#Selamatkan Rohingya

Solidaritas untuk Muslim Rohingya

01 November 15:36 | Dilihat : 202
Solidaritas untuk Muslim Rohingya Ilustrasi: Pengungsi Muslim Rohingya di Kutopalong, Bangladesh.

Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Pengurus Dewan Dakwah Aceh & Anggota Rabithah Ulama dan Duat Asia Tenggara.


Mendengar dan membaca berita mengenai muslim Rohingya Myanmar sangat menyedihkan dan memprihatikan kita. Bagaimana tidak, saudara-saudara kita muslim Rohingya mengalami penderitaan yang luar biasa. Ribuan umat Islam Rohingya dibunuh dan dibantai dengan sadis dan biadab oleh militer dan sipil Budha Myanmar. Mereka kehilangan keluarga, harta, dan rumah, bahkan nyawa mereka terancam dibunuh. Keluarga mereka dibunuh. Harta mereka dirampas. Rumah dan desa mereka dibakar. Kehormatan muslimah mereka dilecehkannya. Muslimah mereka diperkosa sampai mati di depan ayah, suami dan saudaranya.

Ratusan ribu muslim Rohingya harus mengungsi meninggalkan rumah dan tanah airnya demi menyelamatkan diri dari pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh pemerintah dan sipil Budha Myanmar. Mereka kekurangan makanan, pakaian, selimut dan obat-obatan. Mereka terpaksa mengungsi ke Bangladesh, Malaysia, Indonesia, sampai ke Arab Saudi untuk menyelamatkan diri. Mereka tidak diakui kewarganegaraannya di negaranya sendiri. Padahal, mereka hidup di negara sendiri dulunya dikenal dengan “Kerajaan Islam Arakan” yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu yaitu sejak abad VIII. Lalu Budha Burma menjajah mereka mulai tahun 1784 sampai hari ini. Mereka ditindas, dizhalimi dan diusir dari negaranya. 

Dunia hanya bisa diam menyaksikan aksi pembantaian dan pengusiran umat Islam Rohingya oleh rezim Budha Myanmar. Negara-negara Barat dan organisasi-organisasi yang mengklaim dirinya sebagai pembela HAM pun diam. Jelas, karena korban tersebut adalah umat Islam. Mereka pasti bertindak jika korbannya bukan umat Islam. Dunia sebatas mengecam tindakan biadab pemerintah Myanmar, tanpa ada tindakan untuk menghentikan pembantaian dan pengusiran tersebut, baik dengan militer, pemutusan diplomatik maupun sanksi ekonomi terhadap Myanmar. Itu sebabnya militer dan sipil Budha Myanmar berani melakukan pembantaian terhadap umat Islam Rohingya. Padahal, aksi pembunuhan dan pembantaian serta pengusiran terhadap muslim Rohingya jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan aturan Internasional. Bahkan perbuatan biadab itu di luar batas kemanusian. Aksi pembantaian tersebut telah berlangsung sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu sampai hari ini. Hanya saja saat ini tragedi kemanusiaan di Rohingya ini mulai terbuka dan mendunia.

Kewajiban Solidaritas Islam

Sebagai muslim, kita patut merasakan penderitaan umat Islam Rohingya. Mereka itu adalah saudara-saudara kita seagama dan seiman. Islam mewajibkan kita untuk bersolidaritas terhadap muslim yang menderita, terzalimi dan tertindas. Sikap solidaritas ini merupakan bukti kualitas iman kita dan wujud ukhuwah islamiah yang diperintahkan Allah Swt dan Rasul-Nya.

Allah Swt menegaskan bahwa orang-orang yang beriman itu bersaudara sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara...” (Al-Hujurat: 10). Begitu pula Rasul Saw menegaskan bahwa umat Islam itu bersaudara dengan sabda beliau: “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya..”. (HR. Bukhari, Muslim dan at-Tirmizi).

Rasulullah Saw menggambarkan umat Islam seperti sebuah bangunan yang wajib saling menguatkan satu sama lainnya, sebagaimana sabda beliau: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Menguatkan satu sama lain berarti saling membantu sesama muslim dan saling membela saudaranya muslim yang tertindas dan terzhalimi.

