Pesantren, Ulama dan Peradaban

21 Maret 13:44 | Dilihat : 647
Pesantren, Ulama dan Peradaban Ijtima Nasional Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) di aula Masjid Az Zikra, Sentul, Bogor. (foto: saura islam)

Ada banyak hal yang menarik dan penting sepanjang kehadiran penulis dalam agenda Ijtima’ Nasional Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI), 19 – 20 Maret 2017 yang diselenggarakan di Masjid Az Zikra Sentul Bogor. Agenda strategis para pimpinan pesantren ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan cendekiawan muslim nasional seperti  Prof. Dr. KH. Didin Hafhiduddin, Ms, Dr. KH Ma’ruf Amin, KH Ahmad Cholil Ridwan, Lc, Dr. H. Ahmad Heryawan, Lc, MM, Dr. H. Adian Husaini dan Dr. H. Muhammad Syafi’I Antonio serta KH Muhammad Arifin Ilham sebagai tuan rumah. 

Perhelatan BKsPPI ini secara serius menandaskan pentingnya optimalisasi peran ulama dan pesantren sebagai pilar kemajuan peradaban Islam melalui gerakan dakwah di berbagai bidang kehidupan sosial. Dalam perspektif historis ditegaskan bahwa pesantren melalui ulama dan santri merupakan pelopor terdepan sekaligus benteng terakhir bagi pertahanan aqidah dan perjuangan umat Islam dalam melawan penjajahan sekaligus perjuangan mewujudkan kejayaan Islam di nusantara.  

Tokoh seperti M. Natsir dan KH Sholeh Iskandar adalah sosok pahlawan ulama yang dengan segala kegigihannya memperjuangkan dan mempertahankan negeri ini dari penjajahan. keduanya adalah sosok mujahid pada masa damai maupun perang. Sebab, selain sebagai pejuang dan mujahid, sosok ulama adalah pencerah dalam kegelapan kehidupan, penjaga moral bangsa sekaligus pengawal visi religius berbangsa dan bernegara. Dalam arus hegemoni ideologi sekuleristik, peran ulama dalam meluruskan arah bangsa menuju jalan kemuliaan Islam sangat dibutuhkan. 

Ulama dan pesantren adalah dua kata yang saling berkaitan. Ulama adalah pewaris para nabi yakni orang  berilmu yang dengan ilmunya, dia mengenal Allah, memahami perintah-Nya serta takut kepada Allah. Inilah orang yang disebut-sebut dengan kebesaran di Kerajaan Langit. Sementara pesantren adalah institusi tafaqquh fiddin dalam arti tempat ulama menyiapkan generasi muslim yang beriman, berilmu, berakhlak serta berkepribadian pejuang Islam. Pola fikir dan pola sikap Islami dari seorang ulama diwariskan kepada para santri melalui proses pembelajaran di pesantren. 

Ulama adalah orang yang mewariskan ilmu dan daya juang bagi generasi berikutnya. Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambil ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak (HR Abu Dawud). Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu dalam arti luas, sebab Islam adalah agama sempurna yang tidak memisahkan antara ilmu dan peradaban. Islam tidak memisahkan antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. 

Islam adalah agama manusiawi dalam arti meskipun ajaran Islam berasal dari Allah SWT melalui lisan Rasulullah, namun nilai dan ajaran Islam sangat aplikatif bagi pengaturan kehidupan manusia di seluruh aspek kehidupan. Letak kesempurnaan Islam terletak pada ajaran Islam yang mampu mewujudkan sebuah peradaban mulia bagi kebahagiaan dan kesejahteraan kehidupan seluruh manusia. Bahkan Islam bukan hanya berorientasi kepada duniawi semata, melainkan kepada kebahagiaan di akherat kelak. 

Karena itu Islam juga merupakan agama dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia dengan cara mengajak kepada Islam dan mencegak segala bentuk kezaliman dan kemungkaran. Meski demikian, tidak ada paksaan dalam Islam. Tugas ulama dan pesantren adalah menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran agar tercipta kehidupan yang penuh kebahagiaan dan keberkahan. Begitupun tugas Rasulullah dengan menghadirkan Islam sebagai pengganti peradaban jahiliyah pada masa itu. Tugas para ulama dan pesantren sama dengan tugas Rasulullah.  

Jika ditelaah secara mendalam, nampaknya peradaban jahiliyah modern tengah menghegemoni kehidupan kaum muslimin saat ini. Peradaban Barat yang kini tengah menguasai negeri-negeri muslim telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luar biasa. Peradaban Barat dengan landasan epistemologi sekuleristik dan ateisitik telah melahirkan manusia-manusia jahat, rakus dan destruktif demi memenuhi kehausan duniawi dan kekuasaan. Hasilnya adalah sebuah peradaban anti Tuhan yang lebih mengedepankan kebebasan tanpa batas di semua bidang kehidupan. 

