Sistem Kejamaahan Umat Islam

27 Maret 07:05 | Dilihat : 1050
Sistem Kejamaahan Umat Islam Ustaz Iyus Khaerunnas Malik

Membedah umat Islam Indonesia sesungguhnya mengupas sistem kejamaahannya yang efektif dan efisien. Efektifitas ditandai dengan kemampuan visi dan prediksi yang jauh melampaui batas-batas teritorial (lokal, nasional, regional, internasional dan celestial—dunia-akhirat). Sedangkan efisiensi ditandai dengan pola hidup teratur, terukur, terstruktur, terspesialiasi peran dan fungsi sosialnya serta tersebar rasa keadilan, kesejahteraan dan kemakmurannya secara merata.

Alangkah naif andaikan umat Islam hanya sekumpulan individu atau kelompok yang merasa dirinya penting–seperti fenomena egoisme sektoral; ini wilayah saya, marga saya, paham saya, kelompok saya, mazhab saya, budaya saya dsb–yang lalu berlomba menta’rifkan diri sebagai elemen yang lebih penting dan lebih hebat dari yang lainnya. Umat Islam yang tersistem dalam kejamaahan akan menta’rifkan dirinya bahwa semua elemen umat adalah penting. Berlandaskan pada hadis Nabi, ada empat pilar penyangga dunia yaitu ulama, umaro, agniya dan doanya orang-orang faqir. Memahami sistem kejamaahan konsekuensinya sama penting antara kedudukan ulama (pemberi fatwa: dakwah bilisan/bilkitabah), umaro (pelaksana fatwa: dakwah dengan tangan), agniya (donatur, muzaqi, munfiq—lembaga zakat atau baetul mal, dsb), dan fuqara (orang-orang faqir yang berjuang di jalan Allah).

Ta’rif ”Sistem”

”Sistem” merupakan terjemahan dari manhaj, sabil, tartib, din, dsb. Menurut pakar manajemen ”sistem adalah kumpulan dari berbagai elemen baik formal maupun nonformal, longgar atau abstrak yang saling berkomunikasi, berinteraksi dan bekerjasama untuk mewujudkan harapan dan tujuan bersama.” Elemen-elemen tersebut menyatu karena diikat oleh landasan asasi (Al-Quran dan Sunnah Rasul) dan tujuan luhur (terciptanya masyarakat darussalam). Masyarakat darussalam adalah masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Ibarat jalinan antar molekul—meminjam istilah biokimiawi—yang diikat oleh ikatan khusus yang disebut binding energy (energi ikat). Maka dalam kontek kejamaahan ikatan tersebut adalah kesamaan aqidah / syahadat: laa ililaaha illa Llah—Muhammad Rasulullah

Dengan sistem kejamaahan kemajuan umat akan mudah dicapai. Diawali dengan saling mengenal, saling mengerti, saling bekerjasama, saling memberi dan berbagi, saling merasa senasib sepenanggungan, saling melengkapi dan saling menyatu diri—yang dalam istilah agama disebut silaturrahim, ukhuwah, tafahum, takamul, takaful ijtima’iy dan wihdatul ummah. Andaikan proses ini tidak terjadi, maka wihdatul ummah, rasa-rasanya jauh panggang dari api.

Media Sistem Kejamaahan

Media sistem kejamaahan adalah komunikasi baik antar pimpinan kelompok, individu- individu dalam kelompok, kelompok dengan kelompok dsb. Komunikasi yang efektif dapat terjadi andaikan antar umat Islam atau kelompok Islam berada pada posisi sederajat dan dalam suasana yang saling membuka diri, penerimaan diri dan proses belajar. Andaikan ada sifat-sifat tinggi hati, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, iri dengki dsb, maka tak akan terjalin komunikasi efektif—sampai kiamat pun.

Perlu diperhatikan—berlandaskan qs al-hujurat (49): 11-12, ada enam hambatan komunikasi, yaitu 1) saling mengolok-olok antar kelompok—seperti ungkapan terhadap santri ”dasar kelompok sarungan!” 2) saling mencela—seperti ungkapan ”dasar kampungan!” 3) saling memanggil dengan gelar atau predikat yang buruk—seperti ”dasar aliran sesat”, ”si kafir”, ”si murtad” tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara syar’i, 4) prasangka negatif—seperti ungkapan ”jangan-jangan teroris! Bahay itu kelompok radikal” 5) mencari-cari kesalahan atau aib orang lain—seperti ”ustad aji mumpung”, ”kyai sejuta rupiah”, ”kyai amplov”, 6) saling menggunjing—ustad sih ustad, ada yang bening dikit, sikat! Dasar ustad tukang kawin dsb.

Terjadi ironi di negeri kita giliran orang berpoligami yang dibenarkan secara syar’i diributkan—malah diperketat dengan aturan, sementara permesuman, perselingkuhan, perzinahan, kumpul kebo dsb—yang menurut hadis bilamana satu orang berzina maka 40 rumah terkena dosanya. Coba kalikan dengan ribuan jumlah pelacur dan berapa konsumennya di negeri kita—ditambah dengan pelacur terselubung. Kalikan semuanya dengan 40 rumah, bukan jumlah yang sedikit tentunya.

Berbenah dan Menyatu Diri

Rasulullah bersabda; ”Akan datang fase zaman kepada kalian dimana masa-masa sesudahnya bakal lebih buruk dari masa-masa sebelumnya. Sehingga kalian bertemu dengan Rabb kalian.” Renungkan berapa jumlah pecandu narkoba sekarang? Berapa yang mati karena overdosis? Berapa jumlah kemiskinan di negeri kita? Berapa jumlah pengangguran pada usia produktif antara 15-45 tahun sekarang? Jumlahnya banyak dan mayoritas kaum muslimin. Lalu berapa jumlah penduduk yang tidak dapat bersekolah? Termasuk bagaimana menghadirkan sosok pemimpin muslim yang berkualitas. Seharusnya hal-hal inilah yang lebih strategis untuk dipikirkan dan dipecahkan secara bersama-sama oleh umat Islam, bukan justru hal-hal kecil seperti fur’iyah atau khilafiyah.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, entah individu muslim (kecuali Rasulullah saw dan para nabi) atau kelompok-kelompok muslim. Ada ungkapan yang indah dari Imam Hasan Basri, seorang ulama besar pada zaman tabi’in, ketika ditanya: ”wahai Hasan Basri, apakah engkau mukmin?” Beliau menjawab. ”Insya Allah saya mukmin. Aku khawatir ketika aku menjawab ya aku mukmin, ternyata justru banyak amalanku yang bukan amalan orang beriman sehingga aku diceburkan ke dalam neraka karenanya.” Inilah ketawaduan seorang Imam Besar di zaman tabi’in. Lalu kenapa banyak di antara kita justru bersikap angkuh dan sombong mengatasnamakan ”kebenaran” ?

Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla. Mari kita berikhtiar wujudkan ukhuwah Islamiyah, wihdatul ummah... untuk memenangkan Islam di negeri yang kita cintai ini, termasuk memilih pemimpin yang beriman, soleh, amanah, profesional, kualifaid... tentu saja dengan optimal, setelah itu tawakkal kepada Allah. Dan Allah lah yang nanti akan menggerakan kekuatanNya untuk memenangkan kaum muslimin di NKRI yang kita cintai, Allahu Akbar!!!
Wallahu a’lam bishawab. 

Iyus Khaerunnas Malik
Ketua Eksponen 212 Bogor Raya dan Ketua Yayasan Bidik Global

1 Komentar