Wahai Pembela Vaksin, Buanglah Cara Berpikir Sekuler yang Membuang Allah Taala dari Kehidupan

02 September 09:13 | Dilihat : 2159
Wahai Pembela Vaksin, Buanglah Cara Berpikir Sekuler yang Membuang Allah Taala dari Kehidupan Ilustrasi: Vaksinasi di sekolah. [foto: viva.co.id]

Hartono Ahmad Jaiz

Mungkin pembela vaksin ada yang mengada-adakan umpama. Misal, bagaimana nanti kalau tidak mau divaksin lalu terjadi wabah yang mematikan sekian banyak orang?

Yang mengada-adakan pengandaian seperti itu tolong jangan singkirkan Allah Ta’ala, yang justru negeri ini pun berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Lagu kebangsaan pun menegaskan: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Pembangunan jiwa adalah iman dan akhlak. Sudahkah dibangun dengan gigihnya? Baru kemudian bangun badannya.

Selama ini pembangunan hanyalah fisik bukan? Bagaimana kalau gedung-gedung tinggi isinya manusia-manusia tak beriman dan tak bermoral?

Kalau yang dibangun itu keimanan dan akhlak, maka ada jaminan dari Allah Ta’ala.

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [QS. Hud: 117]

Ketika orang-orangnya telah dibina keimanan dan akhlaknya dengan baik (tentunya dengan dana, tenaga, pikiran, dan segala daya upaya); hingga mereka jadi orang-orang shalih, maka dijamin oleh Allah Ta’ala sedemikian. Namun bila cara pandangnya sekuler, menyingkirkan agama, menyingkirkan Allah Ta’ala, maka hanya mementingkan hal-hal parsial badani misalnya menggencarkan vaksin dan semacamnya dengan aneka cara, sampai tingkat RT pun dikerahkan untuk mendata warga yang punya anak hingga tingkat SMA sudah divaksin atau belum. Betapa  gigihnya… Ada apa ini…?

Di balik itu, boleh dikata hampir tidak ada kepeduliannya terhadap pembinaan iman dan akhlak, yang dalam lagu kebangsaan justru disebut: bangunlah jiwanya, itu lebih dulu dibanding bangunlah badannya. Namun kata-kata itu seakan hanya jadi nyanyian di mulut-mulut belaka dalam seremonial upacara sambil wajib berdiri di mana-mana. Padahal ketika iman dan akhlaknya tidak dibina, dibiarkan saja, jadi orang-orang yang jauh dari Allah Ta’ala, bahkan memusuhi orang-orang saleh, maka bukan hanya  penyakit yang dapat Allah timpakan. Lebih dahsyat dan lebih bahaya dari penyakit wabah pun bisa ditimpakan karena banyaknya orang yang durjana akibat ditelantarkan pembinaan iman dan akhlaknya. Ancaman timpaan aneka azab entah seberapa dahsyatnya itupun bukan hanya di dunia, bahkan sampai di akhirat pula.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya [QS. Al Isra: 16-17]

Oleh karena itu, betapa patut diacungi jempol, di antara para pemimpin daerah, ada yang berkenan mengimbau kepada karyawan dan masyarakat agar shalat berjamaah ke masjid. Dengan dicontohi oleh diri mereka yang melaksanakannya di depan masyarakatnya. Itulah yang terpuji, bukan hanya di depan manusia, bahkan Allah Ta’ala pun memujinya.

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan [QS. Al Hajj: 40-41]

Oleh karena itu buanglah cara berpikir sekuler yang membuang Allah Ta’ala dari kehidupan. Semoga kita  sadar dan jadi hamba-hamba Allah yang tunduk patuh, taat mengikuti perintah-perintah-NYa, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta membenci apa-apa yang Allah benci. Bukan malah mendukungnya.

