Mencari Gubernur Santun

Sabtu, 09 April 2016 - 10:21 WIB | Dilihat : 2712
 Mencari Gubernur Santun  Ilustrasi: Peluncuran Konvensi Gubernur Muslim DKI Jakarta di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 
KH Muhammad Al-Khaththath
Sekjen FUI
 
 
Dalam acara audiensi delegasi Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) dengan pimpinan DPRD DKI Jakarta Senin (04/04/2016) kemarin Ketua Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah Habib Rizieq Syihab mendesak pimpinan DPRD agar segera menggelar HMP sebagai kelanjutan Hak Angket yang jelas menyatakan Ahok sebagai Pejabat Gubernur DKI telah bersalah melanggar sejumlah perundangan. Artinya, harus dilengserkan.  
 
Salah satu poin yang menjadi keprihatinan bahkan kegalauan masyarakat Jakarta yang religius adalah sikap Ahok yang sangat kelewatan. Habib Rizieq yang memimpin sekitar 20 delegasi yang mewakili dua puluhan ormas yang hari itu mendatangi DPRD melaporkan bahwa Ahok tidak layak sebagai gubernur karena mulutnya yang sangat kasar dan kotor.  
 
Mulut kotornya Ahok sudah diekspos media dalam wawancara dengan Kompas TV yang menyebut kata (maaf) “tai, tai” berulang-ulang bahkan walaupun sudah diperingatkan presenter TV tersebut. Ahok juga menghardik  seorang ibu berjilbab warga masyarakat yang mengadukan masalah kartu KJP (Kartu Jakarta Pintar)  yang tidak bisa diuangkan, “Ibu maling, maling…”.   
 
Kemarin Habib Rizieq menyampaikan laporan rakyat bahwa Ahok telah bicara yang sangat kasar kepada guru-guru dan bagian pendidikan di Monas begitu dilantik menggantikan Jokowi.  Masih banyak lagi kata kasar yang menjadi bagian cerita nyata kekasaran dan kekotoran mulut Ahok. 
 
Entahlah apakah Ahok ini memang seorang psikopat sebagaimana rumor yang berkembang tentang hasil test kesehatannya menjelang pilgub 2012 lalu.  Laporan dari seorang yang hadir pada waktu Cina Belitung itu mengkasari jajaran pendidikan di Monas, Ahok mengatakan semua jajaran pendidikan harus ikut perintah Pemda. Kalau tidak, saya ganti kalian dengan “monyet-monyet” untuk mengajar anak-anak sekolah, ujar Ahok yang pernah mengaku sebagai Bos Preman itu. Pedih sekali mendengarnya!  Bahkan kabarnya seorang pejabat Pemda DKI mengundurkan diri gara-gara tidak tahan dikasari Ahok dalam rapat dengan tingkat kekasaran yang sangat yang tak patut diceritakan di sini.    
 
Padahal seorang pemimpin haruslah seorang yang santun dan bersikap lembut kepada masyarakat yang menjadi rakyatnya. Allah Swt berfirman : 
 
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. …”. (QS. Ali Imran 159).
 
Nabi Muhammad Saw mengumpamakan kedudukan seorang pemimpin dan penguasa adalah laksana penggembala (ra’in).  Beliau Saw bersabda: “Seorang Imam yang diberi amanah memimpin masyarakat adalah laksana penggembala (ra’in) dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas pemeliharaan urusan rakyatnya”.   
 
Seorang pemimpin (ra’in) itu harus melakukan pemeliharaan atas urusan rakyat (ri’ayah syu-unir ra’iyyah).  Bukan malah mempersulit, menelantarkan, apalagi menghardiknya.
 
Rasulullah Saw berpesan kepada Wali Negeri (Gubernur) Yaman : “Mudahkan urusan (rakyat), jangan persulit (mereka); berilah kabar gembira (rakyat), jangan kalian menghardik (mereka)”.   
 
Oleh karena itu, sudah sangat benar kesimpulan dan tekad para Ulama, Habaib, dan para Tokoh Pimpinan Ormas Islam di Jakarta yang mengikhtiarkan agar Ahok segera lengser dan tidak dipilih maupun diangkat kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta, ibu kota Negara muslim terbesar ini. Bukan semata dia dikhawatirkan menjadi pelaku tirani minoritas, tapi juga memang mulutnya yang begitu kotor dan perilakunya yang sangat arogan telah melukai banyak orang.  
 
Ke depan kita perlu Gubernur DKI Jakarta yang santun dan tawadlu’, penuh perhatian dan kasih sayang kepada rakyat.   
 
Sejumlah nama telah masuk bursa penjaringan “konvensi” Gubernur Muslim Jakarta (GMJ) seperti mantan Menpora Dr. Adhyaksa Dault, anggota DPD Habib Ali bin Tohir  Al Husainy, ekonom Dr Ichsanuddin Noorsy, mantan Menkumham Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, pengusaha Sandiaga Uno, dan lain-lain bahkan menyusul kemudian pengacara Dr. Eggy Sudjana SH dan pengurus PBNU Dr. Syamsul Ma’arif. Terbetik berita dari kalangan parpol DKI muncul nama baru seperti mantan Wamenhan yang pernah menjadi Pangdam Jaya Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin yang kabarnya disiapkan untuk menyelamatkan Jakarta dari kegaduhan politik dan kegalauan masyarakat.   
 
Kita berharap para ulama, habaib, dan tokoh yang tergabung dalam Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah bisa memusyawarahkan siapa yang terbaik di antara mereka untuk dijadikan satu pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Muslim yang dipilih oleh para panutan umat itu. Semoga Allah Swt memilihkan yang terbaik untuk masyarakat Jakarta yang selama ini jadi bahan hinaan dan mainan Ahok dan seluruh bala tentara pendukungnya. Wallahul musta’an!
0 Komentar