Derita Papua di Balik Pencitraan

24 Januari 15:15 | Dilihat : 1882
Derita Papua di Balik Pencitraan Ilustrasi; anak-anak Papua.

Ummu Naflah
Muslimah Peduli Negeri, tinggal di Tangerang


“Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan.” (Umar bin Khaththab -Radhiyallahu’anhu- )

Suatu ketika Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu keluar malam ditemani oleh Aslam Radhiyallahu’anhu. Di tengah perjalanan ditemuinya seorang perempuan dan anak-anaknya sedang menangis karena kelaparan. Maka Umar Radhiyallahu‘anhu menangis, hatinya sedih dan takut menyaksikan sendiri rakyatnya kelaparan di tengah malam yang gelap gulita. 

Ia  pun segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia keluarkan sekarung gandum dan seember daging. Ia pikul  sendiri karung gandum tersebut di pundaknya dan bergegas kembali ke tempat perempuan dan anak-anaknya tadi. Dimasaklah gandum dan daging tersebut di dalam periuk dengan kedua tangannya, menghidangkannya ke dalam piring kemudian menyuruh sang ibu dan anak-anaknya makan. Belum tenang hati Umar Radhiyallahu’anhu sampai ia  melihat dengan matanya sendiri anak-anak sang ibu tertidur pulas. Setelah Umar Radhiyallahu’anhu memberikan nafkah kepada mereka, ia pun kembali ke Madinah.

Sungguh luar biasa kisah Umar bin Khaththab dalam melayani dan mengayomi rakyatnya. Kisah diatas hanya secuil cerita Amirul Mukminin Umar bun Khaththab Radhiyallahu’anhu yang mencurahkan seluruh pikiran, tenaga, harta dan waktunya bahkan jiwa dan raganya siap ia korbankan demi melindungi dan menjaga rakyatnya. 

Derita Tanah Kaya Papua

Sungguh sangat kontras dengan sikap penguasa di negeri ini. Sebagaimana diberitakan, sebanyak 24 anak meninggal akibat kejadian luar biasa campak disertai gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua, dalam empat bulan terakhir. Jumlah korban bisa bertambah karena Pemerintah Kabupaten Asmat masih melakukan pendataan. Ada lima distrik di pedalaman yang terserang campak dan gizi buruk, yakni Swator, Fayit, Pulau Tiga, Jetsy, dan Siret. 

Kepala Bidang Pencegahan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Papua Aaron Rumainum mengatakan, KLB campak terjadi di Asmat sejak Oktober 2017. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, sejak Oktober 2017 hingga Januari 2018, tercatat 171 anak dirawat inap dan 393 anak dirawat jalan di RS Agats karena terkena campak (rmol.co, 14/1/2018 ).

Kasus di atas hanya sedikit dari penderitaan yang dirasakan oleh penduduk Papua. Diungkapkan oleh Natalius Pigai, secara fakta sebelumnya telah terjadi beberapa tragedi kemanusiaan terbesar di Papua. Mulai dari Kasus Paniai, 8 Desember 2014 yang tak berujung. Adanya penangkapan, penahanan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap lebih dari 6 ribu orang Papua. Rentetan kematian bayi di Papua yang terjadi sepanjang tahun 2015 sampai 2017 yang disebabkan oleh penyakit busung lapar dan kurang gizi, masih meninggalkan misteri dengan kematian 71 bayi kecil di Kecamatan Mbuwa, Kabupaten Nduga dan kematian 60 bayi di Kabupaten Deiyai (portalnegeri.com, 24/1/2018 ).

Miris, mengingat tanah Papua yang kaya akan sumber daya alamnya, sementara rakyatnya hidup dalam derita. Sementara di satu sisi, penguasa dengan tipu daya membangun pencitraan demi menutupi masalah serius yang tengah menimpa rakyat Papua. Benarlah apa yang disampaikan oleh Natalius Pigai, rakyat Indonesia telah ditipu dengan suguhan informasi pencitraan yang berlebihan tentang pembangunan di tanah Papua. Adanya pembangunan jalan, jembatan, gedung pencakar langit, jembatan yang melintasi laut, jalan bebas hambatan dan rel kereta ditampilkan hanya untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya di wilayah paling timur Indonesia.

