Membaca Pembacokan Hermansyah: Kebetulan atau Terencana?

10 Juli 20:06 | Dilihat : 1586
Membaca Pembacokan Hermansyah: Kebetulan atau Terencana? Ilustrasi: Istri Hermansyah melihat sejumlah benda yang berada di mobil yang telah bersimbah darah.

Asyari Usman 
(Wartawan Senior)

Ketua GNPF MUI, Ustad Bachtiar Nasir (UBN), mengatakan dia hanya bisa menduga bahwa pengeroyokan Hermansyah (pakar IT) merupakan peristiwa yang berawal dari senggol-senggolan mobil. Belum bisa memastikan apakah ada hubungannya dengan pernyataan korban bahwa chat mesum Habib Riziq Shihab (HRS) dengan Firza Hussein (FH) adalah percakapan palsu.

Tentu tidak ada salahnya kalau peristiwa ini disebut terjadi secara kebetulan sebagai dugaan awal. Tetapi, teman dekat Hermansyah, Ichsanuddin Noorsy (IN), berpendapat (setelah berbincang dengan keluarga korban) bahwa penyerangan di jalan tol itu berlangsung dengan rencana.

Baik dugaan awal maupun keyakinan IN tentang adanya rencana, sangat menarik untuk memulai penelusuran logika insiden itu. Untuk mencari jawaban apakah pengeroyokan terjadi secara kebetulan atau terencana.

Mari kita “ikut duduk” di dalam mobil Hermansyah (HS) mengikuti kronologi yang dijelaskan oleh Kapolresta Depok, Kombes Herry Heryawan.

Sekitar jam 03.30, Minggu, 9 Juli 2017, Hermansyah keluar rumah dengan mobil Avanza. Adik Hermansyah berada di depan dengan mobil sendiri. Sekitar pukul 04.00 masuk tol Jagorawi menuju Depok.

Tiba-tiba mobil adik HS dipepet oleh sebuah sedan. HS ingin menolong adiknya. Dia mengejar mobil yang memepet mobil adiknya itu. Tetapi, dari arah belakang ada mobil (Honda Jazz) yang memepet mobil HS. Pengendara mobil Jazz ini menyuruh HS berhenti dan keluar dari mobil. HS dikeroyok dan salah seorang pelaku menyerang dengan sajam (senjata tajam). HS mengalami luka berat.

Apakah insiden ini terjadi secara kebetulan? Mungkin saja. Tetapi, dengan melihat fakta HS sebagai saksi ahli yang mengatakan chat mesum HRS adalah palsu, dan tentunya ada pihak yang tak berkenan dengan kesaksian itu, maka “ke-kebetulan” (keaksidentalan) peristiwa ini menjadi 1:100,000.

Banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Kok bisa adik HS “kebetulan” terlibat kejar-kejaran dengan sebuah mobil sedan, kemudian adik HS dibiarkan lolos? Kok bisa “kebetulan” ada mobil Jazz yang berposisi di belakang HS dan “kebetulan” pula salah seorang penumpang Jazz atau penumpang sedan yang satu lagi sedang membawa senjata tajam?

Kok bisa mobil yang di belakang HS “kebetulan” terpisah dari mobil pelaku yang memepet mobil adik HS? Sehingga, “kebetulan” saja mobil HS terapit oleh kedua mobil pelaku penyerangan?

Kok kedua mobil pelaku tidak mengejar adik HS padahal awal peristiwa ini adalah pemepetan mobil adik HS? Kenapa kemudian HS yang dijadikan sasaran utama?

Kok para penumpang yang memepet HS itu langsung menyerang HS, tidak bertengkar lebih dulu kemudian meminta ganti rugi kalau ada kerusakan pada mobil mereka? Kalau HS tidak mau bayar ganti rugi, barulah “logis” melakukan tindak kekerasan.

Kalau misalnya para pelaku merasa HS harus bayar ganti rugi, kenapa mereka tidak langsung saja mencari dompet HS?

Kalau kemudian merasa tidak cukup uang di dompet HS, bukankah ada cara lain untuk membalas kerusakan mobil pelaku? Misalnya, pelaku bisa memecahkan kaca mobil HS atau memukul badan mobil beliau supaya tercapai skor sama-sama rusak.

Dalam banyak kasus “road rage” (marah di jalan), yang umumnya terjadi adalah pertengkaran tentang siapa yang salah. Kalaupun berujung dengan kekerasan, biasanya terjadi perkelahian tangan kosong. “Bolehlah” HS dihajar sampai bengkak-bengkak, tidak sampai mengancam nyawanya.

Dari penjelasan keluarga HS, para pelaku tidak mempersoalkan siapa yang salah dalam pristiwa pepetan itu. Mereka langsung menyerang dengan senjata tajam, dan ada kesan HS ditargetkan “finished”.

Jadi, berdasarkan suasana utuh insiden “road rage” yang membuat HS berada dalam kondisi kritis itu, sangatlah janggal untuk disebut bahwa peristiwa ini terjadi secara “kebetulan”. Tetapi, apakah ada “sambungan” antara pengeroyokan itu dengan kesimpulan HS bahwa chat mesum HRS adalah hoax?

Kita tunggu hasil investigasi kepolisian sambil berdoa semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Pak Hermansyah.(*)

sumber: teropongsenyan.com

1 Komentar