#Setahun Aksi 212

Ku Tunggu Kau di 212

30 November 21:27 | Dilihat : 1013
Ku Tunggu Kau di 212 Aksi 212

Ummu Naflah
Barisan Emak-emak Militan, tinggal di Tangerang

Momen Aksi Bela Islam 212 setahun yang lalu meninggalkan memori yang istimewa bagi kaum muslimin. Semangatnya masih tersimpan dalam hati, mengalir di aliran darah dan tertumpah menjadi kerinduan untuk mengulang kembali semangat kesatuan dan kebangkitan umat. Tak dapat dipungkiri betapa dasyatnya efek ABI 212 bagi kaum muslimin. Yang semula tak kenal kini menjadi saling mencintai, yang semula tak peduli kini menjadi saling melindungi dan yang semula saling berdebat kini saling melengkapi. Bagaikan gelombang dasyat tsunami yang meluluh-lantakkan kebencian, berbedaan dan prasangka. Bahkan indahnya persatuan umat mampu melembutkan kerasnya hati seseorang untuk berhijrah ke jalan dakwah lil Islam. 

Aksi Bela Islam 212 telah menjadi tonggak bagi kesatuan dan kebangkitan umat. Membuka pintu kesadaran umat akan pentingnya menggalang kekuatan untuk mengatasi segala problematika yang menimpa negeri ini. Kasus Ahok hanya sedikit dari kasus yang mendapat perhatian umat. Masih banyak PR mendesak yang perlu diselesaikan.Apalagi pasca ABI 411 dan 212, Islam menjadi korban kezaliman rezim. 

Ya, lautan kaum muslimin di ABI 411 dan 212 nyatanya tidak hanya menggetarkan bumi dan langit, tapi juga membuat rezim ketakutan. Maka berbagai cara digunakan untuk membungkam, melemahkan bahkan menghentikan kebangkitan Islam. Dibungkamlah para ulama yang kritis dengan fitnah dan pencekalan. 

Habibina Habib Rizieq Syihab, Ustaz Muhammad al-Khaththath dan KH. Tengku Zulkarnain hanya sedikit dari ulama yang menjadi korban fitnah dan pencengkalan oleh rezim. Persekusi pembubaran pengajian oleh oknum-oknum yang menjadi kaki tangan rezim dialami oleh Ustaz Felix Siauw, terhitung hampir tujuh kali sepanjang 2017 kajiannya di beberapa kota dibubarkan oleh oknum tak bertanggung jawab. 

Dunia terbalik juga berlaku bagi pegiat media sosial muslim Jonru Ginting yang dengan mudahnya menjadi tersangka, sementara Viktor Laiskodat yang sudah menjadi rahasia umum menghina Islam dan mengancam kaum muslimin justru dibiarkan bebas. Begitu juga dengan Buni Yani dan Ustaz Alfian Tanjung, beliau berdua harusnya mendapat lindungan negara karena telah mengungkapkan kasus penistaan agama dan bahaya ancaman komunisme. Tapi fakta berbicara keduanya justru dijebloskan ke dalam jeruji penjara. 

Kriminalisasi juga terjadi pada simbol dan ajaran Islam. Bendera tauhid al-Liwa dan ar-Rayah mereka sebut bendera terorisme. Bahkan terjadi perampasan bendera tauhid di beberapa aksi damai umat Islam oleh oknum. Ajaran Islam Khilafah mereka benturkan dengan Pancasila. Khilafah sebagai mahkota kewajiban bagi seluruh kaum muslimin justru mereka samakan dengan sistem rusak komunisme yang mengancam negara.

Puncak dari sikap represif rezim adalah disahkannya Perppu Ormas Nomor 2 tahun 2017, menjadi undang-undang. Setelah sebelumnya rezim membubarkan salah satu ormas Islam yang vokal mengkritisi kezaliman rezim yaitu Hizbut Tahrir Indonesia.

Kriminalisasi dan stigmatisasi yang dibuat rezim buktinya tak mampu mengendorkan dan melunturkan sikap lurus umat yang istiqomah di jalan kebenaran Islam. Justru sebaliknya semakin ditindas umat semakin melawan. Strategi rezim untuk mencerai-beraikan umat dibalas dengan makin solidnya umat bersatu menggalang kekuatan.

Sungguh momen ABI 212 tak akan pernah terjadi tanpa pertolongan Allah Swt. Allah Swt lah yang telah menggerakkan hati kaum muslimin untuk datang ke ABI 212. Kecintaan kaum muslimin terhadap Rasulullah Saw telah membakar jiwa yang merindukan surga untuk hadir di ABI 212. Akidah Islam yang menarik para pembela Islam untuk mempersembahkan kontribusi terbaiknya untuk Islam. Al-Qur’an akan menjadi sanksi pengorbanan mereka dihadapan Allah Swt kelak.

