Jakarta bukan Kota China, Kenapa Ahok Begitu Agresif?

Kamis, 10 Oktober 2013 - 14:17 WIB | Dilihat : 18640
Jakarta bukan Kota China, Kenapa Ahok Begitu Agresif? Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)

Entah mengidap penyakit apa hingga Ahok begitu nekad dan agresif. Hanya gara-gara membela lurah Susan yang ditolak masyarakat Lenteng Agung dia begitu lancang dan berani ngelunjak kepada pejabat yang seharusnya dipandang sebagai atasannya, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Padahal Gamawan hanya memberikan saran normatif agar pemda DKI mengevaluasi kembali kebijakan penempatan lurah Susan yang ditolak warga Lenteng Agung. Namun Ahok dengan sengit menyerangnya, Ahok malah menyuruh Mendagri belajar lagi konstitusi.

Tentu ini membuat berang korps STPDN dan menjadi polemik yang ramai karena baru kali ini di NKRI ada pejabat yang diberi saran atasan malah meradang dan melawan. Sikap arogan, ngelunjak, dan tidak etis inilah yang disesalkan oleh semua fihak, kecuali media dan kaum minoritas pendukung Ahok. 

Sebagai Sekjen FUI saya bersama sesepuh ulama Betawi pimpinan Perguruan As Syafi'iyyah KH. Abul Rasyid AS, Ketua MUI KH Ahmad Cholil Ridwan, dan KH Fachrurazy Ishaq mengadakan jumpa pers di Jakarta Kamis lalu (3/10) untuk mengadvokasi aspirasi masyarakat Kelurahan Lenteng Agung yang selama ini disudutkan media. Media memang aneh. Media membela warga dalam kasus bentrok dengan FPI di Kendal, namun dalam kasus konflik warga Lenteng Agung dengan Lurah Susan, media habis-habisan membela Susan. Ada apa?

Warga Kelurahan Lenteng Agung yang 99,99 persen muslim resah dengan penempatan Lurah Susan yang Nasrani oleh Ahok melalui mekanisme Lelang Jabatan. Warga resah karena ternyata lelang jabatan hanya sekedar cover untuk menempatkan para pendukung Ahok dalam pilkada lalu, termasuk Susan seorang staf Kelurahan Senen.

Warga resah karena selama puluhan bahkan di zaman Belanda mereka tidak pernah dipimpin lurah non muslim. Secara sosio kultural siapapun pemimpin non muslim di kelurahan Lenteng Agung yang punya 22 Masjid, 58 Musholla dan ratusan majelis taklim pasti akan kerepotan. Sebab tradisi Betawi yang kental dengan ajaran Islam sudah jadi budaya masyarakat Lenteng Agung. Betawi di Jakarta identik dengan Islam seperti Melayu di Malaysia identik dengan muslim. Dalam even apapun masyarakat Betawi tidak akan lepas dengan ratiban, maulid, burdah, dan tahlil bahkan akhir-akhir ini budaya Subuh Keliling. Biasanya lurah atau camat akan selalu menjadi tamu kehormatan yang tidak jarang diberi kesempatan memberikan sambutan. Inilah yang dikatakan oleh Haji Nasri, pimpinan warga bahwa Susan  tidak cocok sebagai lurah mereka.Tokoh Lenteng Agung KH. Solihin Ilyas mengatakan bahwa Harga Mati Lurah Susan harus diganti!

Oleh karena itu, kita semua menyesalkan sikap Ahok yang telah arogan terhadap aspirasi masyarakat. Bukan hanya itu, ucapan Ahok kepada Mendagri supaya belajar konstitusi adalah tindakan pelecehan.

Cukup menarik, warga Lenteng Agung tampaknya lebih faham konstitusi daripada Ahok sendiri. Haji Nasri menilai kebijakan memaksakan Susan ke Lenteng Agung melanggar asas proporsionalitas. Haji Nasri mengutip UU No 28 tahun 99 butir 5 tentang penyelenggaraan pemerintahan bahwa pemerintahan dijalankan dengan menganut asas proporsionalitas dan salah satu faktornya adalah agama. 

Haji Nasri memberikan contoh bahwa di Bali, seorang Cagub yang masih beragama Hindu saja, bukan beragama non Hindu, ditolak hanya karena sering pakai peci dan istrinya seorang muslimah. Di Papua ada UU otsus yang melarang pimpinan pemerintahan di luar orang papua. Dan di kota Kupang, Manado, apalagi Los Angeles (LA), mana ada muslim jadi kepala pemerintahan. Toh umat Islam juga tidak protes. Termasuk Masjid di Ground Zero yang diprotes warga Manhattan. Umat Islam yang maklum aja. Kenapa Ahok kok begitu agressif dan ngotot? 

Agressivitas dan arogansi Ahok memang agak aneh. Seolah dia anggap Jakarta ini sebuah kota di China, sehingga dia pikir akan melenggang tanpa penentangan.  Lihat saja, dia begitu arogan ketika diprotes karena akan merobohkan Masjid Baitul Arif di bekas Kompleks Perkantoran Suku Dinas Teknis di kawasan Jatinegara dan melarang penyenggaraan Solat Jumat di Masjid tersebut tanpa bermusyawarah terlebih dulu dengan MUI. Jelas ini pelanggaran syariat, tegas Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI. Namun Ahok cuek. Bahkan dari mulutnya keluar kalimat yang sangat kasar sebagaimana diberitakan media :“....Sekarang juga banyak oknum-oknum kalau mau dudukin tanah negara suka bikin masjid. Jadi kalau dibongkar, isunya bongkar masjid. ” (Merdeka.com).

Tentu ini sangat menyinggung dan menyakiti perasaan kaum muslimin. Memang siapa Ahok?  Kok tiba-tiba kayak dia pemilik utama kota Jakarta, dan umat Islam hanya numpang di sini?  Padahal sesuai penuturan Ketua MUI KH Ahmad Cholil Ridwan Jakarta (dulu Jayakarta) dibangun oleh Fatahillah dan diberi nama Jayakarta yang merupakan terjemahan dari kalimat Fathan Mubiina, kutipan dari Al Quran Surat Al Fath ayat 1 yang artinya kemenangan yang nyata.

Seharusnya Ahok meminta maaf kepada warga Lenteng Agung, Mendagri dan  umat Islam secara umum. Sebagai bukti penyesalannya bagus kalau Ahok mengundurkan diri dari jabatannya.

Kalau tidak, berarti ada agenda terselubung yang digerakkan di balik agresivitas Ahok di Jakarta. Wasapadalah wahai Umat Islam!  Marilah kita renungi firman Allah SWT (QS. An Nisa 71) : Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu...!

0 Komentar