Bangsa Tidak Logis

25 Februari 17:43 | Dilihat : 4715
Bangsa Tidak Logis Zeng Wei Jian
 
Oleh Zeng Wei Jian
 
Paslon Anies Sandi bakal diserang. Macam-macam fitnah, framing, hoax ditebar Ahoker. Sama seperti mereka gunakan kartu ex napi pembunuh, Antasari Azhar. Alhasil, AHY tersungkur di angka 16%.
 
Mencari kesalahan disebut "tajassus". Diharamkan Al-Quran dan hadits. Tapi rapopo di arena politik ahoker. Sayangnya, we are not a nation of logicians. Tim konten dan ahli tipu-tipu ahoker sukses bikin banyak aktifis jadi gila. Emmy Hafidz sontak suka faktor "likes or dislikes" dalam pilihannya. Para intelektual reformis ini, sayangnya, nggak mampu menarik garis tegas antara "political culture" dan "celebrity culture". Keduanya jadi "hopelessly blurred" sekarang.
 
Ahoker hendak membangun opini Anies-Sandi korup. Bahasa kerennya "argumentum ad populum". Argumentasi dumb. Sebuah gosip. Asalnya dari "katanya, katanya" atau "many people say”. Situs yang memuat konten berita "Anies Korupsi" semuanya portal abal-abal. Ada situs bernama "lontebole", duniasantri ML atau tulisan ANONIM yang isinya testimoni teman Anies.
 
Fabrikasi kabar korupsi Anies-Sandi bukan berita. Bukan produk jurnalistik. Semata-mata hasutan. Tajassus. Lebih buruk dari mainstream media yang disebut Donald Trump sebagai bisnis jurnalisme yang "disgusting and corrupt media.”
 
Di kasus aksi panasbung Kamerad, Anies digugat terima sogokan Kominfo. Polisi nyatakan laporan ini nggak masuk akal. Belakangan, konten "berita" ini diangkat lagi oleh Ahoker. Mereka kalap. Kehabisan bahan. Sekarang, mereka mau coba lagi dengan isu Frankfrut. Satu situs rilis judul bombastis: Anies digerebek polisi jam 10.00.
 
Berita sampah (junk news) macam begini cuma punya satu fakta. Not even, partially fact. Yaitu adanya aksi panasbung Kamerad. Sisanya ngawur, including its content. Sampah!. Ironisnya, publik jadi ikut-ikutan go-block pasca Ahok berkuasa. Padahal, fakta adalah satu-satunya perbedaan antara jurnalisme vs fiksi.
 
Peter Kann berkata, “facts are facts; that they are ascertainable through honest, open-minded and diligent reporting; that truth is attainable by laying fact upon fact, much like the construction of a cathedral; and that truth is not merely in the eye of the beholder.”
 
Kaum intelektual punya obligasi memisahkan "truth" dari "falsehood". Obligasi ini semakin dibutuhkan saat penguasa memaksakan "falsehoods are truths." Saat ini, kita sedang berhadapan dengan rezim powerfull sekaligus shameless. Dan hanya "shameless people" bisa mereka kadalin.
 
Tidak punya etika jurnalistik, tidak punya malu, tidak punya dignity Ahoker menyebar informasi hoax. Information for boosterism. Untuk gagah-gagahan. Mungkin karena publik suka sesuatu yang bombastis. Publik yang stress. Jika tidak nonton sinetron India, mereka suka kisah kapal ditenggelamin.
 
Ahok bersih korupsi dan Anies Korup cuma shameless rhetoric. Receptive audience-nya ya cuma shameless people. Semakin kurang ajar mulut si Ahok, semakin disukai his core supporter. This is an era of insanity.
 
Di tangan ahoker, politik menjadi sinonim dengan dishonesty, insult dan scandal: It’s entertaining. Horeee. Persetan dengan banjir, enam skandal korupsi selama Ahok berkuasa, korban gusuran dan lain sebagainya. Anies-Sandi muncul untuk mengeliminir semua itu. Makanya, mereka difitnah. Tidak heran.
 
0 Komentar