Wajah Buram Hari Ibu

Jumat, 22 Desember 2017 - 10:46 WIB | Dilihat : 557
 Wajah Buram Hari Ibu Ilustrasi

Silvi Ummu Zahiyan 
Muslimah Peduli Perempuan,  tinggal di Bogor

Hari Ibu menjadi momen yang paling ditunggu bagi seorang ibu. Bayangan akan adanya perlakuan spesial dari suami dan anak-anaknya di Hari Ibu menjadi hal yang banyak dinantikan oleh seorang ibu. Karenanya banyak ibu menanti datangnya Hari Ibu. Padahal apa yang tampak indah sesungguhnya menyimpan sejarah buram yang patut diambil hikmahnya.

Sejarah Hari ibu diawali oleh masyarakat Eropa dan Timur Tengah, di mana Hari Ibu atau Mothers Day dirayakan pada bulan Maret dengan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah atau mitologi Yunani Kuno. Sementara di Inggris sendiri lebih dikenal dengan “Mother Sunday”, sebagai penghormatan kepada Mother Mary, umat Kristiani pada perayaan tersebut hanya makan makanan tertentu saja. Amalan dan tradisi ini kemudian menular ke seluruh dunia. Dan perayaannya bercampur-aduk dengan upacara keagaman dan ritual gereja serta menjadikan penghormatan terhadap ibu sama tarafnya dengan penghormatan kepada gereja. 

Di Indonesia sendiri pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa. Penetapan tanggal 22 Desember didasarkan pada tanggal pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia pertama. Hal itu yang membuat setiap tahunnya masyarakat merayakan Hari Ibu sebagai hari nasional.
Ibu dalam  jeratan kapitalisme

Faktanya Hari Ibu tak seindah yang dibayangkan. Wajah buram kaum ibu menghiasi rupa negeri ini. Jeratan kapitaliame membuat kaum ibu tak lagi terlindungi dan terjaga kehormatannya. Maka, sekali lagi perempuan pada masa kini pun terhinakan. Perempuan dalam sistem kapitalisme seperti sekarang, dipaksa untuk berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya membantu suami hingga bekerja di luar negeri tanpa mahram. Banyak pula perempuan muslim yang tidak bisa menggunakan hijab karena aturan dari instansinya memaksa untuk tidak berhijab.

Bahkan perempuan terpaksa mengerjakan pekerjaan laki-laki, seperti bekerja di sawah, menjadi tukang parkir hingga ada yang menjadi tukang tambal ban. Selain itu, pada masa kini perempuan tidak bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga karena aturan jam kerja perusahaan yang menyamaratakan jam kerja lelaki dan perempuan selama 8jam kerja/hari. Belum lagi jika di perusahaan ada pekerjaan lembur, maka akan lebih panjang jam kerja di luar rumah. Padahal ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya yang wajib membentuk kepribadian anak sejak dini.Kapitalisme sejatinya telah memporak-porandakan peran muslimah sebagai istri dan juga ibu.

Islam memuliakan seorang ibu

Islam mewajibkan setiap anak selalu berbakti kepada orang tua (Birul walidaini) dan mengistimewakan seorang Ibu. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya menjadi seorang Ibu,mengandung selama 9 bulan 10 hari dengan kepayahan yang bertambah,menyusui selama 2 tahun, merawat dan mendidik anak tanpa kenal lelah.

“Seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita”, Sabda Rasulullah Saw.

Untuk itu, Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di dalam al-Quran, hadis, dan kisah-kisah teladan.

Allah Swt berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24).

Selain itu bagi setiap muslim sudah menjadi keharusan ketika melakukan segala sesuatu harus ada sandaranya. Begitu pula berkenaan dengan peringatan hari Ibu ini. Karena perayaan Hati Ibu sendiri realisasinya banyak sekali yang mengunakan simbol simbol perayaan seperti penggunaan simbol penghormatan kepada selain Allah, seperti yang terjadi di Negara Eropa dan negara lain. Meskipun ada beberapa juga yang hanya sebatas pemberiah hadiah saja sebagai bentuk kasih sayang kepada Ibu. Seorang muslim seharusnya tidak ikut-ikutan, tetapi haruslah membentuk kepribadiannya sesuai dengan ketentuan syariat Allah Swt.

Karena syari’at Allah adalah sempurna dilihat dari sisi manapun, sebagiaman firman Allah: “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridloi Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Begitu mulianya kedudukan seorang ibu dalam Islam. Hingga tak perlu kita menunggu sampai satu tahun lamanya untuk menunjukkan bakti kita pada ibu. Apalagi dengan cara-cara yang tak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan tak sesuai dengan syara. Wallahu’alam bishawwab.

0 Komentar