Budaya Selfie dan Sikap Aksi Bela Islam

12 Mei 11:04 | Dilihat : 2156
Budaya Selfie dan Sikap Aksi Bela Islam Ilustrasi

Aksi Bela Islam yang diprakarsai oleh GNPF-MUI selalu menjadi pusat perhatian. Banyak hal menarik yang bisa menjadi topik cerita seputar jalannya aksi, namun kali ini kita akan membicarakan budaya selfie. Selfie merupakan singkatan dari self potrait, foto yang diambil oleh dirinya sendiri. Tidak harus foto dirinya seorang, melainkan juga dirinya dengan orang-orang sekitarnya. Selfie merupakan hak setiap manusia, baik laki-laki (ikhwan) maupun perempuan (akhwat), tetapi keliru kalau menganggap tulisan ini seputar “fiqih” selfie, yang akan kita bicarakan adalah budaya selfie yang bertebaran di setiap aksi melalui konsumsi tanda dalam perspektif pemikiran Jean Baudrillard. 

Budaya selfie selalu menyemarakan tiap Aksi Bela Islam, termasuk Aksi Simpatik 505 lalu. Kisahnya, penulis baru melangkahkan kaki memasuki kawasan Masjid Istiqlal pukul 10.00 WIB namun di sana-sini sudah terlihat banyak calon peserta aksi yang melakukan selfie. Seperti diketahui budaya selfie bukan hanya monopoli akhwat melainkan juga ikhwan. Awalnya terlihat para akhwat berselfie ria, tentunya dengan tongsis (tongkat narsis) yang ‘melegenda’ itu. Awalnya dalam benak berujar, “ah, namanya juga akhwat,” tidak tahunya ketika penulis menengok kanan-kiri para peserta ikhwan pun banyak melakukan hal yang sama. Kemudian penulis sendiri ikut selfie pula, kendati tidak secara bergerombol. Khusus kalangan akhwat, ternyata yang doyan selfie bukan hanya akhwat muda, tetapi juga kalangan ibu-ibu, tidak perlu terlalu kaku memaknai kata “ibu-ibu” karena itu bisa berarti wanita yang sudah mempunyai anak atau wanita yang usianya sudah setara dengan “ibu-ibu”. Tulisan ini pun tidak bermaksud mendefinisikan “ibu-ibu” sehingga pembaca dipersilahkan membayangkan sendiri sosok ibu-ibu. 

Kelebihan kumpulan ibu-ibu yang kebetulan dilihat penulis adalah mereka dari kalangan ‘ibu-ibu glamour’, setidaknya jika diamati dari tampilannya. Apalagi ditinjau sekilas dari HP-nya, yang digunakan untuk berselfie. Sebagian ibu-ibu tersebut ada yang menggunakan kacamata hitam sebagai pelengkap penampilan ciamik dalam berselfie. Budaya selfie memang selalu mewarnai dan menjadi bumbu-bumbu aksi. Dari pagi sampai bubar aksi senantiasa ada para peserta aksi yang berselfie.

Budaya selfie ini menjadi indikasi bahwa konsumsi membentuk landasan tatanan sosial dan prilaku kita. Konsumsi bermakna suatu kegiatan maupun tindakan yang bertujuan mengurangi serta memanfaatkan daya guna suatu barang atau pun jasa. Dalam konteks ini, para peserta aksi tersebut berselfie mempergunakan HP dan smartphonenya. Selfie pun memiliki banyak fungsi, utamanya adalah bukti eksistensi dan aktualisasi diri terhadap kegiatan Aksi Bela Islam. Konsumsi dengan cara berselfie menjadikan individu atau sekelompok manusia mengklasifikasikan identitas dirinya sendiri. Tanpa sadar, hal itu berpengaruh dalam pembentukan prilaku. Bahkan kuat kemungkinan para peserta aksi yang berselfie seakan-akan tidak ikut aksi jika tidak ada bukti eksistensi. Hasil teknologi foto pun demikian punya kuasa menentukan eksistensi ke-manusia-an kita. Budaya konsumsi semacam ini banyak berpengaruh pada perilaku, termasuk para peserta aksi yang mungkin akan berkurang kebahagiaannya jika tidak berselfie. Budaya keharusan berselfie terpatri dalam benak sebagian peserta aksi kendati tidak disadari oleh dirinya sendiri. Tapi tenang saja, di sini penulis konsisten untuk tidak meninjau budaya selfie dari sisi “hitam-putih.”