Kini Spirit 212 menjadi motivasi para tokoh alumni 212 untuk kembali menggelar Reuni Akbar 212. Agenda akbar yang digagas Presidium Alumni 212 ini rencananya akan diselenggarakan di Monas pada Sabtu, 2 Desber 2017. Tentunya bukan hal yang mudah menyukseskan agenda ini. Di tengah-tengah kaum muslimin menyambut suka cita panggilan ulama untuk hadir dalam Reuni Akbar 212, diam-diam telah terjadi pemblokir akun-akun media sosial Facebook Habib Rizieq Syihab dan Front Pembela Islam (FPI). Selain akun resmi, puluhan akun Facebook FPI yang memuat kegiatan-kegiatan sosial FPI pun ikut “lenyap” (eramuslim.com, 18/11). Pihak panitia pun ditekan untuk tidak melaksanakan agenda tersebut di Monas. Walau menurut Pimpinan Presidium Alumni 212 Ustaz Bernard Abdul Jabbar meski ada upaya memindahkan lokasi acara Reuni Akbar namun panitia tetap akan berusaha kegiatan bisa digelar di Monas. (suara-islam.com, 25/11). 

Terjadi pula intimidasi terhadap aktivis mahasiswa di salah satu kampus swasta di Kendari yang viral di media sosial. Bahwa pihak kampus akan memberikan sanksi bagi mahasiswa yang ikut serta dalam Reuni Akbar 212. Tak sedikit pula pihak yang nyinyir dengan menganggap Reuni Akbar 212 adalah agenda politik sebagai ajang untuk mendukung salah satu calon peserta Pilpres 2019.

Melihat situasi kondisi menjelang Reuni Akbar 212 ini jangan sampai melemahkan langkah kita. Sebaliknya jadikan setiap rintangan sebagai bahan bakar semangat untuk hadir di Reuni Akbar 212. Karena ini momentum penting untuk menyadarkan umat dalam memikirkan dan mencari solusi dari setiap problematika yang menimpa negeri kita. Serta momentum untuk membentuk kesadaran umat untuk menjadi garda terdepan dalam mengoreksi kezaliman penguasa.

Patut kita renungkan apa yang telah disampaikan oleh Pemimpin Presidium Alumni 213 Ustaz Bernard Abdul Jabbar dalam konferensi pers Kongres Nasional Alumni 212, 26/11. 

"Semua anak bangsa harus tahu, bahwa dewasa ini kita masalah dan ancaman di hampir semua kehidupan. Tidaklah mungkin permasalah-permasalahan itu bisa diselesaikan oleh sebagian kelompok saja. Generasi umat Islam harus ambil peran dan memahami permasalahan yang kita hadapi secara sungguh-sungguh akan nasib bangsa dan umat Islam di masa-masa yang akan datang," jelasnya (suara-islam.com, 26/11).

Karena itu, wahai Hamzah bin Abdul Muthalib abad ini, ku tunggu kau di 212! Mari kita bangun kekuatan untuk menjadi pembeda dan penjelas antara haq dan bathil. Kita sampaikan pada penguasa-penguasa negeri ini bahwa kezaliman telah tampak di seluruh negeri akibat sistem jahiliah/sekularisme yang mereka adopsi. Sistem yang telah nyata membawa kaum muslimin dan seluruh manusia ke jurang kenistaan dan penderitaan. Mari kita eratkan ukhuwah merajut kemenangan dengan tegaknya aturan Allah Swt di tengah-tengah umat manusia. Ingatlah engkau adalah umat terbaik yang menegakkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Sebagaimana firman Allah Swt: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (TQS. Ali Imran [3]: 110).

Wahai Al-Kansha abad ini, ku tunggu kau di 212! Bawa buah hati dalam gendongan dan gandenganmu. Biarkan ghirah dan kecintaanmu terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya ikut mengalir dalam darah dan tetesan keringat mereka. Biarkan mereka melihat pengorbanan ibu mereka dalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid di bumi Allah Swt, sehingga tumbuh benih-benih jihad dalam jiwa mereka. Jangan kau khawatirkan tangisan mereka di tengah teriknya panas dan derasnya hujan, karena tangisan mereka akan menjadi teriakan takbir yang menggetarkan langit dan bumi.

Jangan buat alasan apa pun, malulah kita pada para mujahid dari Ciamis yang berjalan kaki menempuh puluhan kilometer. Malulah kita pada anak cucu kita. Malulah kita pada apa-apa yang ada di bumi dan langit yang akan menjadi saksi kita kelak. Jadi saudaraku, ku tunggu kau di 212!

0 Komentar