Kapitalisme Ciptakan Kesenjangan Ekonomi

01 Mei 15:17 | Dilihat : 825
Kapitalisme Ciptakan Kesenjangan Ekonomi Ilustrasi: Demo buruh menolak Kapitalisme. [foto: arahjuang.com]

September 2016 Badan Pusat Statistik mengeluarkan data bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70%) dengan prosentase orang miskin didaerah perkotaan hingga menduduki angka 7.73% sedangkan prosentase penduduk miskin di pedesaan mencapai angka 13,96%. (https://www.bps.go.id).  Satu sisi yang lain, Maret 2017 Jawa Pos mengeluarkan data 20 orang terkaya di Indonesia. Posisi pertama diduduki oleh Budi Hartono yang hartanya mencapai USD 9 Miliar atau Rp. 117 trilliun. (http://www.jawapos.com/, 22 Maret 2017). 

Kesenjangan jumlah si kaya dan si miskin ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, ternyata dibanyak Negara yang menerapkan perekonomian kapitalis juga mengalami hal yang sama. Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa 10% orang terkaya di 34 negara  yang tergabung dalam OEDC sekarang ini berpenghasilan 9,5% kali lebih banyak daripada kelompok 10% penduduk termiskin. Negara Rusia menempati peringkat pertama dengan ketimpangan ekonomi terbesar, dimana 74,5% kekayaan Negara dikuasai 1% orang termakmur di negeri tersebut. (www.hidayatullah.com, 30/4/2017). Inilah fakta ekonomi masyarakat kapitalis saat ini.

Kapitalisme tidak Menyejahterakan Seluruh Rakyat

Berharap bisa hidup sejahtera dengan terpenuhinya kebutuhan pokok maupun penunjang adalah harapan bagi semua manusia. Tapi apa daya ketika system kapitalisme  diterapkan. Manusia termakan oleh system buatannya sendiri, Kapitalisme yang dari akar katanya telah mengindikasikan sebagai ideology matre dan berpihak kepada yang matre. Artinya system ini melindungi, menjaga dan memfasilitasi orang-orang yang bermodal/berkapital untuk terus menumpuk kekayaan bahkan kalau bisa menguasai seluruh kekayaan alam yang ada. Maka tidak heran jika ada orang kaya di Indonesia yang bisa memiliki pulau. Contohnya: Tommy Winata yang memiliki Pulau Bule di Lampung, Surya Paloh dikabarkan juga memiliki pulau pribadi di wilayah Kepulauan seribu. (www.merdeka.com, 30/11/2016).

Jurang pemisah antara yang kaya dan miskin ini semakin mengangga dengan kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat kecil. Seperti kebijakan pemerintah terkait kesehatan yang memaksa rakyat untuk mendaftar menjadi peserta BPJS. Dengan menjadi peserta BPJS maka rakyat wajib membayar premi tiap bulannya. Bahkan ada pemberian sanksi bagi yang menunggak dalam pembayarannya. Padahal 65% penghasilan keluarga miskin adalah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. (http://finansial.bisnis.com, 22/8/2016). Bagaimana mau membayar uang premi BPJS? Bagaimana pula dana untuk pendidikan putra putri mereka? Bagaimana juga biaya sandang dan papan mereka? Sungguh, betapa berat beban yang dipikul oleh rakyat miskin di negeri ini.  Bila kondisinya demikian, bagaimana mereka berharap bisa menunaikan ibadah haji kalau untuk mencukupi kebutuhan pokok saja masih kesulitan?.

Terapkan Islam, Sejahtera Semuanya

System kapitalisme dengan kebijakan liberalnya telah gagal mensejahterkan rakyat. Sistem ini hanya  disenangi oleh para milyader/pemilik kapital dan menjadi musuh bagi rakyat miskin. Melalui kebijakannya yang liberal, kapitalisme telah berhasil menyedot uang rakyat miskin dan meninabubukkan para konglomerat dengan terus mengembangkan sayapnya untuk menguasai sumberdaya vital negeri ini. Intimidasi kapitalisme terhadap rakyat kecil terus berlanjut dengan adanya tarikan pajak dibanyak aspek. 

Jelas sudah bahwa Kapitalisme bukanlah system yang baik. System yang baik adalah system yang mensejahterakan seluruh rakyat tanpa pilih pilih, memberikan pelayanan dengan kualitas yang sama kepada semua rakyatnya, dan menjadikan orang menjadi baik dan selamat dunia dan akhirat. Kondisi yang demikian ini tidak akan ditemukan dalam sistem kapitalisme. Sistem kapitalis mengajari riba, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, hukum yang tumpul dihadapan penguasa, inilah diantara bukti ketidakmampuan kapitalisme menjadi sistem yang baik. 

Berbeda dengan sistem Islam –Khilafah- yang lahir dari al Quran dan al Hadist. Dua sumber hukum ini berasal dari pencipta manusia. Sehingga keberadaan aturan yang diterapkan oleh sistem Khilafah adalah apa apa yang disyariatkan oleh Allah. Kesenjangan ekonomi antara rakyat satu dengan lainnya tidak akan terjadi sebagaimana saat ini. Meskipun dahulu ada Abdurrahman bin Auf yang kaya raya bukan berarti terjadi gap ekonomi. Kekayaan Abdurrahman diperoleh melalui jalan yang sesuai syariat, bukan dengan mengambil SDA milik umum. Bahkan harta yang beliau miliki sepertiganya dipakai untuk membebaskan hutang para pemilik hutang.

Adapun faktor lain yang menjadikan sistem Khilafah dengan syariahnya mensejahterakan semua pihak adalah: pertama, pemberian jaminan kesejahteraan bagi seluruh warga tanpa membedakan muslim atau non muslim. Kedua, keharaman individu untuk menguasai kekayaan alam, jalan, pulau yang berstatus milik umum. Ketiga, Islam melarang menimbun harta, sehingga mereka yang kelebihan harta diperintahkan untuk disalurkan kepada saudaranya yang membutuhkan sehingga bisa untuk membuka usaha. 

Keempat, sistem zakat dalam Islam akan membantu orang-orang yang lemah. Kelima, negara membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi kaum laki-laki sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dalam mencari nafkah. Keenam, keharaman riba menjadikan transaksi ekonomi berjalan positif dan menentramkan. Ketujuh, mekanisme pasar yang dikontrol dengan baik sehingga distribusi barang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Kedelapan, pemakaian mata uang dinar dan dirham yang bebas dari inflasi keuangan dan faktor-faktor lainnya.

Apabila sudah sedemikian terang, tunggu apalagi, sudah saatnya umat Islam bangkit dan meninggalkan sistem kapitalisme. Bergerak untuk menggantinya dengan penerapan syariah Islam dalam bingkai Kekhilafahan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw yakni Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Bukan hanya umat Islam yang akan sejahtera, tetapi seluruh umat manusia dan alam semesta akan merasakan berkahnya ketika syariah Allah yang diterapkan. Bukankah hal ini sudah difirmankan oleh Allah Swt bahwa sesungguhnya Islam itu adalah rahmatan lil’alamin. Wallahua’lam bi ash showwab. 

Puji Astutik
Penulis Buku "Hayya Ekspresikan Islammu"

1 Komentar