pun mereka terjang, bahkan mereka tidak segan menyesatkan umat dengan mengatakan,”mana yang lebih baik, pemimpin muslim yang korup atau pemimpin kafir yang bersih?

Islam mensyaratkan pengangkatan pemimpin dan penguasa bagi kaum muslim. Islam mewujudkan tujuan yang ditetapkan oleh syariah. Pemmpin kaum muslim itu diangkat untuk menegakkan agama Allah, menegakkan syariah-Nya, mewujudkan amar makruf nahi mungkar, meninggikan kalimah-Nya serta mengatur urusan kaum muslimin baik dalam urusan agama atapun urusan dunia mereka. Dalam syariah, pemimpin (penguasa) diangkat untuk menerapkan syariah secara menyeluruh yang akan membuahkan rahmat untuk seluruh manusia sehingga akan terwujud Islam rahmatan lil alamin.
Betapa pentingnya tugas kepemimpinan bagi kaum muslim, maka bagaimana mungkin pemimpin kafir yang tidak mengimani Islam akan menegakkan tugas-tugas ini? Bagaimana mungkin pemimpin kafir yang tidak mengetahui dan meyakini mana yang makruf dan mana yang mungkar akan bisa menegakkan amar makruf nahi mungkar? Bagaimana mungkin pemimpin yang tidak mengetahui dan meyakini urusan keagamaan kaum muslim akan bisa mengurusi dan memperhatikan urusan kaum muslim? Maka jelaslah bahwa orang kafir tidak mungkin diangkat menjadi pemimpin bagi kaum muslim.
Dalam Al Quran, Allah SWT menegaskan keharaman orang kafir menjadi pemimpin bagi kaum muslim, yang artinya “Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum mukminin." (TQS An Nisa [04]: 141)
Ubaidilah bin Shamit ra menuturkan dari nabi saw. yang artinya “Hendaknya kita tidak mengambil alih urusan dari yang berhak.” Baginda bersabda,”kecuali jika kalian menyaksikan kekufuran yang nyata, sedangkan kalian mempunyai bukti yang kuat di hadapan Allah.” (HR. Al Bukhari)
Selain Al Quran, as Sunah dan Ijma', para ulama telah sepakat bahwa kepemimpinan itu tidak boleh diberikan kepada orang kafir, kalau tampak kekufuran pada dirinya maka wajib diganti. Karena itu merupakan kesalahan besar jika umat Islam menjadikanorang kafir sebagai pemimpin, karena telah jelas tidak adanya argumentasi syar’i yang bisa membenarkan pengangkatan pemimpin (penguasa) kafir atas kaum muslim. Wallahu a’lam bi ash shawab.
 
Irma Sukmawati
Jatinangor Sumedang
 
0 Komentar