"America First" yang Mengisolasi AS

13 Februari 15:45 | Dilihat : 292
Ilustrasi (Foto : Anadolu)

Hussain Abdul-Hussain
Analisis politik berbasis di Washington, penulis untuk New York Times, Washington Post, dan koran Kuwait Al-Rai.

Hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato tentang keamanan nasional, di mana dia lagi-lagi mengulang jargon “American First” andalannya, Majelis Umum PBB menyetujui resolusi yang mengakui kedaulatan Yerusalem. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Amerika sesungguhnya bukan yang “pertama”, namun sendirian dan terisolasi.

Dengan 128 negara memberi suara menentang AS, dan hanya selapan negara mendukungnya, warga AS pun menyaksikan Trump seakan menembak kakinya sendiri.

Mungkin pengetahuannya yang buruk dan kurangnya pengalaman Trump akan kebijakan luar negeri yang membuat dia melakukan kecerobohannya itu. Bagaimanapun, kedaulatan Yerusalem bukanlah “masalah mendesak” sampai Trump menyatakan sebaliknya dalam pidato pengakuannya yang ambigu. Saat itu, Trump mengakui Yerusalem – tanpa menjelaskan apakah yang dimaksudnya adalah Timur, Barat, atau seluruh wilayah – sebagai ibu kota Israel.

Dalam pidatonya tentang Yerusalem, Trump terdengar sangat amatir, terutama ketika dia mengucap pemerintahannya akan mencari kontraktor, insinyur, dan arsitek untuk memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Insinyur dan arsitek memang penting, bila Anda bergerak di bisnis real estate, namun artinya sangat kecil di percaturan politik internasional. Hanya Trump seorang yang sepertinya tak paham bahwa pidatonya soal Yerusalem tak ada substansinya.

Namun sepertinya, Trump salah memperhitungkan langkahnya soal Yerusalem. Baginya, pidato ambigu ini mungkin memenangkan dukungan dari pemeluk Kristen sayap kanan dan Yahudi di AS, dukungan yang dicarinya untuk maju dalam pemilihan umum 2020. Trump sepertinya tak menyadari, kata-katanya dianggap serius dalam konteks hubungan internasional.

Trump rupanya tak belajar dari kemarahan dunia internasional yang mengikuti pidatonya menyangkut Yerusalem. Dia malah meneruskan dengan mengancam akan mengurangi dana bantuan AS ke negara-negara yang menyetujui resolusi Majelis Umum PBB, di mana dunia mengakui Yerusalem adalah wilayah yang sedang diperebutkan, ketimbang mengakuinya sebagai ibu kota Israel.

Presiden AS lagi-lagi seakan tidak sadar bahwa – bila ancamannya tak digubris – maka ini membuat AS dan dirinya tampak lemah, ironisnya kelemahan adalah imaji yang dibenci Trump.

Mereka yang dengan teliti membaca dua pidato Trump, yang pertama tentang Yerusalem dan kedua tentang keamanan nasional AS, dapat meramalkan kekalahan diplomasi AS di dalam organisasi internasional yang bertempat dan mendapat kucuran dana besar dari AS.

Di sisi lain, peristiwa ini menjadi satu lagi contoh tipikal dari Trump dan jajaran pemerintahannya, di mana Presiden AS mengatakan satu hal dan pada saat bersamaan bawahannya mengatakan hal lain yang berlawanan. Bahkan setelah Trump “mengakui” Yerusalem sebagai ibu kota Israel, beberapa dokumen di Kementerian Dalam Negeri tetap merujuk Yerusalem Timur dan Tepi Barat sebagai “wilayah yang disengketakan”.

Selanjutnya, sehari setelah pemerintah negara-negara penerima dana bantuan AS yang memberi suara menentang Paman Sam, Kementerian Dalam Negeri AS mengatakan Washington tak ada rencana menahan dana bantuan ke negara-negara tersebut. Kenyataan ini sekali lagi menandakan bahwa pernyataan Trump sekadar kata-kata belaka, tanpa efek betulan di kehidupan nyata.

