Makar kepada Ulama dan Umat Islam

07 Februari 20:22 | Dilihat : 5420
Makar kepada Ulama dan Umat Islam

 

Jebakan 51. Begitu kata kawan saya yang ahli masalah intelijen. Ya, jebakan 51 adalah jebakan yang dirancang sebagai sebuah makar kepada para ulama dan umat Islam yang beberapa tahun terakhir ini melalui Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) getol bergerak untuk melengserkan Ahok yang secara aqidah dan hukum syar’i tidak layak menempati posisi gubernur DKI Jakarta, ibukota Indonesia.  Dan dalam konteks sistem pemilu yang ada aspirasi mayoritas umat seperti itu sah-sah saja.  
 
Mayoritas ulama dan umat Islam Jakarta jelas menolak keberadaan Ahok sebagai pemerintah sejak dari jabatan Wagub DKI mendampingi Jokowi. Terlebih ketika Jokowi naik jadi presiden RI dan Ahok naik jadi Gubernur, kemarahan para ulama dan umat Islam meluap-luap, walau masih direleksikan dalam bentuk orasi-orasi dalam unjuk rasa anti Ahok.  Setelah upaya pelengseran Ahok tidak berhasil karena diganjal oleh para pimpinan parpol, para ulama berikhtiar secara konstitusional melalui upaya untuk menggalang dukungan bagi Gubernur Muslim Jakarta.  Usaha ini begitu massiv dan insyaallah Gubernur Muslim Jakarta akan menang.  
 
Menurut kawan saya, dalam rangka menerobos barikade umat untuk pilgub DKI, muncullah skenario jebakan 51 dengan lontaran Ahok menghina QS. Al Maidah ayat 51. Tujuannya, semua perhatian ulama dan umat tersedot kepada kasus lontaran penistaan Al Maidah 51 dan melupakan rencana ulama dan umat untuk mengusung Gubernur Muslim Jakarta.  Dengan demikian, apa yang ditakutkan Ahok selama ini bahwa lawan politiknya akan menggunakan Ayat Al Quran khususnya QS. Al Maidah 51, tidak terjadi.  Karena Ulama dan umat focus bela Al Quran, dan menghindari menghubungkan gerakan Ulama dan umat dengan pemenangan Gubernur Muslim Jakarta.     
 
Lontaran jebakan tersebut di kepulauan seribu dan rekaman videonya diunggah oleh staf Pemda DKI agar diunduh dan dunggah kembali oleh masyarakat netizen adalah strategi untuk mengecoh lawan, sehingga korbannya adalah Buni Yani.  edangkan Staf Pemprov DKI sebagai pengunggah pertama kali tak tersentuh.  Apalagi atasan mereka yang punya kepentingan agar video tersebut menyebar juga tak tersentuh.  
 
Lalu para saksi pelapor yang hanya nonton rekaman dari peredaran medsos dan YouTube dicecar habis dengan pertanyaan dan dihinakan oleh Ahok dan para penasihat hukumnya: Kenapa tidak datang ke lokasi kejadian kok marah?  Sedangkan yang hadir saja tidak marah.   Ahoker pura-pura lupa, coba Ahok mengucapkan hal itu sekali lagi di hadapan masyarakat Lenteng Agung atau Jakarta lainnya, apakah didiamkan?
 
Ahok dan penasihat hukumnya memang sangat-sangat kurang ajar.  Bahkan ketua umum KH. Ma'ruf  Amien yang juga Rais Aam PBNU diperlakukan secara sangat tidak sopan. Sampai-sampai menyebut  punya rekaman telpon SBY ke Kyai Makruf.  Darimana Ahok bisa dapat rekaman tersebut? Siapa yang menyadap?  (Ini perlu diusut!) Jelas ini pelanggaran pivasi dan pelecehan luar biasa kepada para ulama.  
 
Memang tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan bahwa seluruh yang menyerang Ahok atas penistaan QS. Al Maidah 51, baik pribadi, kelompok, institusi, bahkan aksi besar 411 dan 212  adalah gerakan politik terkait pilgub DKI dan mendapatkan bayaran.  Saya melihat itu semua dibuat sebagai bagian dari strategi jebakan 51.  Hasil akhir yang diharapkan dari strategi jebakan 51 adalah para saksi di pengadilan semua habis kredibilitasnya, sehingga kesaksiannya tidak dinilai, dan Ahok terbebas dari jeratan hukum.  
 
Terkait pilkada, dengan suasana yang diciptakan, termasuk berbagai perkara yang dibuat untuk menyibukkan Habib Rizieq, Ustadz Bachtiar nasir, dan Munarman dengan berbagai pelaporan polisi, bahkan fitnah keji perselingkuan yang dilontarkan kepada Habib Rizieq, diharapkan hasil akhir dari strategi jebakan 51 adalah umat tidak lagi menggunakan Al Quran dan Fatwa MUI sebagai pedoman dalam memilih pemimpin, umat tidak lagi alergi dengan pemimpin non musilm, dan para pemimpin umat tidak sempat lagi konsolidasi kekuatan. Dalam situasi seperti banyak umat yang selama ini dikenal sebagai massa mengambang yang rawan suap dan money politics, istilahnya NPWP (Nomer Piro Wani Piro, nomer berapa berani bayar berapa?), maka Gubernur Muslim Jakarta bisa dikalahkan oleh Ahok. Jadi yang justru murni menggunakan Al Maidah  51 untuk kepentingan poltik dalam hal ini justru Ahok dan para pendukungnya.   
 
Namun saya yakin pemimpin umat Islam Jakarta tidak terkecoh oleh jebakan 51.  Para pemimpin umat tetap fokus untuk memenangkan Gubernur Muslim Jakarta.  Anieskah atau Aguskah yang jadi Gubernur DKI terpilih, bagi para pemimpin umat Islam Jakarta tak jadi soal. Selama umat Islam taat komando ulama, insyaallah jebakan 51 atau jebakat apapun yang merupakan maker terhadap ulama dan umat Islam tak akan bisa memperdayai umat.  Wayamkuruuna wayamkurullah wallahu khairul maakiriin.  Mereka hendak membuat maker untuk memperdayai kaum muslimin, namun Allah menggagalkan makar mereka. Balasan makar dari Allah kepada kaum kuffar pasti dahsyat! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! 
 
Jakarta 1 Februari 2017
 
Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI/Sekretaris GNPF-MUI
1 Komentar