Ancaman LGBT Bukan Mimpi

01 Februari 21:18 | Dilihat : 542
Ancaman LGBT Bukan Mimpi Ilustrasi

Ummu Naflah
Muslimah Peduli Generasi, tinggal di Tangerang

Pro dan kontra mengenai LGBT makin panas. Apalagi setelah publik dikejutkan dengan pernyataan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Zulkifli Hasan bahwa saat ini sudah ada lima fraksi di DPR RI yang menyetujui perilaku L6BT berkembang di Indonesia (Republika.co.id, 20/1/2018). Walaupun pernyataan tersebut langsung mendapat bantahan dari perwakilan tiap-tiap fraksi di DPR, salah satunya dari Wakil Ketua Badan Legislasi DPR, Firman Subagyo. Menurutnya, sampai saat ini DPR RI belum pernah membahas pasal LGBT dalam RUU KUHP (tribunnews.com, 21/1/2018).

Terlepas polemik pernyataan Ketua MPR, Zulklifi Hasan mengenai LGBT. Faktanya perdebatan mengenai LGBT masih bergulir di DPR. Perbedaan pandangan ini terkait perlukah L6BT dipidana jika pelakunya sama-sama orang dewasa, sedangkan sebagian yang lain memandang baru termasuk kategori pidana jika korbannya adalah anak-anak. Sementara tak sedikit pula yang memandang bahwa L6BT adalah hak asasi manusia yang harus diakui eksistensinya.

LGBT Didukung, Generasi Terancam

Menjadi rahasia publik bahwa rezim ini cenderung mendukung eksistensi LGBT. Luhut Binsar Panjaitan yang dikala itu masih menjabat sebagai Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kaum L6BT juga merupakan warga negara Indonesia yang memiliki hak untuk dilindungi (antaranews.com, 12/2/2016).

Bahkan Presiden Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan BBC di Solo pada tahun 2016 mengatakan tak ada diskriminasi terhadap kaum minoritas di Indonesia, dan jika ada yang terancam karena seksualitasnya, polisi harus bertindak melindungi mereka (bbc.com, 19/10/2016).

Hal senada dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang meminta seluruh umat beragama tak mengucilkan dan menjauhi para pelaku L6BT serta pelaku kumpul kebo. Menurut Lukman, mereka seharusnya dirangkul dan diayomi (tempo.co, 19/12/2017).

Menguatnya dukungan dan belum adanya pidana tegas membawa angin segar bagi L6BT. Mereka mulai tak malu-malu lagi menunjukkan diri di hadapan umum. Kasus-kasus penggerebekan pesta seks sesama jenis pun kian marak diberitakan oleh media nasional. Awal Januari 2018 saja publik sudah dikejutkan dengan berita penggerebekan pesta seks sesama jenis di kawasan Villa Green Apple Garden, Cianjur yang dilakukan oleh Reserse Polres Cianjur (detik.com, 14/1/2018). Kasus prostitusi sesama jenis yang menghebohkan publik pun pernah diungkap oleh Polres Jakarta Pusat pada bulan Oktober 2017. Tercatat 7 orang karyawan dan 50 orang tertangkap sebagai pelaku L6BT di tempat sauna di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat.

Dunia maya pun dijadikan tempat eksis kaum LGBT. Munculnya grup-grup komunitas L6BT di media sosial menjadi topik sensitif di beberapa daerah di Indonesia, seperti Bontang, Depok, Malang, Purwakarta, dan Pontianak. Kini applikasi kencan sesama jenis pun dengan mudahnya diakses bebas. 

Sungguh ancaman LGBT bukan isapan jempol, bukan pula mimpi di siang bolong, tapi nyata di hadapan kita. Parahnya bukan hanya generasi muda kita yang menjadi sasaran tapi juga anak-anak kita. Sedihnya ancaman serius ini seolah-olah hanya dipandang sebelah mata oleh para penguasa. Perdebatan tak kunjung usai, sementara masa depan generasi bahkan bangsa ini sedang dipertaruhkan dalam dekapan syahwat kaum LGBT.

Gerakan Global Kaum Sodom

Sepak terjang kaum LGBT untuk memperoleh legalitas di Indonesia pun semakin masif dilakukan. Para tokoh liberal tak segan-segan menunjukkan dukungan nyata terhadap kaum Sodom ini. Mereka menjadi corong-corong kepanjangan suara kaum LGBT di ranah publik. Lihatlah bagaimana Ade Armando, Cita Cania dan Aan Anshori membela mati-matian eksistensi kaum Sodom agar diakui. Ayat-ayat suci pun ditafsirkan dengan logika mereka sendiri untuk meyakinkan umat bahwa LGBT adalah fitrah dari  Al-Khaliq. 

