Cahaya Islam Menerangi Langit Eropa

Kamis, 28 Desember 2017 - 10:49 WIB | Dilihat : 2816
Cahaya Islam Menerangi Langit Eropa Ilustrasi: Umat Islam di Eropa

Ariefdhianty Vibie H. 
(Pengamat Sosial dan Politik)

Pew Research Center, sebuah lembaga think tank Amerika, dalam studinya mengemukakan bahwa perkembangan Islam di Eropa akan meningkat dua kali lipat hingga 2050 mendatang. Lembaga tersebut telah melakukan survey kepada 28 negara Uni Eropa, serta Swiss dan juga Norwegia. Ada tiga skenario yang digunakan. Pertama, pertumbuhan populasi biasa, artinya tanpa imigran dan pengungsi. Kedua, pertumbuhan populasi dengan migrasi sedang dan ketiga, perumbuhan populasi dengan migrasi dan arus pengungsi. 

Dalam skenario zero migration, populasi muslim di Eropa diperkirakan meningkat dari 4,9 persen menjadi 7,4 persen. Selain Siprus -- yang memiliki jumlah muslim yang tinggi (25,4 persen) karena sejarah keberadaan keturunan Turki di utara pulau itu-- Prancis akan memiliki pangsa populasi muslim besar di Eropa dengan 12,7 persen, naik dari 8,8 persen. Dalam skenario migrasi menengah - yang paling mungkin terjadi - Swedia akan memiliki pangsa populasi muslim terbesar di 20,5 persen. Inggris akan meningkat dari 6,3 persen pada 2016 menjadi 16,7 persen. Sementara itu, muslim Finlandia akan tumbuh dari 2,7 persen menjadi 11,4 persen dan sebagian besar negara Eropa bagian barat akan menghadapi lompatan besar. Jika migrasi tinggi berlanjut sampai 2050, pangsa muslim Swedia akan tumbuh menjadi 30,6 persen, lalu Finlandia sampai 15 persen, dan Norwegia mencapai 17 persen (news.detik.com, 01/12)

Terlepas dari migrasi, jumlah umat Islam di Eropa dipastikan akan tumbuh dengan pesat melalui peningkatan yang alami. Muslim Eropa memiliki lebih banyak anak daripada anggota kelompok agama lain, atau orang-orang yang tidak beragama, demikian hasil penelitian tersebut. Tingkat kesuburan rata-rata Eropa adalah 2,6 untuk umat Islam dibandingkan dengan 1,6 untuk non-muslim. Populasi muslim juga jauh lebih muda dari non-muslim. Proporsi muslim di bawah usia 15 tahun adalah 27 persen, hampir dua kali lipat proporsi di bawah 15 tahun orang non-muslim yang sebesar 15 persen. Survey ini menunjukkan bahwa populasi Kaum Muslimin di Eropa akan mendominasi di 10 tahun kedepan. (global.liputan6.com, 30/11)

Masuknya Islam di Eropa pada Masa Khilafah

Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur Afrika Utara di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad yang memimpin angkatan perang Islam untuk membuka Andalusia. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). 

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Sedangkan Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya menaklukkan kota-kota penting seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu).

Dari ekspansi inilah, Islam memasuki Eropa yang kala itu sedang berada dalam zaman kegelapan (Dark Age). Kota-kota mereka kotor dan kumuh. Masyarakat mereka miskin, sakit, dan menderita akibat pajak. Aqidah agama mereka tergerus oleh sikap intoleran para penguasa kerajaan yang memaksakan keyakinan pada setiap penduduknya. Kedatangan Islam seperti angin segar bagi para penduduk Spanyol kala itu. Islam tidak memaksakan keyakinan para penduduk Spanyol yang kebanyakan beragama Nasrani dan Yahudi. 

Islam membawa cahaya dan kemakmuran di Spanyol di bawah naungan kekhilafahan Bani Umayyah dan Abbasiyyah. Bahkan, Spanyol menjadi pusat peradaban Islam nan megah. Sejak pertama kali Islam menginjakkan kakinya di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana sekitar tujuh setengan abad lamanya, Islam memainkan peranan yang besar, baik dalam bidang kemajuan intelektual (filsafat, sains, fikih, kesenian, bahasa dan sastra), kesejahteraan hidup di bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, serta  kemegahan bangunan fisik dan taman-taman kota yang indah dan bersih, tepatnya di Cordova dan Granada. Spanyol juga memiliki perpustakaan besar yang bisa diakses oleh siapa pun yang ingin mencari ilmu, tak terkecuali orang-orang Eropa di luar Spanyol, dimana ketika itu mereka masih berada dalam kegelapan ilmu akibat dogma gereja. Islam menerangi Spanyol yang saat ini termasuk ke dalam bagian wilayah Eropa Selatan selama kurang lebih tujuh abad. 

