Radikal dan Makar: Simulacra di Zaman yang Tergesa-gesa

07 Mei 23:19 | Dilihat : 757
Radikal dan Makar: Simulacra di Zaman yang Tergesa-gesa ilustrasi

"Radikal" dan "Makar" dua dari sekian kata yang sering kali distigmakan kepada umat Islam. Lebih-lebih dengan adanya Aksi Bela Islam secara kontinyu, termasuk aksi 505 kemarin. Laksana dunia yang dikonstruksi dari sebuah image oleh para imagologi di zaman yang konon bernama posmodern. Sebuah revolusi simulacra yang mengejawantah dalam dunia yang tergesa-gesa. Di masyarakat media dan konsumsi, manusia terjebak dalam gelombang citra dan stigma. Sebuah simulacra yang tiada lagi ingin berhubungan dengan realitas yang sebenarnya. Mentang-mentang ia sudah merebut alam pikiran dan hati manusia dengan alat media-komunikasi massa.

Penyematan "radikal" dan "makar" sesungguhnya tidak dikenal dalam realitas ajaran Islam sendiri. Namun bukankah simulacra itu selalu berkonsekuensi pada hiperealitas. Ia punya hukum sendiri, memasukan umat manusia ke alam hiperealitas. Ini bukan hal baru, jauh di zaman dahulu kala musuh-musuh umat Muhammad SAW memang gemar menyematkan sebuah representasi atau -katakanlah- sebuah image untuk kaum Muslimin. Image itu awalnya merupakan representasi dari realitas ajaran Islam itu sendiri. Yang penting menyematkan Islam dengan bumbu-bumbu menyeramkan, benar salah sih urusan belakangan. 

Percaya atau tidak itu sudah dilakukan kafir Quraisy, sebagai generasi awal imagologi yang menciptakan stigma dan gambaran keliru untuk umat Muhammad SAW. Kedua, image dan stigma belakangan malah menutupi realitas. Sehingga masyarakat perlahan tapi pasti memasuki hiperealitas, bahkan imagologi yang menciptakan image itu 'lupa' dengan realitas yang mereka 'kubur' sendiri. Lupa untuk mengenali Islam dari sumber ajarannya dan fakta-fakta keagungan para tokoh awal Islam. Tokoh-tokoh awal Islam (para salaf) terasa istimewa karena mereka yang pantas menjadi representasi pribadi Islam yang sejati. Ajaran Islam sendiri mengakui itu. Tapi ada yang lebih buruk dari sekedar 'lupa' lantaran image yang dibuat sendiri tadi. Yakni ketika image menggantikan realitas yang telah sirna oleh rekaan para imagologi, image pun menjadi simulacrum murni.

"Radikal" dan "makar" bisa dipergunakan oleh para imagologi. Seperti halnya "sign" atau "tanda" ini yang terurai dalam teori kedustaan. Itu sudah nasib "tanda" dalam pengandaian semiotika kan?! "Tanda" ditakdirkan hanya sebagai entitas kebudayaan, hasil konstruksi masyarakat manusia. Di situlah hubungannya, "radikal" dan "makar" sebagai image maupun "tanda" yang disematkan pada kaum Muslimin terbukti disalahfungsikan. Teori kedustaan memang mengandaikan bahwa tanda bisa berfungsi sebagaimana mestinya namun bisa juga disalahfungsikan. Dalam konteks ini "radikal" dan "makar" disalahfungsikan untuk menyampaikan komunikasi yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan. Dusta di sini bermakna suatu image yang tidak sesuai realitas sebenarnya. Para imagologi di zaman ini menjadikan citra dan gambaran Islam begitu buruk serta berbahaya bagi mereka. Terbukti dengan ulah para imagologi yang melakukan hal tersebut secara berulang-ulang.

"Radikal" dan "makar" yang konon harus disematkan pada Islam dan kaum Muslimin itu semacam alam hiperealitas. Wacana yang direkayasa atau realitas yang didistorsi. Sebuah wacana yang menciptakan suatu duplikasi/tiruan yang salah dari kaum Muslimin "yang sebenarnya". 

Bagi para imagologi, image rekayasa terhadap Islam menjadi lebih penting daripada ajaran Islam yang sebenarnya. Jika mereka fair, seharusnya mereka mengetahui ajaran Islam dari Alquran, sunnah Rasulullah dan para sahabat, serta fakta-fakta kehidupan mereka. Namun tetap saja, image rekayasa dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur. Buktinya banyak umat Islam sendiri mempercayai image "radikal" dan "makar" hasil rekaan para imagologi itu. Jika kita generasi muda Islam enggan memaksakan diri menyelami realitas ajaran Islam, lantaran dunia yang tergesa-gesa saat ini seolah tak mengizinkan kita mengenali realitas agama kita, pastilah kita akan memasuki simulacra itu. Akhirnya pun menjadi penghuni alam hiperealitas, mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap Islam: Menjadi umat Islam yang anti-Islam. Na'udzubillah.

Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam

1 Komentar