Rasul Saw juga menggambarkan umat Islam layaknya satu tubuh sesuai sabda beliau: “Sungguh seorang mukmin bagi mukmin yang lain berposisi seperti kepala bagi tubuh. Seorang mukmin akan merasakan sakitnya mukmin yang lain seperti tubuh ikut merasakan sakit yang menimpa kepala”. (HR. Ahmad). Rasul Saw  bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang dan simpati di antara mereka seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Seperti itulah seharusnya persaudaraan umat Islam. Ukhuwah islamiah itu harus lebih diutamakan di atas persaudaraan ikatan lainnya, termasuk ikatan keluarga dan nasionalisme. Semua umat Islam di seluruh dunia harus merasa layaknya satu tubuh. Penderitaan yang menimpa sebahagian kaum muslimin di suatu tempat, harus juga dirasakan oleh seluruh umat Islam lainnya. Semua itu tidak lain karena dorongan iman mereka. Persaudaraan mereka adalah persaudaraan karena iman. Ini menunjukkan kualitas keimanan seseorang.

Lebih jauh lagi, Islam memerintahkan umatnya untuk menolong saudaranya muslim yang tertindas dan terzhalimi. Allah Swt berfirman: “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan agama) maka kalian wajib memberikan pertolongan”. (Al-Anfal: 72). Rasul Saw bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang terzhalimi.” Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, saya akan menolongnya jika dia terzhalimi. Tapi bagaimana pendapatmu jika dia berbuat zhalim, bagaimana saya menolongnya? Rasulullah Saw bersabda: “Kamu cegah dia dari perbuatan zhalim maka kamu telah menolongnya.” (HR. al-Bukhari)

Islam memerintahkan umatnya membantu meringankan penderitaan saudaranya muslim. Allah Swt berfirman: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (Ali ‘Imran” 92). Rasul Saw bersabda: “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya; Ia tidak boleh menzhalimi saudara, dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan barangsiapa yang melapangkan dari seorang muslim suatu kesulitan maka Allah akan melapangkan darinya suatu kesulitan dari kesulitan-kesuliltan pada hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: “Allah akan menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan, Nabi Saw mengaitkan keimanan dengan ukhuwah Islamiah dan solidaritas Islam. Nabi Saw bersabda: “Tidak beriman (dengan sempurna) salah seorang di antara kalian sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda: “Barangsiapa yang tidak mementingkan (tidak peduli) dengan urusan kaum muslimin maka dia tidak termasuk golonganku.”. Inilah ancaman bagi orang yang tidak berukhuwah Islamiah dan tidak bersolidaritas terhadap umat Islam yang menderita.

Begitulah kewajiban bersolidaritas terhadap sesama muslim sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bersolidaritas terhadap saudara-saudara kita Rohingya yang sedang menderita dengan ikut merasakan penderitaan mereka, peduli dan empati terhadap mereka, menolong memenuhi kebutuhan mereka, dan membela hak-hak mereka yang terzalimi dan tertindas. Inilah bukti iman dan ukhuwah Islamiah kita yang diwajibkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya.

Tindakan Solidaritas terhadap Muslim Rohingya

Kita wajib bersolidaritas untuk muslim Rohingya. Di antara sikap atau tindakan solidaritas yang wajib dilakukan oleh seorang muslim, khususnya pemimpin muslim, dalam menyikapi persoalan umat Islam Rohingya:

Pertama; Tindakan militer (jihad). Para pemimpin muslim harus bersatu mengirim pasukan militer untuk menghentikan pembunuhan terhadap umat Islam Rohingya dan membela muslim Rohingya yang terzalimi dan tertindas. Tidak ada cara yang dapat menghentikan aksi pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh militer Myanmar melainkan dengan militer juga. Militer harus dihadapi dengan militer pula. Cara ini sangat efektif, karena dapat menakutkan musuh-musuh Islam dan memberi pelajaran kepada mereka.

Cara militer ini yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ketika umat Islam dibantai di Tabuk dan daerah lainnya. Ketika mendengar berita bahwa umat Islam di Tabuk dibantai oleh pasukan Romawi karena mempertahankan keimanan mereka, maka Rasulullah saw pun langsung bersikap dengan mengirim pasukan militer untuk berjihad melawan pasukan Romawi pembunuh umat Islam sehingga pasukan Romawi ketakutan dan dikalahkan. Begitu pula dilakukan oleh para khalifah khulafaurrasyidin dan para khalifah setelah khulafaur rasyidin pada masa-masa kekhalifahan Islam ketika umat Islam diperangi, dibantai dan ditindas oleh musuh-musuh Islam, mereka langsung mengirim pasukan untuk berjihad untuk membela dan menyelamatkan umat Islam dari kezaliman musuh-musuh Islam. Islam pun menjadi kuat, mulia dan ditakuti musuh.

