Ketika Tuhan Memilih

20 April 08:00 | Dilihat : 2885
Ketika Tuhan Memilih Sebuah pohon besar tumbang akibat hujan dan badai di Bandung, Rabu siang 19/04/2017)

Acep Iwan Saidi
Pemikir Semiotika

Bandung, 19 April 2017. Sekira pukul 13.30 saya tiba di kantor. Saat hendak memarkir mobil, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Bukan hanya hujan, tapi yang mengejutkan adalah angin yang bertiup demikian kencang, hingga mobil saya juga terasa bergoyang. Dua buah motor yang diparkir di depan saya terjungkal. Saya menjadi miris. Ini kejadian pertama yang saya alami sepanjang hidup. Angin seperti berputar, menggulung, lalu begerak dengan cepat ke utara, ke arah saya, dan berlari ke belakang gedung. 

Entah karena apa, sekonyong-konyong terpikir di benak saya: ini pasti ada hubungannya dengan pilkada DKI. Angin itu bergerak ke utara, seperti ada yang hendak disapu. Tapi, itu cuma selintas. Pikiran lain mendesak muncul. Saya harus segera keluar dari mobil. Dengan mulut komat-kamit mengucapkan doa yang tidak runut, saya meloncat dan berlari ke arah gedung. Saya baru merasa tenang setelah berada di lantai tiga, tempat di mana saya bekerja. 

Di lantai tiga, seorang teman sedang duduk tenang di hadapan laptopnya. Saya ajak dia ke jendela sambil mengabarkan bahwa di luar sedang terjadi badai. Ternyata hujan sudah reda. Pohon mahoni di kejauhan bahkan tampak mematung. Tapi, dua buah sepeda motor di tempat parkir masih tampak terjungkal. Itu cukup menolong untuk bisa meyakinkan teman saya:  bahwa badai baru saja berlalu.

Beberapa saat kemudian telepon seluler saya mulai sibuk berdering. Kabar badai datang dari mana-mana: pohon tumbang, papan reklame (billboard) terjungkal menimpa mobil, hujan es, dan lalulintas macet total di ruas jalan tertentu.  Beberapa gambar saya teruskan pula ke berapa teman dan grup WA (WhatsApp).

Kode Enigmatik

Berita itu kemudian saling tumpang tindih dengan kabar dari Pilkada Jakarta, khususnya tentang perhitungan cepat (quick-count). Anies Sandi memimpin sejak detik pertama, hampir pada semua lembaga survey yang melaporkan. Itu yang terus bermunculan di layar handphone saya. Lintasan pikiran saat di mobil tadi pun kembali muncul. Terbersit keinginan untuk mengekspresikan pengalaman tersebut pada beberapa orang: bahwa angin kencang yang bertiup ke arah mobil saya adalah penanda tertentu yang berkaitan dengan Pilkada Jakarta. Angin itu telah menumbangkan pohon-pohon besar!

Tapi, segera saya urungkan niat tersebut. Banyak orang tahu bahwa saya pemikir semiotika. Tapi, ini sepertinya berbau mistik. Jika disampaikan ke publik, nanti orang akan bilang rupanya semiotika itu tahayul. Akhirnya, saya genggam saja perasaan itu sendiri. Saya ingin tahu apakah kemenangan Anies-Sandi telak atau tidak. Jika telak, saya harus meyakini bahwa angin kencang tadi memang sebuah penanda. Mengacu pada semiotika Peirce, ini adalah singsign: tanda yang sudah spesifik tapi kebenarannya belum pasti. Dalam perspektif semiotika Barthes, ini adalah kode hermeneutik, sesuatu yang masih mengirim teka-teki (enigmatik). 

Faktanya, pada perhitungan cepat Anies-Sandi tidak menang 80%. Namun, berbeda di atas 10% dengan Ahok-Djarot, bagi saya  cukup mencengangkan. Jika menang, semula saya mengira bahwa perbedaannya tidak akan berada di atas 5%. Meskipun pada fase terakhir mayoritas lembaga survey mengunggulkan Anies, saya masih tetap sangsi. Dan yang lebih mencengangkan adalah perbandingan suara yang diperoleh Ahok-Djarot jika dibandingkan dengan perolehan suara mereka di putaran pertama. Pada putaran kedua ini Ahok mendapat tambahan dukungan dari dua partai politik, yakni PKB dan PPP. Di samping itu, dukungan PBNU juga tampak semakin eksplisit. Tapi, prosentasi perolehan suaranya tidak bertambah signifikan. Alih-alih bertambah, lembaga survey tertentu bahkan mencatat  berkurang. 

