Memaknai Kembali Ukhuwah Islamiyah

18 Oktober 15:30 | Dilihat : 299
Memaknai Kembali Ukhuwah Islamiyah Ilustrasi: Seorang nenek dan cucunya, pengungsi Muslim Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

Islam mensyariatkan iman sebagai ikatan yang paling tinggi di antara kaum muslim. Iman yaitu akidah islam dijadikan sebagai pengikat dari ikatan-ikatan lainnya, yang sekaligus menentukan sikap, cara pandang dan kehidupan seorang muslim. Salah satu ikatan yang terikat oleh akidah islam yaitu ukhuwah Islamiyah; ikatan persaudaraan sesama muslim. Bentuk dari perwujudan ukhuwah islamiyah ini tidaklah sebatas ucapan sebagai pengakuan saja, melainkan juga dalam sikap dan tindakan kehidupan.

Rasulullah Saw menggambarkan kaum Muslim sebagai sebuah kesatuan, ia bersabda, “Sungguh kaum mukmin itu seperti sebuah bagunan yang saling menguatkan satu sama lain.”  (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasai, at-Tirmidzi dan Ahmad). 

Ukhuwah islamiyah hendaknya lebih diutamakan diatas persaudaraan karena ikatan yang lainnya, termasuk ikatan nasionalisme yang telah menyekat-nyekat persaudaraan seiman. Kaum muslim di seluruh dunia sudah seharusnya merasa layaknya satu tubuh sehingga kaum muslim akan menjadi pincang bahkan cacat apabila membiarkan penderitaan ataupun menelantarkan muslim yang lainnya. 

Bila kita lihat faktanya, sebagian saudara kita di negeri Islam lain kini tengah mengalami penderitaan, seperti di Suriah, Palestina, Irak, Yaman dan sebagian negeri Afrika. Tak luput juga penderitaan saudara kita di Rohingya Myanmar. Genosida yang menghabisi banyak nyawa kaum Muslim semakin terlihat nyata dan mirisnya tidak terlihat suatu negara atau lembaga internasional manapun yang mampu menghentikannya padahal ini telah terjadi sejak tahun 1948! Tidak ada Muslim Rohingya yang merasa aman, ratusan ribu dari mereka terusir dari rumah dan kampungnya tanpa naungan tempat tinggal. Mereka terombang-ambing di lautan lepas dan tersebar di rerimbunan hutan tanpa persediaan makanan, pakaian dan obat-obatan. Jika mereka berusaha kembali ke kampungnya, mereka terancam akan dibinasakan. Melihat hal tersebut terjadi di depan mata, akankah kita membiarkan? Inikah gambaran kaum Muslim sebagai sebuah kesatuan?

Sudah saatnya kita memaknai kembali dan menunjukkan aktualisasi ukhuwah Islamiyah yang sudah lama memudar di kaum muslim. Sudah seharusnya kita dapat menunjukkan rasa tidak rela, simpati dan solidaritas atas apa yang menimpa saudara-saudara seiman kita serta memberikan pertolongan kepada mereka semampu kita. Allah Swt berfirman: "Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama ini maka kalian wajib memberikan pertolongan." (TQS al-Anfal: 72). Rasulullah saw. juga dengan tegas bersabda: "Siapa saja diantara kalian yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya ia mengubah kemungkaran itu dengan tangan (kekuasaan)-nya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya dan yang demikian adalah selemah-lemanya iman." (HR Bukhari).

Paling minimal yang dapat kita lakukan adalah menyertakan mereka dalam doa-doa yang kita panjatkan, menggalang bantuan, dan melakukan aksi-aksi solidarias untuk mendesak penguasa Muslim agar menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk membela saudara kita. Tentu pembelaan dan penyelamatan kaum Muslim yang teraniaya di negeri sana akan sangat efektif dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan negara. Pasalnya, yang menganiaya, menzalimi dan membasmi saudara kira juga menggunakan kekuasaan dan kekuatan sebuah negara. 

Pembelaan seperti itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, seperti yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah saat memenuhi permintaan tolong seorang Muslimah yang dianiaya pasukan Romawi di Amuria. Khalifah Al-Mu’tashim Billah mengerahkan puluhan ribu pasukan yang ujungnya telah tiba di Amuria, sementara ekornya masih berada di Baghdad. 

Sayangnya, pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924, tidak ada satu penguasa Muslim yang berani bertindak seperti Rasul saw. dan para Khalifah setelah beliau dalam menjaga kesejahteraan dan kehormatan kaum Muslim. Tidak ada satu penguasa Muslim pun yang bersegera dalam menyelamatkan kaum Muslim seperti Khalifah Al-Mu’tashim Billah padahal yang meminta pertolongannya hanyalah seorang muslim. Meskipun sekarang yang meminta pertolongan hingga ratusan ribu kaum Muslim, para penguasa Muslim tetap diam tak bergeming, tidak berani mengirimkan pasukannya untuk menyelamatkan saudara Muslimnya.

Maka, sembari terus mewujudkan kembali penguasa yang mengemban sifat-sifat seperti Rasul Saw, kita harus terus berjuang dalam membela dan menolong saudara muslim kita, di Rohingya, Palestina, dan negeri lainnya. Inilah bentuk pemaknaan kembali ukhuwah Islamiyah di antara kaum muslim. Untuk mengakhiri opini singkat ini, marilah kita baca sebuah hadist mengenai bagaimana terpeliharanya darah seorang Muslim dalam Islam sebagai renungan untuk kita semua. 

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim. (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Miranthi Faizaqil Karima
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

0 Komentar