Lebih Baik Pemimpin Kafir Asal Bersih daripada Pemimpin Muslim tapi Korup?

Kamis, 07 Januari 2016 - 19:57 WIB | Dilihat : 42428
Lebih Baik Pemimpin Kafir Asal Bersih daripada Pemimpin Muslim tapi Korup? Ilustrasi

 

KH Muhammad Al-Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)
 
Dalam ceramah Maulid Majelis Al Fauz di Masjid Tangkuban Perahu, Jakarta Selatan, Selasa (05/1) yang dihadiri ratusan ulama dan ustadz pimpinan majelis taklim se Jakarta,  Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Syihab menyentil ucapan seorang pimpinan ormas Islam yang dinilai kebablasan. Pernyataan yang disentil itu adalah : “Lebih baik pemimpin kafir yang bersih daripada pemimpin muslim yang korup”.  
 
Sentilan itu sangat penting karena, menurut  Habib Rizieq yang juga Ketua Majelis Tinggi Majelis Muzakarah Ulama dan Tokoh Jakarta Bersyariah, pernyataan tersebut  sangat berbahaya.   
 
Sebab, pernyataan  itu mengandung pendangkalan aqidah! Ya, jika pernyataan seperti “lebih baik pemimpin kafir asal cerdas, rajin, dan bersih daripada pemimpin muslim tapi bodoh, malas, dan korup” dibiarkan, maka dikhawatirkan ke depan akan muncul perempuan-perempuan yang mengatakan “lebih baik punya suami kafir asal setia daripada punya suami muslim tapi tidak setia”. Ya kalau pernyataan memuja-muja pemimpin kafir tersebut dibiarkan, ke depan bisa muncul pemuda-pemuda yang mengatakan “lebih baik jadi orang kafir asal kaya raya, daripada menjadi orang muslim tapi miskin”. Na’udzbillahi mindzalik!  
 
Secara logika, pernyataan perempuan muslimah seperti itu benar. Namun secara syar’i jelas tidak dibenarkan.  Sebab seorang perempuan muslimah haram mutlak menikah dengan seorang kafir (lihat QS. Al Baqarah ayat 221). Jadi pernyataan tersebut merupakan pendangkalan aqidah, yakni menjadikan umat tidak lagi berpegang teguh kepada akidah dan syariah dalam kehidupan mereka, tapi berpegang kepada logika semata.   
 
Selain itu, kata Habib Rizieq, pernyataan di atas juga mengandung kebencian kepada Islam, kenapa sifat-sifat jelek seperti “korupsi” disematkan kepada pemimpin muslim, sementara pemimpin kafir disemati sifat baik, “bersih”.  Kenapa pernyataan tidak dibalik menjadi: “Lebih baik pemimpin muslim yang bersih daripada pemimpin kafir yang korup”?  Bukankah masih banyak pemimpin muslim yang bersih dan tidak sedikit pemimpin kafir yang korup?  
 
Selain mengandung kebencian kepada Islam, pernyataan tersebut juga tidak menggunakan metode perbandingan (manhaj al muqaranah) yang seimbang, tidak apple to apple.  Yakni, kenapa membandingkan “pemimpin muslim yang korup” dengan “pemimpin kafir yang bersih”? Kenapa bukan membandingkan pemimpin  kafir yang bersih dengan pemimpin muslim yang bersih pula, atau membandingkan pemimpin muslim yang korup dengan pemimpin kafir yang korup pula?  Menurut Habib Rizieq, cara perbandingan seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang mengalami keterbelakangan intelektual.  
 
Memang cukup mengherankan bagaimana seorang pimpinan ormas Islam mengeluarkan pernyataan aneh seperti itu. Padahal bahayanya luar biasa. Logika awam mengatakan, tidak mungkin seorang pimpinan ormas Islam, apalagi dikenal sebagai ulama, mengeluarkan kata-kata yang bertentangan dengan ajaran Islam, khususnya ayat Alquran. Padahal faktanya adalah sebaliknya.
 
Menarik disimak kembali kata-kata Habib Rizieq di atas: jika pernyataan seperti “lebih baik pemimpin kafir asal cerdas, rajin, dan bersih daripada pemimpin muslim yang bodoh, malas, dan korup”  dibiarkan, maka dikhawatirkan ke depan akan uncul perempuan-perempuan yang mengatakan “lebih baik punya suami kafir asal setia daripada punya suami muslim tapi tidak setia”. 
 
Padahal Allah Swt tegas  melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki kafir. Allah Swt berfirman: “dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukminat) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun mereka mengagumkan kamu...” (QS. Al Baqarah ayat 221).
 
As Shabuniy dalam Tafsir Ayatul Ahkam Juz 1/126  mengatakan bahwa ayat tersebut mengharamkan kaum muslimin mengawinkan seorang musyrik dengan seorang muslimah. Lafazh musyrik dalam ayat tersebut adalah siapapun orang kafir yang tidak beragama Islam, baik dia penyembah berhala, Majusi, Yahudi, Nasrani, maupun orang murtad.  Illat atau sebab disyariatkan haramnya mereka menikahi muslimah adalah  karena Islam itu tinggi dan tidak boleh yang mengatasinya (Al Islam ya’lu wala yu’la alaih).    
 
Jika kaum muslimin diharamkan menyerahkan seorang muslimah untuk dipimpin seorang kafir dalam rumah tangganya, maka logika hukumnya adalah haram pula menyerahkan kaum muslimah satu RT/RW, satu kelurahan, hingga satu Negara kepada seorang kafir untuk menjadi pemimpin mereka.  
 
Perlu diingat, nasib buruk orang yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpin mereka dikabarkan oleh Allah dalam firman-Nya:  “(yaitu) ketika orang-orang yang diikuti (pemimpin kafir) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.  Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Al Baqarah ayat 166-167).  
 
Semoga umat tidak tertipu.  Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq!
1 Komentar