Tanda yang Legitimate

Menemukan fakta demikian saya menjadi yakin bahwa angin yang bertiup kencang itu, yang dalam beberapa detik menjungkalkan dua sepeda motor di depan saya, yang membuat beberapa pohon besar tumbang, billboard patah, dan lain-lain itu memang berhubungan dengan pilkada DKI. Lantas bagaimana merasionalisasinya? 

Mari berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan dalil yang canggih dan sengit. Mari kita buka sejarah perjuangan Islam. Pada banyak peristiwa Tuhan selalu mengirim tanda tidak rasional jika dilihat dari perspektif pikir manusia: burung ababil, badai gurun, laut yang terbelah, kerikil pada ketepel, dan seterusnya. Tapi, bukankah angin kencang tesebut tidak bertiup di Jakarta? Benar. Dan di atas telah saya jelaskan, angin tersebut adalah sebuah penanda yang mengingatkan bahwa ia memiliki kaitan dengan pilkada Jakarta. Artinya, kemenangan Anies-Sandi itu semata-mata pertolongan Tuhan. Dan angka kemenangan dus angka yang diperoleh rivalnya adalah data yang mencengangkan. Paling tidak, buat saya, itu tidak cukup rasional. Angin itu telah menumbangkan pohon besar.

Jika begitu, apakah Tuhan telah berpihak? Kita mengetahui dengan terang benderang bahwa Pilkada DKI berkaitan erat dengan wacana keagamaan. Bahkan sisi agama-lah yang menjadi bagian terpenting. Kita melihat betapa tajam perbedaan tafsir agama (Islami) dengan tafsir nasionalis terhadap kebhinekaan, toleransi, dan secara umum terhadap Pancasila. Bukan hanya tajam, tapi keduanya tampak tak ingin “bersatu dalam perbedaan” tersebut. Itu sebabnya, beberapa pengamat mengatakan bahwa pilkada DKI telah meninggalkan banyak luka. 

Sementara itu umat Islam sendiri terpolarisasi. Di ranah ini, yang menarik adalah fakta bahwa  keterpecahan itu mula-mula bukan tentang soal dukungan politiknya, melainkan tentang tafsirnya terhadap ayat-ayat Tuhan. Perbedaan tafsir ini kemudian yang menyebabkan ummat berbeda dukungan politik. Mereka yang bersatu dalam gerakan yang disebut “Aksi Bela Islam” (dengan varian Aksi Bela Alquran dan belakang Aksi Bela Ulama) oleh pihak-pihak tertentu disebut sebagai kelompok Islam Garis Keras. Penyebutan ini tentu dengan sendirinya mendefinisikan bahwa ada pihak lain sebagai Islam Garis Lembut—jika tidak mau disebut lembek. Dua kelompok tafsir yang berhadapan ini lantas (atau otomatis) mendukung kubu politik yang sedang berhadapan pula. Kelompok Islam Garis Keras bergerak ke arah Anies-Sandi (sebelumnya juga ke Agus-Sylvi), sedangkan kelompok Islam Garis Lembut ke Ahok-Djarot. 

Tuhan yang Diperebutkan

Lantas, di mana Tuhan? Tentu saja Tuhan berada pada titik pusat tafsir. Pada posisi ini, Tuhan jelas sedang diperebutkan. Tuhan dipanggil dan dirayu agar datang ke para pihak. Dan akhirnya Tuhan memilih Anies-Sandi. Artinya, Tuhan memilih tafsir yang keras. Ini sangat menarik. Sebab, bukankah Tuhan Mahalembut, Mahakasih, Mahasasayang. Tentu kehendak dan hukum Tuhan sepenuhnya berada dalam genggaman tangan Tuhan itu sendiri. Tidak ada yang bisa menolak kehendak-Nya. Barangkali kita hanya bisa menduga: Tuhan memilih yang keras, yang radikal, sebab pelanggaran atas hukum-hukum Tuhan di negeri ini sudah sampai pada tahap radikal pula. 

Namun, tunggu dulu. Apakah tidak terpilihnya Ahok berarti memang Tuhan tidak memilihnya? Bisa jadi tidak bisa ditafsir hitam putih demikian. Tidak dipilih itu artinya dipilih juga, bukan: yakni dipilih untuk tidak dipilih. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Dan pada konfrensi pers-nya Ahok sendiri mengatakan bahwa hasil ini adalah yang terbaik yang diberikan Tuhan. Oleh sebab itu, selain uacapan selamat kita ucapkan kepada Anies-Sandi, selayaknya kita sampaikan juga kepada Ahok-Djarot. Selamat, Bro! Bravo all! ***

0 Komentar