Berkat tegaknya syariat Islam, Spanyol yang berada di dalam masa kegelapan bisa menjadi terang. Begitu pula dengan negara-negara yang dahulu bersatu di bawah naungan kekhilafahan. Islam menjadi pemersatu berbagai bangsa, kaum, etnis, budaya, dan negara melesat maju dalam peradaban manusia di dunia selama kurang lebih 1300 tahun. Namun, adanya upaya konspirasi para pembenci Islam dan kaum munafik, serta lemahnya penjagaan atas penerapan syariat Islam, Khilafah runtuh pada tahun 1924. Hingga saat ini, cahaya itu redup di tangan kaum Muslimin sendiri yang kalah oleh kegemilangan Barat. Padahal Islam menjadi jalan bagi majunya perkembangan ilmu dan teknologi yang ada di Barat.

“Balas Budi” terhadap Islam

Ibarat pepatah, air susu dibalas dengan air tuba, itulah yang dilakukan oleh Eropa (kaum Barat) kepada Islam. Padahal telah disebutkan, Islam dan Daulah adalah pintu bagi majunya peradaban, sains, dan teknologi Barat hingga hari ini. Sejak Daulah Islam mengalami puncak kejayaannya, banyak para kaum terpelajar yang bersekolah dan menimba ilmu di Daulah Islam, sementara di dunia Barat mereka terjebak oleh kebodohan bangsanya. Dari sanalah para ilmuwan Barat muncul dan menciptakan revolusi Industri bagi bangsanya di Eropa. Namun setelah itu, justru Daulah Islam yang mengalami kemunduran dari berbagai aspek. Ditambah adanya konspirasi oleh kaum kafir Barat yang bersekutu dengan para munafik, sehingga terjadilah kehancuran Daulah Islam yang menyengsarakan kaum Muslimin di belahan dunia manapun hingga saat ini. 

Barat juga yang menyebarkan teror dan fitnah keji terhadap kaum Muslimin, mereka memutarbalikan fakta yang terjadi. Kaum Muslimin menjadi korban. Saat ini kita melihat kaum Muslimin menderita oleh penjajahan Barat (imperialisme) baik yang dilakukan secara fisik seperti yang terjadi di sebagian negara di Timur Tengah, maupun secara pemikiran dan budaya seperti yang terjadi di negeri Indonesia yang kita cintai ini. Islam difitnah sebagai agama teror, intoleran, radikal, dan keras. Fitnah, kriminalisasi dan persekusi ulama, serta islamofobia tengah marak di tengah-tengah masyarakat saat ini. Namun, hal itu semua tentu tidak menyurutkan cahaya Islam.

Islam adalah Fitrah Manusia

Begitu halnya di Eropa, sungguh, cahaya Islam tidak akan pernah redup meskipun di sana masyarakat Muslim masih minoritas. Jumlah mu’alaf meningkat di tengah-tengah ancaman Islamofobia. Dengan adanya data ini, menunjukkan Islam adalah agama yang mudah diterima oleh semua pihak.  Islam adalah untuk semua manusia. Islam sangat sesuai untuk fitrah manusia, memuaskan akal, dan menenangkan jiwa. Selain itu, islam berbeda dari agama lainnya, Islam bukan sekedar agama ritual belaka, melainkan agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Mulai aktivitas kecil semacam bangun tidur, masuk ke kamar mandi, tata cara makan, hingga hal besar termasuk bagaimana menata keuangan negara, mengurusi kepemilikan negara, mengurusi hajat hidup masyarakat yang heterogen, serta hubungan internasional, Islam memiliki aturan. Tentu saja, aturan itu bukan dari akal manusia yang terbatas, banyak kepentingan serta dipenuhi hawa nafsu, melainkan aturan itu datang langsung dari Sang Khaliq, Allah Swt., yang menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan ini. 

Oleh karena itu, Islam amatlah sempurna. Tidak ada yang bisa menghalau cahaya Islam meski dengan cara canggih apapun. Allah Swt berfirman:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)

Saat ini dengan semakin jelasnya mana kaum munafik dan mana Muslim yang hanif menunjukan bahwa kaum Muslimin semakin dekat dengan pertolongan Allah. Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin sebentar lagi akan terwujud jika masyarakat menuntut penengakan syariat Islam secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu’alam bisshawab

0 Komentar