Dari pandangan semiotika, kegiatan berselfie hingga hasil fotonya itu laksana sign (tanda) yang mengurai maknanya sendiri, bahwa individu atau sekelompok orang telah menjadi “bagian dari Aksi Bela Islam” dan mengemukakan bukti bahwa ia ikut aksi. HP dan smartphone menjadi alat yang menentukan eksistensi maupun aktualisasi diri. Alat-alat ini menjadi hujjah bahwa peserta aksi mengaplikasikan isyhadu bi anna muslimun (saksikanlah bahwa aku adalah seorang muslim) dan menampakkan dakwah Islam. Dari sini terbukti bahwa alat dan teknologi memang cukup berpengaruh menentukan pemenuhan kebutuhan manusia, bahkan menentukan prilaku manusia itu sendiri.

Berselfie menjadi “wacana” yang berkuasa dalam menentukan apa yang harus dilakukan manusia ketika ikut aksi. Pada dasarnya tiap-tiap individu peserta aksi menganggap hal ini sebagai hal yang lumrah, bahkan mungkin beralasan bahwa itu hanya “salah satu cara” ekspresi saja. Tetapi jika mengacu kepada kegiatan konsumsi dalam pandangan sosiolog dan filsuf Perancis Jean Baudrillard, khususnya dalam karyanya The System of Objects maupun Consumer Society, berselfie sebagai kegiatan konsumsi harus dilihat sebagai kebebasan “ilusif” bukan sebagai hal yang lumrah atau bukan hanya sekedar cara berekpresi saja. Kegiatan selfie justru diharuskan oleh akibat budaya konsumerisme. Sehingga secara tak sadar menata masyarakat manusia, termasuk peserta aksi, agar ‘terharuskan’ berselfie. Sedangkan HP dan smartphonenya tidak melulu dipandang sebagai nilai-fungsi maupun pemuas kebutuhan, melainkan juga menjadi sebuah “tanda” dalam pengertian tradisi Saussurian. Fakta bahwa berselfie selalu ramai di tiap Aksi Bela Islam dari awal hingga akhir acara, itu bukti bahwa selfie telah membudaya di kalangan peserta aksi. Itu juga bermakna bahwa selfie menurut kelompok individu tertentu merupakan keharusan yang kadang tak disadari. Bukan hanya salah satu cara ekspresi. Ya, mungkin kegiatannya dianggap lumrah, tetapi hasil dari sebuah tatanan dalam budaya konsumerisme.

Objek konsumsi dalam hal ini bukan sekedar pemuas kebutuhan melainkan sudah taraf “membangkitkan hasrat” tanpa sadar. Hasrat untuk memiliki bukti eksistensi dan aktualisasi diri atau bahkan tujuan lain. Selain itu, berselfie melahirkan pula hasrat untuk memenangkan perang opini dan membela Islam melalui media-sosial, bahwa dirinya berpihak pada Islam atau pun yang semakna dengannya. Memenangkan opini memang menjadi kewajiban setiap Muslim, namun berselfie dan penampakan hasil fotonya merupakan akibat dari konsumerisme. Tidak salah memang, jika diniatkan agar menjadikan kalimatullah hiya al-‘ulya. Namun setidaknya telah menunjukkan, konsumerisme ini menentukan apa yang harus dilakukan para peserta aksi. Maka dari itu para peserta aksi pun sedikit-banyak ditentukan oleh teknologi HP dan smartphonenya. Buktinya bersamaan dengan rangkaian Aksi Bela Islam beberapa waktu lalu, sempat mengemuka pula wacana Muslim Cyber Army, karena barang, alat atau pun benda seperti HP dan smartphone itu turut menentukan manusia dalam menyadari posisinya dalam lingkup tatanan sosial. Itu sebabnya dalam perspektif Baudrillard, konsumsi jangan lagi dipahami hanya bernilai guna melainkan juga sebagai jaringan "tanda" dan “penanda”, dalam konteks topik tulisan ini: bahwa individu atau sekelompok orang berada di pihak kaum Muslimin ataukah berseberangan. 

Konsumsi demikian berkuasa menjadi penghubung antara manusia dengan tatanan sosialnya. Bagi Baudrillard yang juga pemikir berpengaruh dalam ilmu semiotika, bagi manusia di zaman yang konon disebut postmodern ini, pertukaran komoditas yang ada maupun kegiatan konsumsi telah mendahului serta membentuk kesadaran manusia. Budaya selfie para peserta Aksi Bela Islam, menghubungkan para pelaku selfie dengan tatanan sosial di sekitarnya, bahkan juga menentukan hubungan statusnya, sebagai pembela Islam atau bukan, turut mengklasifikasikan sebuah kelompok masyarakat. Sebagaimana konstruksi kesadaran manusia dalam tradisi strukturalisme dan poststrukturalisme, ia bukan ditentukan oleh manusianya sendiri melainkan tatanan sosial dan budaya yang sudah mapan, dalam hal ini berselfie akibat budaya konsumerisme. Uraian budaya selfie ini harus dimaknai demikian lantaran di sini kita mendudukan budaya dalam arti semiotis. Semata agar kita memahaminya secara ilmiah dan mendalam. Wallahu’alam.

Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam

1 Komentar