Dari Masjid Agung Al Azhar Menuju DKI 1

Senin, 21 Maret 2016 - 09:11 WIB | Dilihat : 9505
Dari Masjid Agung Al Azhar Menuju DKI 1 Konferensi Pers Peluncuran Konvensi Gubernur Muslim Jakarta di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Kamis, 25 Pebruari 2016. (Foto: IST/SUARA ISLAM)


KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI
 
Gubernur Muslim Jakarta (GMJ) menjadi istilah yang mulai familiar di hati para ulama, habaib, dan tokoh serta aktivis Islam di Jakarta khususnya setelah launching program Konvensi Gubernur Muslim Jakarta (GMJ) di Masjid Agung Al Azhar, Kamis, 25 Pebruari 2016.   
 
Ruang Buya Hamka yang cukup besar dipenuhi para ulama, habaib, dan tokoh serta para relawan Gubernur Muslim Jakarta (GMJ) dan puluhan wartawan cetak, televisi, radio, dan on line. Saat itu Ketua Dewan Pemilih Calon Gubernur Muslim Jakarta (GMJ)  KH Fachrurrozy Ishaq membacakan jadwal konvensi GMJ yang dimulai dengan pendaftaran Calon keesokan harinya (26/2) dimana pria muslim yang berminat untuk maju sebagai calon dan siap fight dalam Pemilu Gubernur DKI Jakarta Februari 2017 dipersilakan mendaftar ke Sekretariat Badan Pekerja Harian Majelis Tinggi Muzakarah Ulama dan Tokoh Jakarta Bersyariah di Kantor Tabloid Suara Islam di kawasan Kalibata Tengah Jakarta Selatan.  Dewan Pemilih juga melayangkan Surat Undangan kepada sejumlah tokoh, khususnya yang sudah mendeklarasikan diri dan lagi mmenikmati panggung yang disediakan media, seperti mantan Menpora Adhyaksa Dault, mantan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, pengusaha muslim Sandiaga Uno, dan ekonom Muslim Ichsanuddin Noorsy.   
 
Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah Habib Rizieq Syihab yang juga Imam Besar DPP FPI  ini sepertinya hendak dikecilkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak ingin ada arus gerakan politik kerakyatan dari kalangan ulama, habaib, dan tokoh umat Islam.  Mereka mencoba menyempitkan dan mengecilkan peranan berbagai pihak yang berpartisipasi dalam gerakan Konvensi GMJ ini  dengan menyebutnya sebagai konvensi FPI atau konvensi Habib Rizieq. Stigma anarkis yang selama ini disematkan kepada FPI serta berbagai fitnah dan omong kosong yang menggambarkan FPI sebagai organisasi preman diharapkan bisa “manjur” untuk mengaborsi gerakan politik umat Islam non partisan ini.   Ini semua menjadikan sebagian Tim Ses Cagub yang sudah deklarasi  enggan mengajak jagonya masuk dalam Konvensi GMJ.   
 
GMJ tidak kecil hati. Para aktivis dan relawan GMJ yakin, permainan makar musuh pasti bakal dibalas oleh Allah SWT, sedangkan gerakan menolong agama Allah pasti akan Dia menangkan. 
 
Ba’da Sholat Jumat lalu (11/3) di Gedung Joang 45 digelar acara silaturrahim antara para ulama, habaib, dan tokoh yang tergabung dalam Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah beserta para tokoh pendukung dan relawan dengan para bakal calon Gubernur Muslim Jakarta yang ikut konvensi.   Salah satu aula lantai bawah di Gedung Juang dipadati sekitar 400 orang hadirin hingga luber keluar-luar. Ketua Dewan Pemilih  KH. Fachrurrozi Ishaq memimpin acara tersebut.  Sejumlah bakal Calon Gubernur yang hadir seperti anggota DPD-RI Habib Ali Al Husainy, MSi, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Ir. H.M. Sanusi, mantan anggota DPD Pardi SH, Staf Ahli Menpan yang juga Sekretaris Litbang MUI DKI Jakarta Dr. Roby Nurhadi,  dan lain-lain dituntun untuk mengucapkan Ikrar Kesediaan Calon Gubernur Muslim Jakarta mengikuti persyaratan yang diberikan oleh Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah.      
 
Beberapa persyaratan penting dalam ikrar tersebut antara lain para calon Gubernur wajib bersedia menerapkan nilai-nilai Islam ke seluruh aspek kehidupan di Jakarta dan berkomitmen menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, serta siap membuat program kerja yang berpihak kepada kaum yang lemah dan tertindas (dhu’afa wal mustadh’afin). Para calon juga bersedia menerima program-program  yang ditawarkan oleh Majelis Tinggi/Dewan Pemilih dan bersedia menandatangani  serta menjalankan kontrak politik  antara Majelis Tinggi dengan calon Gubernur Muslim.  Demi kesatuan gerakan umat untuk GMJ . para calon bersedia mendukung  dan menjadi juru kampanye  bagi siapapun  yang berhasil ditentukan oleh Majelis Tinggi dan/ Dewan Pemilih sebagai bakal pasangan calon Gubernur Muslim DKI Jakar ta.
 
Acara ditutup dengan doa oleh Rais Syuriah PWNU DKI KH. Maulana Kamal Yusuf yang juga anggota Majelis TInggi Jakarta Bersyariah.  Sebelumnya para hadirin membaca Ikrar Pemenangan untuk GMJ : 
 
“..... Oleh karena itu // kami umat Islam Jakarta // bertekad untuk berjuang sekuat tenaga // untuk memenangkan // calon gubernur muslim // hasil musyawarah // pilihan para ulama // habaib // dan tokoh umat di Jakarta // dalam rangka // menuju // Jakarta yang berkah, bersih dan beradab.
Demikian ikrar pemenangan ini //Semoga Allah SWT // meridhoi // dan memudahkan perjuangan kami ini //. ...”
 
Ada yang menilai para calon yang mendaftar ke GMJ tidak berkualitas.  Tak mungkin mengalahkan incumbent yang bisa memobilisir seluruh aparat hingga tingkat RT/RW untuk mempertahankan kekuasaannya.  Apalagi katanya selain didukung media incumbent juga didukung para cukong yang disebut-sebut Sembilan Naga.   Ucapan-ucapan seperti itu seperti ucapan orang-orang Bani Israil yang dijajah oleh Raja Jalut (Gholiat) yang meminta kepada Nabi mereka untuk memohon kepada Allah SWT agar berkenan mengirim pemimpin yang akan mampu berperang mengalahkan Raja Jalut lalu Allah SWT menunjuk Thalut sebagai raja Bani Israil. Kata mereka meremehkan Thalut, pemuda desa yang tidak terkenal: 
 
"Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" (QS. Al Baqarah ayat 247 ) .  
 
Gambaran ucapan para pembesar Yahudi itu menggambarkan bagaimana esensi realitas system demokrasi liberal padat modal hari ini.   
 
Semoga dukungan kuat dan solid dari para ulama, habaib  dan tokoh umat  akan mengantarkan Gubernur Muslim Jakarta (GMJ) dari Masjid Agung Al Azhar menuju DKI 1. Wallahulmusta’an!
0 Komentar