Pemimpin Tulus dan Amanah, Bukan Sekadar Pencitraan

12 Januari 15:21 | Dilihat : 886
Pemimpin Tulus dan Amanah, Bukan Sekadar Pencitraan Presiden Jokowi jalan-jalan di Malioboro, Yogyakarta.

Ariefdhianty Vibie
Pengamat Sosial Politik

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Jokowi beserta anak, cucu dan menantunya blusukan ke Pasar Malioboro Yogyakarta. Dalam kunjungannya itu, Presiden Jokowi tampak mengenakan kaos oblong berwarna merah. Sontak, kehadirannya membuat para pedagang, pengunjung dan warga di sekitar Pasar Malioboro terkejut. Tak heran di sepanjang jalan menyusuri kawasan Malioboro, Jokowi tak luput dari permintaan jabat tangan dan selfie. Dalam kesempatan itu juga, Jokowi sesekali berbincang dengan beberapa pedagang kaki lima, serta sempat membeli beberapa pasang sandal dan kaos (nasional.tempo.co, 31/12/17).
                
Presiden Indonesia yang satu ini memang gemar sekali blusukan, bahkan semenjak dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Blusukan tentu menjadi pencitraan Jokowi yang terlihat merakyat di mata masyarakat. Namun ironis, aksi blusukan presiden kita ini sama sekali jauh dari berbagai kebijakannya yang menusuk hati rakyat. Misalnya saja, pencabutan subsidi di beberapa sektor migas dan listrik, sehingga membuat harga gas dan listrik melambung tinggi. Amnesti atau pengampunan pajak untuk para koruptor dan pengemplang pajak. Harga kebutuhan yang terus merangkak naik, bahkan cabe mencapai harganya yang tertinggi sepanjang sejarah. Belum lagi utang negara yang terus bertambah. Apakah pencitraan yang diciptakan oleh para penguasa negeri ini masih bisa mengelabui rakyat?
                
Sudah seharusnya masyarakat menyadari bahwa pemimpin yang masih terjerembap dalam sistem demokrasi tidak akan membawa perubahan yang signifikan, melainkan pada semakin bobroknya negeri ini. Allah berfirman dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 58, “Sungguh Allah menyuruh kalian untuk memberikan amanah kepada ahlinya”. Kepemimpinan atas negeri ini adalah amanah besar bagi seorang pemimpin untuk mengurus segala urusan rakyat. Pemimpin adalah pelayan bagi umat, bukan sebaliknya. “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus,” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Mengurusi kemaslahatan rakyat yang menjadi amanah seorang pemimpin tentu harus sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya (syariah Islam). Karena itu selalu merujuk pada syariah Islam dalam mengurus semua urusan rakyat adalah wajib. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah)…” (TQS. al-Nisa’ [4]: 59).

Imam al-Qurthubi berkata, “Setelah ayat sebelumnya (QS an-Nisa’ [4]: 58) memerintahkan para penguasa untuk menunaikan amanah dan mengatur urusan masyarakat dengan adil, ayat ini diawali dengan perintah kepada rakyat agar: Pertama, menaati Allah SWT dengan cara melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, menaati Rasul-Nya, yakni dalam semua hal yang beliau perintahkan maupun yang beliau larang. Ketiga, menaati para pemimpin.”

Dengan demikian amanah untuk mengurus semua kemaslahatan rakyat tidak boleh didasarkan pada aturan-aturan kapitalis sekular—sebagaimana yang terjadi saat ini—yang dasarnya adalah hawa nafsu dan kepentingan sesaat. Allah Swt jelas mencela segala tindakan yang bersumber dari hawa nafsu manusia: “Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya…” (QS. al-Kahfi [18]: 28). Apalagi membalutnya dengan berbagai pencitraan yang diberitakan oleh media sekuler seolah-olah penguasa negeri ini merakyat padahal menzalimi rakyat.

Oleh karena itu, masyarakat haruslah menyadari bahwa mereka mesti memilih pemimpin amanah yang akan menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah, Ijmak Sahabat, serta Qiyas secara sempurna. Pemimpin yang amanah bukan sekedar pencitraan, melainkan ia akan secara ikhlas dan tulus menjalankan tugasnya untuk melayani rakyat demi menjauhkan diri dari azab Allah yang pedih, karena ia menyadari bahwa tanggung jawabnya di sisi Allah amatlah besar. Wallahu’alam bi ash-shawab.

0 Komentar