Bukan Hanya Risma yang Bisa Kalahkan Ahok

Jumat, 02 September 2016 - 16:53 WIB | Dilihat : 5882
Bukan Hanya Risma yang Bisa Kalahkan Ahok Wali Kota Surabaya, Risma
 
KH Muhammad al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam
 
Ahok bukanlah manusia hebat yang luar biasa sekalipun media massa mainstream yang umumnya milik taipan China terus-menerus tanpa kenal lelah melakukan edifikasi untuk terus meningkatkan citranya. Apalagi Ahok sudah mulai kedodoran dengan munculnya berbagai kasus seperti Sumber Waras dan Reklamasi yang mengenainya.
 
Pemberitaan tentang kedua kasus tersebut, sekalipun sampai hari ini KPK belum menetapkannya sebagai tersangka, telah mulai memudarkan mitos bahwa Ahok bersih dari korupsi. “Ahok itu tidak bersih-bersih amat kok!” demikian komentar salah seorang birokrat DKI yang tak mau disebut nyawanya.  
 
Apalagi kebencian umat Islam yang mayoritas di Jakarta atas kebijakan dan kelakuan Ahok yang kerap menohok umat Islam dan agamanya. Maka muncullah berbagai penolakan Ahok di berbagai wilayah kota Jakarta, khususnya sangat mencuat pada bulan Ramadhan lalu. Lembaga penolakan masyarakat Jakarta atas Ahok bermunculan seperti AMJU (Aliansi Masyarakat Jakarta Utara) yang dipimpin oleh Jamran dan AMJAS (Aliansi Masyarakat Jakarta Selatan) yang dideklarasikan oleh musisi Ahmad Dhani dan kawan-kawan.   
 
Dalam situasi yang semakin kepepet, dimana Ahok belum juga mendapatkan restu Megawati yang tampaknya sudah sangat “eneuk” kepada Gubernur “salah kedaden” tersebut, tampak ada skenario edifikasi Ahok dengan memunculkan isu bahwa hanya Risma, Walikota Surabaya yang sangat populer, yang bisa mengalahkan Ahok.   
 
Barangkali tanpa kita sadari wacana membawa Risma ke Jakarta dan mitos bahwa hanya Risma yang bisa mengalahkan Ahok bisa menjadi sebuah opini yang sangat menguntungkan Ahok. Apalagi sampai hari ini kabarnya the Queen (istilah untuk Mega) belum bisa membujuk Risma.   
 
Maka wajar kalau hal itu bisa dinilai hanya suatu trik untuk menempatkan Ahok sebagai petahana yang tak terkalahkan, kecuali oleh Risma. Padahal sebenarnya tidak demikian. Ada beberapa alasan yang bisa kita kemukakan.   
 
Pertama, mitos bahwa Ahok bersih sudah runtuh. Kepercayaan kepada Ahok sudah semakin turun. Ini bisa kita lihat pada indikasi bahwa para pendukung Ahok saat berpasangan dengan Jokowi dalam pilgub 2012 melawan Foke-Nara, sebut saja budayawan JJ Rizal dan Ratna Sarumpaet, telah mencabut dukungan pada Ahok, bahkan sejumlah aktivis HAM telah menulis surat terbuka kepada Presiden Jokowi agar tidak mendukung Ahok. 
 
Kedua, rakyat yang banyak tergusur dan sakit hati oleh kebijakan Gubernur Ahok yang anti rakyat dan pro konglomerat memiliki tekad menggusur Ahok dari jabatannya.Ini bisa dilihat dalam antusiasme rakyat sekitar Kampung Makam Keramat Luar Batang Jakarta Utara yang menyambut yel-yel “usir Ahok” dari massa Milad FPI 17 Agustus kemarin.   
 
Ketiga, penegasan Rois Syuriah PWNU DKI Kyai Haji Mahfudz Asirun dalam Muzakarah Ulama dan Tokoh Parpol di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Jaksel (Kamis,11 Agustus 2016) bahwa beliau dan jajaran PWNU DKI Jakarta tidak mendukung pemimpin non muslim.   
 
Keempat, doa ulama Betawi kharismatik, KH Maulana Kamal Yusuf, mantan Rois Syuriah PWNU dan sekarang anggota Syuriah PBNU, dalam suatu unjuk rasa di depan Gedung DPRD DKI tahun lalu agar Allah SWT melengserkan dan melongsorkan Ahok.   
 
Kelima, bahwa  penentu menang kalahnya Ahok bukanlah jati diri Ahok atau penantangnya, tapi penentunya adalah suara yang diberikan oleh warga Jakarta yang menggunakan hak pilihnya. Ya, pilgub DKI bukanlah ring tinju dimana kemenangan ditentukan oleh kehebatan sang Petinju, dan penonton cuma tepuk tangan. Tidak. Dia adalah ajang dimana umat memilih siapa pemimpinnya. Oleh karena mayoritas pemilih adalah umat Islam, maka bakalan sulit dan tidak masuk akal bagi Ahok yang non muslim untuk mendapatkan kemenangan. Dalam kegelisahan itulah Ahok suka tampil jumawa, dan para pendukungnya terus memutar otak bagaimana melakukan berbagai trik untuk menggapi kemenangan.  
 
Oleh karena itu, patut disadari oleh semua komponen umat Islam di Jakarta bahwa berbagai propaganda untuk memenangkan Ahok adalah propaganda batil yang tak perlu diikuti.   
 
Salah satu propaganda itu adalah bahwa hanya Risma yang bisa mengalahkan Ahok, sehingga kalau Risma hanya jadi jurkam, tak jadi penantang (kalimat penantang ini juga masuk kategori propaganda bahwa Ahok adalah juara bertahan, padahal dulu jadi gubernur hanya nasib karena digandeng Jokowi), maka Ahok tak terkalahkan.   
 
Seolah di Jakarta tidak ada manusia yang lebih baik dari Ahok. Padahal pria mukmin di Jakarta sangat banyak jumlahnya. Dan pria mukmin di sisi Allah SWT nilainya jauh lebih tinggi daripada Ahok. Kalaupun ada jasa yang hebat yang dibuat Ahok untuk Jakarta, tetap tidak bisa disamakan dengan pria mukmin. Sebab sehebat apapun prestasi orang kafir tak bisa disamakan dengan orang mukmin. Allah SWT, Tuhan yang menciptakan seluruh umat manusia, menegaskan bahwa “orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah...”. (QS. At Taubah ayat 19-20). 
 
Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa bukan hanya Risma yang bisa mengalahkan Ahok, tapi banyak sekali warga Jakarta yang beriman kepada Allah SWT, hari akhir, serta berjihad di jalan Allah SWT yang semuanya Allah nilai lebih tinggi derjatnya itu pasti bisa mengalahkan Ahok selama mayoritas warga Jakarta berpegang kepada petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.  Wallahua’lam!
 
0 Komentar