Faktanya penderitaan rakyat Papua tak kunjung padam. Sumber daya alamnya dikuras habis-habis untuk para kapitalis. Emas, nikel, tembaga dan mineral lainnya dijarah dibawa keluar negeri. Sementara rakyat Papua yang mendapati lingkungannya tercemar akibat dampak eksploitasi sumber daya alamnya oleh asing, dibayang-bayangi dengan berbagai persoalan penyakit, kurang gizi, busung lapar dan ancaman diskriminasi. Ibarat tikus mati dilumbung padi itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi rakyat Papua saat ini. Padahal sejatinya kekayaan yang melimpah itu adalah milik rakyat Papua. 

Kapitalisme Biang Kerok

Perlu peran negara dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan di Papua. Tidak sekedar mengirimkan obat-obatan, makanan dan tenaga medis saja. Karena akar masalah di bumi Papua adalah akibat sistem kapitalisme yang diadopsi oleh rezim dan tidak meratanya distribusi kekayaan. Penguasa yang pro kapitalisme telah membuat sumber daya alam Papua dikuasai dan dikuras oleh para kapitalis asing. Sementara rakyat Papua tak berdaya karena semua didukung dengan kebijakan dan undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang pro kapitalis. 

Hal ini diperparah dengan tidak meratanya distribusi kekayaan yang ada di nusantara. Sumber kekayaan yang ada di dalam dan di atas bumi nusantara hampir 80 persennya dikuasai dan dimiliki asing termasuk tanah Papua. Perut para kapitalis semakin kenyang, tidurnya semakin pulas dengan hasil menguras kekayaan milik rakyat. Sedangkan rakyat Papua, perutnya semakin besar bukan karena kekenyangan tapi karena busung lapar. Bayi-bayinya menangis tak dapat tidur karena menahan lapar dan kurang gizi. Belum lagi rusaknya lingkungan akibat  eksploitasi alam, mengundang berbagai penyakit yang diderita rakyat Papua. Dosa besar bagi penguasa yang membiarkan satu saja rakyatnya mati kelaparan sementara kekayaan alamnya gemah ripah loh jinawi.

#SavePapua

Rakyat Papua adalah saudara kita, derita Papua adalah derita kita. Geliat Islam di tanah Papua yang semakin tumbuh subur, semakin merekatkan pula ukhuwah diantara kaum muslimin. Maka menjadi perhatian kita untuk mencari solusi bersama atas tragedi yang kini menimpa Papua.

Dalam Islam, menjadi kewajiban kepala negara dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Khalifah wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya tanpa memandang agama, suku dan rasnya. Baik sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan menjadi tanggung jawab khalifah terhadap rakyatnya. Bahkan khalifah tak akan membiarkan burung-burung yang terbang melewati wilayahnya kelaparan. Besarnya perhatian dan penjagaan khalifah terhadap rakyatnya didasari keimanan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta mengingatnya besarnya konsekuensi yang akan diterima oleh seorang kepala negara yang abai terhadap urusan rakyatnya dihadapan-Nya kelak. “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam juga menjaga kekayaan alam beserta isinya agar tidak dikuasai dan dimiliki oleh asing. Agar berjalan distribusi kekayaan yang merata dan dirasakan penggunaan seluruhnya demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Karena sejatinya kekayaan alam tersebut adalah milik umat. “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara,yaitu: padang rumput, air dan api. (HR. Abu Dawud ). Dan mennjadi tanggung jawab negara untuk mengolah dan mendistribusikan hasil dan manfaatnya untuk kemakmuran rakyat.

Rakyat Papua akan menjadi tuan di tanahnya sendiri, hidup makmur dan sejahtera karena seluruh kekayaan alamnya dikelola dengan penuh amanah oleh khalifah. Khalifah tak akan membiarkan satu nyawa bayi melayang menjadi korban kelaparan, sebagaimana Umar Radhiyallahu’anhu tak membiarkan rakyatnya kelaparan di tengah malam gulita. Tidak akan membiarkan dirinya tidur sementara rakyatnya tak dapat tidur karena kelaparan.

Dan semua itu dapat terwujud jikalau Islam diterapkan secara kaffah dalam bingkai khilafah. Bukan dalam sistem kapitalisme yang mencengkeram Papua dengan derita panjang tak berkesudahan, sementara penguasanya berlindung di balik pencitraan. Wallahu’alam bishshawwab.

0 Komentar