UAS, Rina Nose dan Spiritualitas tanpa Agama

25 November 13:28 | Dilihat : 2831
UAS, Rina Nose dan Spiritualitas tanpa Agama Sekjen FUI KH M Al Khaththath bersama Ustaz Abdul Somad.

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI, Kornas GISS

Ustaz Abdul Somad (UAS) adalah fenomena. Ceramah-ceramah ustaz asal Riau ini viral melalui berbagai media sosial. Isi ceramahnya berbobot, ilmu fiqh dan haditsnya mendalam, retorikanya juga luar biasa. Tak ayal, kehadiran Ustaz Abdul Shomad adalah darah segar dalam dunia dakwah di Indonesia. 

Semua itu tak terlalu mengherankan, sebab UAS adalah alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dan Darul Hadits, Maroko. UAS juga tercatat sebagai staf pengajar di Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN SUSKA Riau). Mata kuliah keahliannya adalah ilmu hadits. 

Lalu apa hubungannya antara UAS dengan Rina Nose (RN), salah satu artis yang baru-baru ini memutuskan untuk melepas kerudungnya?. 

Ramai perbincangan tentang UAS dan Rina Nose berawal dari pertanyaan seorang jamaah. Video ini pun sekarang menempati posisi ketiga trending YouTube Indonesia. “Tentang fenomena Rina Nose yang buka jilbab, alasannya tak ada yang berubah sama saya, sama saja. Bagaimana itu pak ustaz?” demikian bunyi pertanyaan yang dibacakan UAS.

UAS tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia malah balik bertanya, siapa sosok Rina Nose yang dimaksud?. “Rina Nose itu siapa? artis?" tanya Abdul Somad heran. Setelah diberitahu jika Rina Nose adalah seorang artis, ustaz asal Riau ini pun sedikit bergurau. “Yang pesek itu? Saya kalau artis-artis jelek kurang berminat saya mengamati, apa kelebihan dia? pesek, buruk itu lho,"canda dia.

Rina Nose saat ini memang menjadi sorotan. Bukan hanya dia telah melepas kerudung yang telah ia kenakan sejak setahun lalu, tetapi tulisan status yang diunggahnya pada 9 Agustus lalu juga sangat kontroversial. Tulisan itu diketahui ditulis saat RN berada di Jepang. 

“Ada pelajaran baru yang saya dapat dari penduduk Jepang selama dua hari saya di sini. Mayoritas penduduk sini rupanya tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu agama, bahkan Tuhan. Tapi sebagian mereka percaya bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka. Ada yang menarik, tanpa kepercayaan terhadap agama tertentu, mereka begitu menjunjung tinggi nilai  moral dan kemanusiaan….”

 “…..Satu hal lain yang menarik perhatian saya, ketika saya menemukan beberapa penduduk asli yang tiba-tiba ingin memeluk suatu kepercayaan. Kemudian saya bertanya, kalau hidupmu sudah sebaik ini tanpa agama, lalu kenapa kamu ingin mencari Tuhan dan ingin memiliki agama.” 

***

John Naisbit dan Patricia Aburdene, pada 1990an silam, menulis sebuah buku berjudul “Megatrends 2000”. Dalam buku tersebut, keduanya menyertakan satu bab khusus tentang “Kebangkitan Agama pada Milenium Ketiga (tahun 2000 sekian). Bab ini menggambarkan tumbuh  kembalinya semangat keagamaan di berbagai penjuru dunia. Mereka menyebut praktis semua agama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Shinto- mengalami kebangkitan. 

Penjelasannya sebenarnya sangat sederhana. Bahwa setelah sedemikian lama sainstek dianggap segalanya, kini orang mulai tersadar bahwa ternyata mempunyai keterbatasan manfaat. Sainstek tidak mampu untuk mengajarkan makna hidup dan cara hidup. Justru, kita mempelajarinya melalui sastra, seni dan spiritualitas.

Dalam buku tersebut ditulis secara drastis penurunan jumlah jemaat gereja-gereja besar di AS. Jemaat United Metodist Churc misalnya, menurun drastis dari 11 juta tahun 1965 menjadi 9,2 juta tahun 1988. gereja Presbitarian juga kehilangan jemaat 1 juta orang. 

Jumlah pendeta juga menurun sebanyak 6000 orang pada tahun 1988 dibanding 20 tahun sebelumnya.Tidak hanya di AS, Jepang yang penduduk mayoritasnya Shinto dan Budha, jumlah sektenya juga luar biasa banyaknya. Pada 1996, jumlah sekte yang terdaftar dalam Badan Pembinaan Kebudayaan Jepang berjumlah 180 ribu. Tiap tahunnya, selama dasawarsa lalu, rata-rata tumbuh 100 sekte keagamaan baru. 

Mengapa bisa sebanyak itu? Jawabannya sangat mudah dan sering kita dengar. “Orang-orang Jepang di zaman modern ini merasa tertekan, stres. Entah itu di sekolah maupun di tempat kerja. Karenanya, agar bisa lepas dari stres harian itu, mereka berusaha mencari pertolongan atau pelarian spiritual. Akhirnya masuk menjadi anggota sekte pun menjadi pilihan semua orang,” ujar Hirco Takagi, profesor keagamaan di Universitas Tokyo, Jepang. 

Spiritualitas hakikatnya adalah kesadaran manusua akan adanya hubungan dirinya sebagai makhluk dengan Allah Sang Khalik. Islam dengan syariatnya yang kaffah memelihara kesadaran tersebut. Maka umat Islam semakin mendalami dan mengamalkan ajaran agamanya akan semakin tinggi spiritualitasnya. Jadi kalau ada model RN yang terkagum kepada Jepang menunjukkan kedangkalan pemahaman agamanya. Itu makna komentar UAS terhadap RN. Ketika saya ketemu UAS di Bandara Halim Perdanakusuma baru-baru ini saya lihat dari dekat UAS seorang yang tawadhu. Komentarnya terhadap RN  pasti jujur dan untuk mengoreksi sikap keliru RN dan para pendukungnya. Wallahu a’lam. 

Jakarta, 23 November 2017

0 Komentar