Peradaban Sains dan teknologi ala Barat sekuler hanya berorientasi materialisme dan mengabaikan nilai dan moral. Dari paradigma sains sekuler inilah awal dari kerusakan bumi dengan  sumber daya alamnya hingga kerusakan manusia dengan pemikiran, jiwa dan perilakunya. Allah dengan tegas telah memberikan ilustrasi fakta ini dalam surat ar Ruum : 41, “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Tantangan yang dihadapi Rasulullah, para pejuang terdahulu serta ulama hari ini pada dasarnya sama yakni hegemoni peradaban materialisme yang berorientasi duniawi semata dengan mengabaikan nilai-nilai agama. Peradaban materialisme hanya mendasarkan kepada akal dan nafsu dalam mengatur kehidupan manusia. Akibatnya adalah kehidupan manusia robotik yang dikendalikan oleh orientasi pragmatisme semata. Sebab materialisme memandang manusia sebatas materi tanpa mengenal istilah kemuliaan. 

Maraknya berbagai bencana kemanusiaan akibat orientasi materialisme seperti peredaran narkoba, seks bebas, prostitusi, pornografi pornoaksi, penculikan anak, jual beli manusia, korupsi, pembunuhan, tawuran hingga penjajahan dan kezaliman antar manusia adalah sederet fragmen kemanusiaan akibat peradaban materialisme. Seluruh bencana kemanusiaan ini juga pernah terjadi pada zaman jahiliyah. 

Karena itu tugas pesantren dan para ulama untuk menghadirkan kembali peradaban Islam yang mulia dan memuliakan manusia sungguh sangat berat. Dibutuhkan sebuah ketulusan, kesungguhan dan keberanian untuk berjuang melawan segala bentuk peradaban mungkar dan zalim yang telah menyengsarakan kaum muslimin dan seluruh manusia. 

Pesantren dan seluruh komponen umat harus mampu menghadirkan syarat kemenangan peradaban Islam. Ulama dan pesantren harus menyiapkan kader-kader  pemimpin dan pemikir yang mampu merumuskan blueprint dan roadmap peradaban Islam. Pesantren juga harus mampu menyiapkan  para professional muslim yang ahli di berbagai bidang kehidupan. Pesantren juga harus mampu menyiapkan kader-kader pemimpin umat yang mampu menggerakkan kesadaran kaum muslimin dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam.   

Dalam perspektif  historis, pengetahuan dari berbagai bidang keahlian, peradaban ilmiah dengan berbagai macam bentuknya dapat dirasakan oleh penduduk dunia dalam bentuk peradaban Islam. Peradaban Islam punya andil besar dalam membina peradaban kemanusiaan yang manusia dan mulia. Kecintaan muslim kepada agama dan ilmu telah memberikan sumbangsih dalam pergerakan ilmiah, dalam karya-karya mereka bahkan hingga mencapai puncak kecermelangannya. Peradaban Islam hadir dengan memberikan manfaat universal.

Sejarah tradisi keilmuwan dalam Islam sesungguhnya dimulai dari lahirnya Islam itu sendiri. Rasulullah, sahabat dan para ulama pendahulu telah menancapkan  tradisi ilmu. Al Quran mengandung banyak ayat yang menganjurkan umat Islam untuk senantiasa menggali ilmu dengan cara berfikir atau bertafakur. Biasanya Allah menyebut orang-orang beriman yang mau berfikir tentang segala penciptaan Allah dengan istilah Ulil Albab. Ibnu Sina pernah berkata, "Jika ada persoalan yang terlalu sulit bagiku, aku pergi ke masjid dan berdoa, memohon kepada Yang Maha Pencipta agar pintu yang telah tertutup bagiku dibukakan dan apa yang tampaknya sulit menjadi sederhana. Biasanya, saat malam tiba, aku kembali ke rumah, menghidupkan lampu dan menenggelamkan diri dalam bacaan dan tulisan". Hal ini menandaskan bahwa tradisi keilmuwan dan semangat pembelajaran telah lama berlangsung.

Karena itu, Islam adalah jalan hidup yang tidak hanya berdimensi ritual, Islam juga memiliki  dimensi ilmu dan peradaban. Karena itu kemajuan Islam bukan hanya ditimbang dari sisi ritualistik semata, melainkan juga ditimbang sejauh mana Islam memancarkan rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. Kemuliaan Islam bukan hanya untuk dirasakan oleh individu tapi untuk seluruh manusia di dunia. ”Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al Anbiyaa 107). 

Islam mengumumkan dengan jelas akan kesatuan manusia di alam semesta antara seluruh penduduk dan masyarakat. Semua itu dalam satu lembah kebenaran, kebaikan dan kemuliaan. Karena itu Islam telah menaklukkan berbagai macam penduduk, memberikan asas yang mengandung pokok-pokok dasar universal yang menghimpun secara nyata. "Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al Hujurat 13). 

Karena itu tidak ada alasan lagi bagi seluruh komponen kaum muslimin di seluruh dunia untuk bangun dari tidur panjang untuk membangun kembali kesadaran dan perjuangan peradaban Islam. Dibutuhkan gerakan dakwah ideologis untuk merebut kembali kejayaan peradaban Islam melalui dunia pendidikan dan jihad politik Islam agar peradaban Islam kembali di tangan kaum muslimin. Jangan pernah putus asa membangun harapan dan kebangkitan untuk memperjuangkan agama Allah. Sebab kemenangan adalah janji Allah bagi mukmin pejuang. Kemenangan tinggal tunggu waktu. Sebab bumi ini oleh Allah hanya diwariskan kepada orang-orang beriman.

Ahmad Sastra
 

1 Komentar