Islam memerintahkan umatnya berjihad dengan tujuan untuk membela diri dan membela agama. Allah Swt berfirman: “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Mahakuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata,“Tuhan kami ialah Allah..” (Al-Hajj: 39-40). Allah Swt berfirman: “Berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah..” (At-Taubah: 41). Allah Swt berfirman: “Perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.” (At-Taubah: 36). Maka para pemimpin muslim harus membuka pintu jihad bagi orang yang mampu dan ingin berjihad demi membela saudaranya yang terzalimi dan tertindas dan membela agama.

Kedua; Memberi sanksi politik dan ekonomi kepada pemerintah Myanmar untuk menekan rezim Myanmar agar menghentikan pembantaian terhadap umat Islam Rohingya. Para pemimpin muslim harus bersatu untuk memberikan sanksi politik dengan memutuskan hubungan dengan pemerintah Myanmar dan mengusir dubes dan anggota dipomatik Myanmar dari negara mereka. Selain itu, sanksi ekonomi mesti diberlakukan. Sanksi politik dan ekonomi ini sangat memungkinkan dan bisa dilakukan oleh setiap pemimpin muslim. Tentu ini juga sangat efektif.

Ketiga; Berinfak untuk membantu meringankan penderitaan muslimin Rohingya. Kita wajib berinfak sesuai dengan kemampuan masing-masing, terlebih lagi bagi pemimpin muslim. Setiap kita mampu berinfak, karena setiap kita punya harta walaupun sedikit. Bagi yang memiliki banyak harta maka hendaklah berinfak dengan harta yang banyak. Bagi yang punya sedikit harta, maka berinfak dengan sedikit hartanya. Infak kita sangat bermanfaat bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka sangat membutuhkan makanan, pakaian dan selimut, tenda/rumah dan obat-obatan. Dengan infak  ini dapat meringankan penderitaan mereka.

Keempat; Berdoa untuk muslimin Rohingya. Kita juga bisa membantu saudara kita muslimin Rohingya dengan doa agar Allah Swt menolong mereka. Kita mohon kepada Allah Swt agar Dia menyelamatkan umat Islam Rohingya dari kezaliman militer dan sipil Budha Myanmar dan membinasakan musuh Islam tersebut. Doa kita sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita muslimin Rohingya. Nabi saw bersabda: “Doa itu senjata orang mukmin”. Setiap kita mampu berdoa. Maka hendaklah kita berdoa setiap saat untuk saudara-saudara kita muslimin Rohingya.  Dengan kondisi umat Islam Rohingya seperti saat ini, maka doa qunut nazilah sangat dianjurkan, terutama dibaca pada setiap shalat lima waktu di rakaat terakhir setelah ruku’. Rasulullah Saw melakukan qunut nazilah dan memerintahkan umat Islam untuk membacanya pada setiap shalat lima waktu ketika umat Islam dibantai oleh orang-orang kafir.

Kelima; Mengadakan aksi solidaritas dan penggalangan dana untuk umat Islam Rohingya. Aksi ini perlu dilakukan di berbagai daerah di seluruh Indonesia, terutama di depan kedubes Myanmar di Jakarta, untuk membela muslim Rohingya dan mengecam/mengutuk perbuatan biadab pemerintah Myanmar. Tidak hanya itu, aksi ini juga untuk menekan pemerintah Myanmar untuk menghentikan tindakan biadabnya dan mengusir dubes beserta para anggota diplomatik Myanmar dari Indonesia. Selain itu, aksi ini dilakukan untuk meminta kepada pemerintah kita agar bertindak segera untuk menghentikan pembantaian dan pengusiran umat Islam Rohingya dan meminta pemerintah kita untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar. Mengingat Indonesia merupakan negara muslim terbesar. Aksi-aksi solidaritas ini perlu diekspos di berbagai media, baik media lokal, nasional maupun internasional.

Akhirnya, mari kita membantu saudara-saudara kita muslimin Rohingya sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing. Bagi yang mampu berjihad, khususnya pemimpin muslim, maka kewajibannya berjihad. Inilah yang paling efektif. Paling tidak, pemutusan hubungan dengan Myanmar. Bagi yang tidak mampu berjihad, maka kewajibannya berinfak,  berdoa untuk muslim Rohingya dan mengadakan aksi-aksi solidaritas. Setiap kita bisa menolong mereka dengan infak, doa dan mengadakan aksi solidaritas tanpa ada kesulitan. Jika kita hanya diam, maka bagaimana kita akan mempertanggung jawabkan sikap diam dan ketidakpedulian kita ini kepada Allah Swt pada pengadilan yaumul mahsyar (hari kebangkitan) nanti? Semoga Allah Swt memberi pertolongan-Nya kepada saudara-saudara kita muslimin Rohingya. Amin..!

0 Komentar