Revolusi Tinggalkan Rokok, Berani?

Kamis, 29 Desember 2016 - 10:50 WIB | Dilihat : 1745
Revolusi Tinggalkan Rokok, Berani? Ustaz Wilyudin Dhani (Ketua Komisi IV MUI Kota Bogor)
 
Kondisi bangsa yang carut marut seperti sekarang ini, diantara sebabnya adalah karena penyelenggara negara menggiring warganya untuk menanggalkan jatidiri bangsanya yang religius. Kondisi seperti itu membuat umat Islam saat ini bangkit dan mengharapkan ada gerakan perbaikan dalam segala aspek kehidupan, baik yang berdimensi kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Revolusi itu harus mencakup ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya serta pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Ipoleksosbud Hankamrata).
 
Bentuk perbaikan yang kita lakukan adalah revolusi Ipoleksosbud Hankamrata di dalam Islam, yaitu untuk mewujudkan perubahan yang mendasar terhadap kondisi bangsa ini. Nah salah satu yang harus kita revolusi adalah pola hidup kita dalam aspek sosial budaya, kita jangan sampai meniru-niru orang-orang barat atau yang di luar Islam yang justru menguntungkan musuh. Dalam hal ini contoh sosial budaya tata cara hidup kita adalah kebiasaan pemborosan. Pemborosan bagi umat Islam yakni kebiasaan merokok. Berdasarkan survei WHO skitar tahun 2010, ternyata Indonesia menduduki ranking ketiga dunia yang penduduknya banyak menghabiskan sebagian dananya untuk merokok. Dari jumlah penduduk yang kurang lebih 140 juta jiwa tahun 2010 tersebut 64% penduduknya adalah perokok aktif dan 6.000.000 diantaranya adalah perokok remaja.
 
Belanja rokok perhari rata-rata 20.000 rupiah. Nah kebiasaan hidup ini sebenarnya adalah menguntungkan pengusaha yang termasuk dalam kelompok 9 Naga, karena di antara orang-orang terkaya di Indonesia, 5 orang diatara yang terkaya di Indonesia tersebut yaitu adalah pengusaha rokok.
 
Perhitungannya adalah kalau dari 140 juta jiwa jumlah penduduk tahun 2010, 64% nya adalah perokok aktif yang membelanjakan hartanya Rp20.000 per hari, yang kalau kita rata-ratakan validnya Rp.10.000, artinya jumlah penduduk yang kira kira 98,6 juta jiwa dikali Rp.10.000, maka pabrik rokok atau pengusaha rokok mendapatkan omset perhari 9 triliun 860 miliar, per hari dari para perokok yang notabenenya sebagian besar adalah umat Islam.
 
Oleh karena itu apabila kita ingin mengalahkan sistem ekonomi mereka, maka salah satu yang harus ditempuh oleh umat Islam yaitu revolusi pribadi dalam hal budaya dan tata cara hidup. Di antaranya harus berani berhijrah dengan meninggalkan budaya merokok, sehingga kita mampu meruntuhkan hegomoni ekonomi mereka.
 
Nah siapkah umat Islam berhijrah merevolusi diri meninggalkan budaya merokok?
 
Kalo per hari saja umat islam melakukan pemborosan dana 9.860 trilyun untuk merokok, berapa pendapatan mereka (musuh kaum muslimin) dalam sebulan? Berapa pula pemasukan mereka per tahun?
 
Apalagi jika benar pernyataan salah seorang mantan misionaris yang telah kembali menjadi muslim sejak tahun 1978, bahwa 10% dari harga setiap batang rokok, langsung dipotong secara accounting masuk rekening missionaris pemurtadan.
 
Dari informasi tersebut, artinya dana dari umat Islam yang terbodohi dirinya sendiri dari kebiasaan merokok, sebanyak 986 milyar rupiah per hari masuk ke rekening missionaris pemurtadan, dan ini juga berarti para perokok tersebut scara tidak langsung mendukung mulusnya misi pemurtadan mereka. Sungguh ini bagian dari ironi yang harus direvolusi total dari umat Islam, agar mampu membalikkan keadaan. Wallahu a'lam. 
 
Wilyudin Dhani
Ketua Komisi IV MUI Kota Bogor
1 Komentar