Semoga kita bisa berterimakasih kepada upaya para pejuang kemerdekaan negeri ini yang telah mengorbankan nyawa, harta dan tenaganya dengan pekik takbir Allahu Akbar untuk mengusir penjajah kafir.Dan semoga kita bisa berterimakasih atas petunjuk-petunjuk mereka yang mengarahkan untuk mensyukuri nikmat Allah Ta’ala yang atas berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala negeri ini dikaruniai kemerdekaan dari penjajahan kafir Belanda dan lainnya. Hingga kita dapat mengisi kemerdekaan negeri ini dengan menyukurinya benar-benar, selaku hamba-hamba Allah yang Maha Adil lagi sangat tidak suka kepada kezaliman. Maka jangan sampai yang kuat menzalimi yang lemah, yang di atas menzalimi yang di bawah dan seterusnya.

Bagaimanapun, sejatinya kebijakan yang lebih mementingkan pembangunan badani, dan mengabaikan pembangunan jiwa (iman dan akhlak) itu adalah merupakan kezaliman yang luar biasa. Bagai terang-terangan menyingkirkan Allah Ta’ala dari kehidupan. Sekaligus mengingkari tujuan perjuangan para pejuang kemerdekaan yang telah susah payah mengorbankan jiwa raga demi tercapainya kemerdekaan dari  penjajah kafir Belanda dan lainnya. Bila kezaliman luar biasa (hanya mementingkan pembangunan badani, tapi mengabaikan pembangunan iman dan akhlak)  itu masih bercokol dalam sikap dan tindak kita, maka  ingatlah ancaman Allah Ta’ala:

…dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar [QS. Al Furqan19]

Kebijakan Ngawur, Menggalakkan Vaksinasi tapi Membiarkan Virus Sekuler  Perusak Iman dan Virus Perusakan Moral

Virus sekuler yang merusak iman itu seharusnya yang lebih penting untuk diobati. Virus yang merusak moral juga harus lebih dulu diobati dan terus menerus.

Bila iman dan akhlak/moralnya telah terjaga, maka jaminan Allah Ta’ala, bukan hanya dijaga dari bencana penyakit secara menghancurkan/massal, tapi bahkan takkan ditimpa kehancuran.

Ada jaminan dari Allah Ta’ala.

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan [QS. Hud: 117]

Lafal muslihun (orang-orang yang berbuat kebaikan), menurut tafsir Ibnu Abbas adalah berdiri di atas ketaatan dan teguh padanya.

Mestinya, yang digalakkan adalah pemberantasan penyakit-penyakit yang merusak iman dan akhlak itu lebih dulu, dan secara terus menerus. Akar masalahnya di situ, tetapi justru dinafikan.

Jadi seilmiah-ilmiahnya pembela vaksin dalam mengemukakan uraian, itu sejatinya hanya semacam akan mengatasi sebagian kecil dari masalah hidup ini. Sedang sumber masalahnya, virus perusak iman dan virus perusak akhlak justru tidak dipentingkan untuk diberantas. Kenyataannya justru sebaliknya. Ketika ada perda miras (yang melarang peredaran minuman keras) saja malah dari penguasa pusat sebegitu gigihnya untuk membredelnya, demi membela beredarnya minuman keras?.

Cara berpikir dan kebijakan yang merusak tatanan hidup inilah yang seharusnya diberantas lebih dulu. Dan kegiatan memberantasnya hendaknya sampai ke tingkat RT.

Lha kenyataannya yang digalakkan sampai ke tingkat RT itu vaksin, bukan yang pemberantasan virus perusak iman dan virus perusak akhlak/moral, maka orang yang melek dan faham harusnya mengingatkan.

Ketika tidak mau paham, dan tetap ngotot, maka dikhawatirkan justru termasuk pendukung kezaliman. Dan itu sangat bebahaya menurut pengertian Islam.

Pendukung Pemimpin Bohong Lagi Zalim Bukan Golongannya Nabi Saw
 
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari Imaratis Sufahaa’ (pemerintahan orang-orang yang bodoh)”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu pemerintahan orang-orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin (kekuasaan) sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku.
(Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Allahul Musta’an. Wa laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adhiim.

0 Komentar