Sejak Trump mengumumkan pencalonannya di bursa pemilihan presiden, dengan didampingi sosok “populis ekonomi” dan mantan kepala strategisnya, Steve Bannon, Trump sudah berkali-kali mengeluarkan retorika yang lebih mirip imajinasi ketimbang betulan.

Bahkan lebih parah, ide “America First” yang dilemparkan Bannon dan Trump mendobrak perspektif tradisional soal Amerika dan perannya di dunia.

Para pendiri Amerika, kebanyakan dari mereka adalah anggota Freemason dan kelompok persaudaraan yang sama, selalu membangga-banggakan diri sebagai keturunan dari para Mason lain yang membangun peradaban dunia, seperti Mesir dan Israel. Mereka, para pendiri Amerika itu, memiliki visi negaranya sebagai kemaharajaan terakhir, dan sumber pencerahan serta peradaban untuk seluruh dunia. Pemikiran ini pernah dikemukakan oleh mantan Presiden Republikan Ronald Reagan yang menyebut Amerika sebagai “kota yang bersinar di atas bukit”.

Reagan didewa-dewakan oleh nyaris seluruh pendukung Partai Republik, termasuk Trump, yang menyitir kalimat yang dipopulerkan oleh Reagan untuk slogan kampanye pemilihan presidennya. Adalah Reagan yang pertama kali memakai slogan “Let’s Make America Great Again”. Sejauh ini, Trump bahkan seakan mengikuti jejak Reagan: Dengan menurunkan pajak dengan drastis sampai setara dengan pajak 1986, Trump membentuk citra diri bahwa dia adalah Reagan.

Namun seperti halnya hal-hal lain tentang Trump, emulasi dirinya akan sosok Reagan tampak sangat dangkal. Liberalisasi ekonomi dunia dan asas perdagangan bebas adalah satu dari beberapa pilar utama yang menjadi kekuatan ekonomi Reagan-Thatcher. Trump, sebaliknya, telah berkali-kali mendeklarasikan pendiriannya yang anti perdagangan bebas, dan mengagung-agungkan perlindungan dan tariff.

Segi lain di mana Trump dan Reagan sangat bertentangan – mungkin tanpa disadari oleh Trump – adalah soal kebijakan luar negeri. Reagan senantiasa memastikan bahwa hubungan AS dengan sekutu-sekutunya tetap kuat. Hubungan Reagan dengan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher adalah aliansi terkuat di antara dua negara dalam sejarah modern.

Reagan juga adalah seseorang yang pintar merayu sekutu-sekutu lain. Saat dia hendak memberangkatkan Angkatan Laut ke Beirut untuk mengawasi relokasi para pejuang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ke Tunisia, dia memastikan bahwa sekutu AS lainnya – Prancis dan Italia – juga mau mengirimkan pasukan mereka ke Lebanon untuk tujuan yang sama. Ketika Reagan berencana mengalahkan Uni Soviet di Afganistan melalui dukungan pada pejuang Mujahiddin, dia melakukannya dengan koordinasi rapat dengan Arab Saudi.

Trump sepertinya tak mengerti pentingnya membangun aliansi di panggung internasional, bahkan untuk negara adikuasa seperti AS. Sebaliknya, Trump justru merundung para sekutu dan mengeluarkan retorika-retorika keras. Sejauh ini, gaya Trump hanya banyak kata dan sedikit aksi.

Trump percaya dia bisa mengembalikan kejayaan AS seperti kala di bawah pimpinan Reagan. Dengan alasan itu dia memakai moto Bannon, “America First.” Tapi karena kurangnya pengalaman, Trump dan Bannon malah membuat Amerika sendirian dan terisolasi di tatanan panggung dunia, alih-alih membuat negara ini yang “pertama”.

Sumber: Anadolu

0 Komentar