Kezaliman Membawa Kehancuran

07 Juli 20:44 | Dilihat : 974
Kezaliman Membawa Kehancuran KH Muhammad Abbas Aula (Komisi Fatwa MUI Kota Bogor / Ketua DDII Kota Bogor)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اتقوا الظلم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة واتقوا الشخ فإن الشخ أهلك من كان قبلكم حملهم علي أن سفكوا دماءهم واستحلوا محارمهم. (رواه مسلم)  

"Jauhilah berbuat zalim, karena zalim adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, karena kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kamu, yang mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan segala yang haram" (HR.Muslim)

Zalim secara etimologi artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, baik dengan cara mengurangi atau menambah, atau menyimpang dari waktu dan atau tempat. 

Zalim adalah lawan kata dari adil, dan adil artinya menempatkan sesuatu secara proporsional. Menzalimi juga berarti menganiaya, menzalimi diri artinya menganiaya diri sendiri.

Menurut Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, ada tiga bentuk perbuatan zalim.

1. Zalim terhadap Allah yakni berbuat syirik kepada-Nya. Dosa syirik adalah dosa paling besar, pelakunya tidak mendapat ampunan dari Allah jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia. (QS. 4 : 48).

Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, bahwa para Sahabat radhiwallahu anhum tampak galau ketika turun ayat :

الذين آمنوا و لم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم 
الأمن و هم مهتدون

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman mereka itulah yang merasa aman tentram dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.6 : 82)."

Kata mereka : siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat zalim terhadap dirinya? Maka  turunlah ayat ; 

إن الشرك لظلم عظيم 

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar (QS.31 ;13)

Kekhawatiran para Sahabat tampaknya karena memahami bahwa salah menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah kezaliman, dan itu bisa terjadi pada siapa saja. Hal ini akan membawa hidup tidak tenang dan tentram sebagaimana maksud kandungan ayat tersebut.

Ternyata zalim dalam surat Al An'am ayat 82 adalah syirik. Dan dosa syirik adalah salah satu bentuk kezaliman yanng besar.

2. Zalim terhadap sesama manusia. Contohnya: berbuat curang dan berlaku tidak adil, mengurangi atau mengambil hak-hak orang lain, mencuri hartanya, membunuh, menyakiti hatinya, mengintimidasi, kriminalisasi dan menebarkan dusta (rekayasa dusta), memfitnahnya dll. (QS.42 : 42)  

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَ يَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ  ؕ  اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

"Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. Asy-Syura: Ayat 42)

Dalam sebuah Hadits Qudsi riwayat Muslim, Allah subhanahu wa ta'ala mengharamkan  berbuat zalim terhadap sesama manusia.

3. Zalim terhadap diri sendiri yaitu dengan melanggar batas-batas hukum Allah.

و من بتعدي حدود الله فقد ظلم نفسه 

"Barang siapa yg melanggar batas- batas hukum Allah maka sesungguhnya ia telah menzalimi dirinya sendiri" (QS. 65 : 1).

Surat Ath-Thalaq ayat 1 ini, menunjukkan bahwa berbuat zalim terhadap diri sendiri tidak hanya terbatas pada menganiaya diri seperti menyayat tubuh dengan pisau silet atau mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram, narkoba dan lain sebagainya yang merusak tubuh, tetapi melanggar aturan-aturan Allah subhanahu wa ta'ala adalah juga berbuat zalim terhadap diri sendiri. Termasuk di dalamnya dua macam kezaliman lain yaitu zalim terhadap Allah dan zalim terhadap sesama manusia.

Ada pula bentuk kezaliman yang menyebabkan buta mata hati dan gagal faham sebagaimana makna firman Allah :

"Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan kepadanya ayat-ayat Allah, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dilakukan kedua tangan nya? Sungguh Kami jadikan hati mereka tertutup sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan pula sumbatan di telinga mereka. Kendatipun engkau menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya" (QS.18 ; 57)

Para penguasa dan aparat pembantu-pembantunya yang berbuat tidak adil terhadap rakyatnya, pada hakikatnya dia juga sedang menzalimi dirinya sendiri. Sebuah pepatah mengatakan; "Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah" maksudnya, bila sang penguasa adil terhadap rakyatnya, dia akan ditaati, sebaliknya jika ia berbuat zalim, akan ditentang .

Semua kezaliman yang dilakukan oleh setiap manusia, maka ia akan mendapat balasan siksaannya, baik yang akan menimpa dirinya atau keluarganya tergantung seberapa besar dan parahnya kemudharatan yang diakibatkan dari kezaliman yang diperbuatnya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ جَآءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْ   ؕ  لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّـكُمْ   ؕ  بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّـكُمْ   ؕ  لِكُلِّ امْرِىٴٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِ  ۚ  وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barang siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula)." (QS. An-Nur: Ayat 11)

Wallahualam bish-shawaab.

Muhammad Abbas Aula
Komisi Fatwa MUI Kota Bogor

1 Komentar