Amerika, Pahlawan Kesiangan yang Suka Mendadak Amatir

08 April 10:49 | Dilihat : 2042
Amerika, Pahlawan Kesiangan yang Suka Mendadak Amatir Ilustrasi tolak pengeboman di Suriah

Pahlawan kesiangan yang legendaris, Amerika atau biasa dijuluki Paman Sam mulai menyerang Suriah kembali. Konon kalau negara satu ini ikut campur biasanya perdamaian tercipta, setidaknya itu klaimnya. Yah, walau pun kaum Muslimin tak akan percaya. Alasannya, tentara Paman Sam kan suka mendadak amatiran, jadi siap-siap saja senjata mereka menyasar saudara Muslim (sipil) Suriah. Tidak seperti gambaran Rambo si jago tembak, tentara khayalan khas Hollywood. Kalau begini Muslimin dan Mujahidin Suriah ibarat memasuki perang Khandaq/Ahzab Kontemporer: Rusia, Rezim Basyar Al-Asad dan Paman Sam ramai-ramai kepung negeri Syam tercinta. Ibarat "tiga sekawan" Yahudi, Quraisy dan Ghathafan yang ramai-ramai menyerang kaum Muslimin Madinah, bulan Syawal tahun 5 Hijriyah.

Biasa pula, seperti yang sudah-sudah, negeri Paman Sam sesumbar menyerang apa yang mereka sebut teroris dan -konon katanya- menghadang pasukan Rusia-Syi'ah Suriah agar tidak membunuh sipil yang tak bersalah. Walaupun fakta di lapangan, tentara-tentara amatir Paman Sam malah berlomba dengan Syi'ah Suriah-Rusia untuk banyak-banyakan membunuh Muslim yang tak berdosa. Warga sipil idealnya dilarang dibunuh oleh hukum internasional yang sekedar pajangan itu.

PBB? Ah, bukannya mereka ini layak mendapat anugerah lembaga ter-impoten sepanjang sejarah. Lebih-lebih jika majikannya (baca: Amerika) sudah bertindak arogan. Laksana hewan peliharaan yang mengikuti arogansi kehendak tuannya. Tak berdaya. Maklum dana PBB banyak kucuran dari paman Sam. 

Lagi pula sudah saatnya berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengharap belas kasih lawan yang kita kira kawan.

Kini Muslim dan pasukan Mujahidin sudah sepatutnya bersiap menghadapi perang Ahzab Kontemporer. Saudara-saudara kita tercinta ini dikepung oleh Ahzab (sekutu) mulai dari duet-teroris Rusia-rezim Basyar serta negeri Paman Sam si amatiran legendaris dengan 'segerobak' sekutu-sekutunya. Namun kaum Muslimin saat ini tidak harus membuat Khandaq (parit) hanya perlu berteguh diri melawan arogansi negara yang -konon katanya-adidaya. 

Kita sering menang saudaraku betapa pun kuat dan banyaknya musuh. Lihat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya di perang Ahzab: adidaya Quraisy (tuannya bangsa Arab), Yahudi (kaum kaya licik nan beringas) dan Ghathafan (yang anggotanya banyak) ramai-ramai menyerang Madinah, peradaban yang baru saja berusia 5 tahun.

Kalau begitu ambil saja 'ibrah beberapa ayat surat Al-Ahzab (9-27), di mana menurut Allah Rabbul 'Izzah yang paling berbahaya bagi umat Rasulullah adalah musuh dalam selimut (munafiq), yang menggembosi Islam dari dalam, yang bekerja sama dengan musuh. Itu sebabnya Allah lebih banyak berbicara tentang kaum munafiq daripada pasukan Ahzab itu sendiri.

Jika kita kuat tekad, bersatu dan tawakkal dalam menghadapi peperangan, pasti Allah memberikan kemenangan. Tidak peduli seberapa hebat senjata lawan, tak peduli seberapa banyak pihak lawan. Lantaran kemenangan itu idealnya haq kaum Muslimin. Sejarah pun berkali-kali membuktikan. Yap, hanya harus menggenapkan syarat-syarat kemenangan saja. 

Semangat terus saudaraku Muslim Suriah, dukung terus mujahidin-mujahidin kita. 

Ingat, kita sungguh beruntung banyak kelompok mujahidin di negeri Syam kita. Kenapa? Nabi SAW sendiri yang menjamin keutamaan serta kelurusan mujahidin Syam akhir zaman. 

Yang menentukan kemenangan bukan senjata yang lebih canggih dari lawan. Melainkan ketaqwaan dan hati yang teguh dalam menghadapi peperangan. Waspada pula terhadap munafiq di belakang kita kawan. Khawatir menjadi Quraizhah 'kontemporer' atau bahkan Muslim 'abu-abu' yang loyal dengan lawan. 

Jadilah seperti Ali yang menghajar lawan...

Jadilah seperti Salman yang taktiknya sukses membuat pertahanan...

Jadilah penentu kemenangan, layaknya Hudzaifah Ibnul Yaman...

Sungguh, kemenangan perang Ahzab Kontemporer di depan mata wahai kawan...

Hingga kita bisa dengan gagah berkata, "Mulai sekarang, kita (kaum Muslimin) yang menyerang mereka, bukan lagi mereka menyerang kita." (al-hadits)


Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam

1 Komentar