Waspadai Trik Ahok di Persidangan

23 Januari 08:10 | Dilihat : 5256
Waspadai Trik Ahok di Persidangan Ilustrasi: Umat Islam mengawal persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok di depan gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.


KH M Al Khaththath
Sekjen FUI
 
Dalam sidang keempat lalu ketika ditanya Ketua Majelis Hakim bagaimana tanggapannya atas keterangan saksi pelapor Ustaz Novel Bamukmin, terdakwa Ahok mengatakan bahwa keterangan saksi Novel semua adalah fitnah.   
 
Ketua Majelis Hakim menyela, apakah keterangan saudara saksi itu benar semua, salah semua, atau benar sebagian? Ahok menjawab dia mengakui apa yang ada dalam video di kepulauan seribu itu benar omongan dia.  
 
Namun Ahok membantah semua keterangan saksi, khususnya keterangan bahwa dia telah menodai agama.  “Tidak mungkin saya menghina agama Islam, agama ayah angkat saya!” bantahnya.   
 
Di sinilah anomali Ahok. Dia mengakui bahwa apa yang ada dalam video yang beredar itu adalah benar-benar gambar dan suara ucapan dia. Namun dia menolak semua pernyataan saksi yang menyebut Ahok sebagai orang yang melakukan penodaan terhadap agama Islam alias melanggar KUHP pasal 156a.
 
Trik Ahok yang dijalankan oleh Tim Pembelanya adalah dengan membantah habis seluruh keterangan saksi dan menyerang hal-hal yang justru bukan merupakan substansi yang seharusnya digali dari keterangan saksi.
 
Tentu tujuannya adalah untuk meruntuhkan kepercayaan publik terhadap para saksi. Tim pembela Ahok mencecar para saksi pelapor dengan berbagai pertanyaan terkait latar belakang, pekerjaan, dan afiliasi politik para saksi pelapor sehingga menjadikan para saksi mirip terdakwa. Sampai-sampai sebagian saksi pelapor mundur karena khawatir diungkit masa lalunya.   
 
Saya yang hadir dalam sidang keempat merasa “neg” dengan tingkah polah para pengacara Ahok.  Bayangkan mereka bertanya kepada saksi pelapor: “Apa referensi saksi mengatakan Ahok itu menodai agama Islam?”.   
 
Para saksi melaporkan Ahok jelas karena tersinggung dan marah dengan pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, Selasa, 27 September 2016, ”… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” sambil menunjuk kepalanya dengan mimik yang menunjuk bodohnya umat Islam. Inilah yang telah membuat masyarakat marah. Dan orang marah tidak perlu referensi. Menanyakan referensi itu mestinya kepada saksi ahli, bukan saksi fakta maupun saksi pelapor.  
 
Demikian juga ketidakhadiran saksi di pulau seribu juga jadi bahan cecaran pertanyaan mereka, kenapa para saksi tersinggung, sedangkan orang-orang yang hadir di sana tidak marah, malah tertawa.  
 
Pertanyaan tersebut jebakan untuk memberi kesan bahwa para saksi pelapor ini mengada-ada, tidak kredibel.  Mereka yang tertawa tidak tersinggung boleh jadi karena setuju atau memang tidak mengerti, bahwa ucapan yang seperti itu menghina Islam.  Namun menurut Ketua MUI KH. Makruf Amien dalam pendapat MUI (11/10) pidato Ahok di Kepulauan Seribu adalah penghinaan kepada Al Quran dan ulama yang biasanya menerangkan ayat-ayat Al Quran, termasuk Surat Al Maidah 51 sebagai dalil wajibnya kaum muslim memilih pemimpin muslim dan haramnya memilih pemimpin kafir.  
 
Pengakuan Ahok yang jujur bahwa yang bicara di video viral di youtube itu adalah benar-benar dia, bukan jin atau orang lain yang mirip dia, merupakan bukti nyata bagi persidangan.  Tinggal diperdalam apakah ucapan dia itu benar-benar merupakan ujaran penghinaan/kebencian  (hate speech)  yang bernilai penodaan terhadap agama Islam ataukah tidak.  
 
Berulang kali Ahok maupun tim pembelanya serta para auliyanya  (teman-teman setia, pelindung, penolong dan para pendukungnya) selalu mengatakan bahwa Ahok tidak menghina Kitab Suci Al Quran, agama Islam, dan ulama.  Dia sering menyebut bahwa yang membohongi rakyat pakai Al Maidah 51 adalah para politikus busuk yang pengecut yang tidak berani berhadapan dan bertanding dengan dia dalam pilkada dengan adu program, tapi beraninya hanya dengan menggunakan ayat Al Quran. “Yang saya maksud, ada politikus busuk yang manfaatkan agama,” ungkap Ahok di rumah Lembang akhir November lalu. Keluhan Ahok seperti dalam pilbup di Belitung Timur adanya orang-orang yang tidak milih dia karena larangan memilih pemimpin kafir (Suratkabar.id). 
 
Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dibohongi pakai Al Maidah 51 adalah orang tidak memilih dia karena ada larangan memilih pemimpin kafir berdasarkan ayat tersebut.  Di sinilah letak substansi masalah Ahok yang menistakan ayat Al Quran dan menistakan siapapun yang menafsirkan ayat 51 dari Surat Al Maidah dengan larangan memilih pemimpin kafir. Ahok menyebut bahwa tindakan melarang umat Islam memilih pemimpin kafir dengan ayat tersebut adalah tindakan kebohongan.   Dan hanya politikus busuk yang menggunakan ayat tersebut untuk membuat masyarakat muslim tidak memilih dia.  
 
Logika Ahok, yang benar adalah orang memilih dia jadi pejabat di masyarakat muslim tidak boleh melihat kekafirannya, tapi harus melihat kemampuannya memimpin. Inilah demokrasi macam Ahok, yakni melarang masyarakat muslim menggunakan keyakinan agamanya dalam memilih gubernur. Padahal ayat-ayat Al Quran sudah memandu umat ini jauh hari sebelum Ahok lahir agar memilih pemimpin menurut ajaran Islam. Pilih ajaran Islam atau pilih ajaran Ahok?    
 
Lagi pula memilih dalam pemilu, bagi KPUD, yang penting benar yang dicoblos. Adapun alasan memilih karena agama, duitnya, gantengnya, atau kinerjanya, dll, bagi KPUD tidak dipertanyakan. Masih mau dibodohin pakai logika dan retorika serta trik-trik Ahok?  Pilih Gubernur Muslim untuk keselamatan dunia akhirat!  Wallahu khairun haafizha wahuwa arhamur raahimiin! 
0 Komentar