Gerakan LGBT bukanlah gerakan yang ecek-ecek. Mereka terorganisir dan terencana. Gerakan mereka bersifat global dan didukung Barat. Tujuan tidak lain menghancurkan Islam melalui gaya hidup yang menganut liberalisme dan hedonisme. Mereka membangun opini bahwa L6BT adalah gaya hidup zaman now sebagai ekspresi dari kebebasan individu. Maka dieksporlah gaya hidup rusak ini ke negeri-negeri muslim melalui dunia hiburan di mana paham kebebasan tumbuh subur di dalamnya. 

Strategi Barat ini tidaklah main-main. Diungkapkan Prof. Mahfud MD, ada dana sekitar US$180 juta, atau setara Rp2,4 triliun masuk ke Indonesia dari organisasi luar negeri untuk meloloskan zina dan L6BT boleh ada di Indonesia (viva.co.id, 20/12/2017). Dana yang kemudian diketahui berasal dari Badan PBB United Nations Development Programme (UNDP) tersebut tidak lain ditujukan agar kaum Sodom memiliki legalitas hukum, mendorong masyarakat agar mengakui L6BT, mengakui hak-hak LGBT serta melegalkan nikah sesama jenis.

Ancaman gerakan LGBT bukanlah ancaman biasa. Gerakan L6BT adalah sebuah ancaman serius bagi masa depan negeri dan generasi ini. Kerusakannya telah nyata kita rasakan. Umat pun dibayang-bayangi dengan kehancuran tatanan keluarga, penyakit menular seksual yang mengerikan dan lost generation akibat gaya hidup rusak kaum LGBT.

Gerakan LGBT Hadapi dengan Islam Kaffah

LGBT jelas menyimpang dari fitrah manusia. LGBT bukan penyakit, kelainan, atau pun turunan. LGBT adalah perbuatan hina yang dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth.”

LGBT adalah perbuatan mungkar yang pernah dilakukan penduduk Sodom kaum Nabi Luth ‘Alaihissallam. Karena itu wajib bagi umat menolak LGBT. Haram memberikan dukungan dan perlindungan bagi kaum LGBT. Dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala terbuka lebar bagi mereka yang bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Sedangkan bagi pelaku LGBT yang terus melakukan perbuatan hinanya, maka sesungguhnya hukuman yang keras telah menanti. Ibnu Abbas ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Siapa saja yang kalian dapati mempraktikkan perbuatan kaum Luth, bunuhlah pelaku dan pasangannya” (HR Ibnu Majah).

Tentunya sebagai gerakan global yang digunakan Barat untuk menghancurkan Islam dengan strategi yang terorganisir dan terencana, kita tidak dapat menghentikan gerakan ini hanya dengan upaya dan kekuatan yang seadanya. Apalagi Barat telah mengucurkan dana besar untuk melibatkan dan menempatkan agen-agen mereka di tengah umat untuk mengkampanyekan LGBT. Karena itu dibutuhkan kekuatan besar pula untuk membendung bahkan menghentikan gerakan LGBT. 

Kekuatan besar ini akan muncul jikalau negeri ini mencampakan sistem sekularisme yang menjadi induk kerusakan negeri ini. Sistem jahiliah yang telah berhasil menyuburkan liberalisme yang menjadi kiblat gerakan L6BT. Mencabut sampai ke akarnya serta menggantinya dengan menerapan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan dalam bingkai Khilafah. Khilafah inilah yang akan membendung bahkan menghentikan laju gerakan LGBT dengan solusi berasaskan Kitabullah dan As-Sunnah, yang akan memberikan perlindungan bagi seluruh umat. Obat mujarab dari berbagai problematika umat masa kini.

Tentunya bukan dengan berdiam diri, tapi butuh kerja keras dan persatuan umat ini. Karena khilafah adalah mahkota kewajiban yang membutuhkan daya dan upaya dari seluruh komponen umat ini. Bukan saatnya meneruskan perdebatan dan dukungan terhadap gerakan LGBT. Segera satukan langkah menyongsong kebangkitan Islam karena negeri tercinta dan generasi terbaik kita menunggu untuk diselamatkan. Wallahu’alam bishshawwab.

0 Komentar