Indonesia Surga Narkoba

30 Maret 13:50 | Dilihat : 555
Indonesia Surga Narkoba Ilustrasi

Peredaran narkoba di Indonesia kian miris. Kepala Subdit Lingkungan Kerja dan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Ricky Yanuarfi menyebut Indonesia merupakan sasaran utama pemasaran narkoba di wilayah Asia Tenggara. Banyak jaringan internasional menjadikan Indonesia sebagai pasar lantaran harga narkoba bisa melambung tinggi. "Sabu murah di China, harganya tidak lebih Rp2 juta per kilogram. Di Indonesia hampir Rp2 miliar per kilogram," ujar Ricky dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (25/3/2017). "Dan ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi bandar," lanjut dia.

BNN mencatat sebanyak 2,2 persen dari total penduduk Indonesia adalah pengguna narkotika. Dari data tersebut, lebih dari 50 persen pemakai adalah orang yang bekerja. Berdasarkan survei BNN, ganja yang beredar di Indonesia sebesar 119 ton per tahun. Sementara itu, peredaran sabu di Indonesia selama setahun mencapai 230 ton. Jumlah tersebut baru yang muncul di permukaan. "Di Indonesia daya beli tinggi, pecandunya banyak. Kemudian mungkin pola hukum kita belum keras," kata Ricky. (Sumber: Kompas.com) 

Kapitalisme Menumbuhsuburkan Narkoba

Dalam sistem kapitalisme yang tegak di atas ide sekularisme dan kebebasan, halal dan haram tidak lagi menjadi standar seseorang dalam mencari penghasilan. Hal ini menjadikan masyarakat kapitalisme terjerat ke dalam lembah kenistaan karena menghalalkan segala cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk bisnis haram narkoba. Sistem kapitalisme memberikan peluang bagi individu untuk berbuat maksiat dengan mengorbankan hak dan kepentingan orang lain demi materi. Ditambah regulasi pola hukum minim, bukan hanya hukuman yang seharusnya diperberat, tapi juga pada sistem hukum, di mana telah terjadi perbedaan perlakuan antara pecandu dan pengedar serta ketidakstabilan ekonomi menjadi faktor utama peredaran narkoba berkembang pesat di Indonesia.

Indonesia dianggap pasar menggiurkan untuk bisnis haram narkoba karena berbagai faktor antara lain, pertama masih besarnya angka kemiskinan massal. Menurut data bps.go.id pada bulan September 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70 persen). Tingginya angka kemiskinan di Indonesia menjadi suatu fenomena yang tak terbantahkan. Ketimpangan sosial yang kian melebar antara si miskin dan si kaya akibat kapitalisme membuat negara semakin pesimis dan mustahil menghapus kemiskinan massal yang kini terjadi di Indonesia. Tingginya kebutuhan ekonomi masyarakat membuat banyak orang yang tertarik dengan tawaran menggiurkan dalam bisnis haram narkoba baik menjadi kurir, pengedar hingga bandar.

Kedua negara gagal menanamkan ketakwaan individu agar menjauhi keharaman narkoba dan gagal mengedukasi masyarakat agar lahir kesadaran terhadap bahaya narkoba. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) jumlah pengguna narkoba di Indonesia berjumlah 5,8 juta orang pada tahun 2015. Pada 2014, 22 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa. Sementara, jumlah penyalahgunaan narkotika pada anak yang mendapatkan layanan rehabilitasi pada 2015, tercatat anak usia di bawah 19 tahun berjumlah 348 orang dari total 5.127 orang yang direhabilitasi di tahun itu. Sedangkan jumlah tersangka kasus narkotika berdasarkan kelompok umur pada 2015 yakni anak usia sekolah dan remaja di bawah 19 tahun berjumlah 2.186 atau 4,4 persen dari total tersangka. Dari data tersebut menunjukkan jumlah pengguna tak kunjung berkurang tiap tahunnya, justru mengalami kenaikan yang signifikan.

Ketiga mandulnya pola atau sistem hukum untuk menciptakan efek jera. Penegakan hukum masih belum keras karenanya bandar yang dihukum sedangkan pengguna cukup direhabilitasi. Ditambah para pengedar ataupun bandar mendapat bonus potongan masa tahanan dengan adanya pemberian grasi menjadikan mereka tidak jera dengan hukuman penjara. Bahkan penjara tidak membuat sadar/tobat dan jera tapi malah menjadi tempat aman bagi jaringan narkoba untuk memperluas bisnisnya. Kasus Freddi Budiman menjadi contoh nyata bahwa penjara tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalankan bisnis haram narkoba bahkan sampai keluar negeri. Sikap ragu pemerintah dalam menerapkan hukuman tegas (pidana mati) juga terkesan lemah tak berdaya menghadapi tekanan dari dunia internasional. Lengkap sudah penilaian para produsen narkoba untuk menjadikan Indonesia pasar terbaik bagi barang haram mereka khususnya di Asia Tenggara.

Islam Kaaffah Solusi Tuntas

Mustahil terjadi pemberantasan tuntas narkoba dalam sistem kapitalis saat ini yang justru menumbuhsuburkan praktek jual beli narkoba. Sedangkan solusi tuntas diperlukan untuk memberantas peredaran dan penggunaan narkoba sampai ke akar-akarnya. Solusi ini hanya dapat kita temukan jikalau sistem Islam dapat diterapkan secara kaaffah. Pelaksanaan sistem Islam secara kaaffah dalam bingkai negara akan menutup semua peluang penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Karena landasan akidah Islam telah mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Terwujudnya ketakwaan individu akan mencegah seseorang terjerumus dalam lingkaran setan kejahatan narkoba.

Khalifah sebagai kepala negara akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu warganya baik papan, pangan dan sandang dan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, layanan kesehatan serta keamanan sehingga alasan ekonomi untuk terlibat kejahatan narkoba tidak akan muncul. Setiap individu juga akan memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundarnya sesuai kemampuan masing-masing.

Secara hukum, dalam syariah Islam narkoba adalah haram. Ummu Salamah ra menuturkan: Rasulullah Saw melarang setiap zat yang memabukkan dan menenangkan (HR Abu Dawud dan Ahmad). Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan tindakan kriminal yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi di mana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat. Jadi produsen atau pengedar besar narkoba bersama sindikatnya yang sangat membahayakan masyarakat layak dijatuhi hukuman berat bahkan sampai hukuman mati. 

Maka hanya sebuah mimpi semata mewujudkan masyarakat yang bersih dari narkoba dalam sistem kapitalisme saat ini. Saatnya kita bersungguh-sungguh mewujudkan janji Allah Swt dengan diterapkannya Islam kaaffah dalam naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah, niscaya terwujud masyarakat yang bersih dari narkoba untuk menyelamatkan generasi dan masa depan bangsa. #IslamRahmatanLilAlamin #IndonesiaMoveUp

Ummu Naflah
Aktivis Perempuan di Cikupa-Tangerang

1 Komentar