Ahmad Dani, Kata Kafir, Hate Speech, dan SE Kapolri

Minggu, 29 November 2015 - 10:52 WIB | Dilihat : 9427
Ahmad Dani, Kata Kafir, Hate Speech, dan SE Kapolri Ilustrasi : Surat Edaran Kapolri soal larangan Ujaran Kebencian (hate speech). (gambar: manjanik.com)

 

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen Forum Umat Islam (FUI)
 
 
Rabu pagi lalu (11/11) saya mendampingi pimpinan FPI DKI Jakarta hadiri undangan coffee break bersama Kapolda Metro Jaya. Acara yang disiarkan JakTV itu dihadiri oleh berbagai kalangan baik dari professional, birokrat, ormas, mahasiswa, ahli hukum, anggota DPR. Hari itu karena bicara tentang SE Kapolri terkait hate speech, Kapolda menghadirkan musisi kondang Ahmad Dani.  
 
Ketika diberi kesempatan bicara, Dani yang tampil pede mengatakan akan membuat undang-undang yang bunyinya kurang lebih: “Barangsiapa yang mengatakan kepada seseorang atau suatu kelompok kafir, akan dipidana lima tahun penjara!”. Dani juga mengatakan di YouTube banyak sekali Ustaz-ustaz yang seharusnya ditangkap karena ceramah-ceramah mereka mengandung kebencian (hate speech).
 
Tentu saja, paling tidak bagi saya, pernyataan tersebut mengagetkan, mengerikan, dan sekaligus ngawur!  Saya cukup galau karena saya sudah diberi kesempatan bicara sebelumnya. Saya khawatir karena beberapa orang yang berbicara sesudah Ahmad Dani tidak ada yang mengoreksi pernyataan tersebut.  
 
Namun Alhamdulillah pemandu acara presenter terkenal Rahma Sarita memberi kesempatan setelah saya minta untuk bicara lagi untuk mengoreksi pernyataan Dani tersebut.   
 
Saya katakan : “Mas Dani, kita harus tawadlu dalam berbicara.  Jangan berbicara melebihi Allah Swt, Tuhan Yang Maha Esa. Jangan membuat undang-undang yang melebihi undang-undang Tuhan seperti undang-undang yang hendak dibuat oleh mas Dani tadi.  Bukankah kata-kata kafir itu kita jumpai banyak sekali di Alquran? Bahkan ada Surat namanya Al Kafirun? Bukankah kata kafir itu kita peroleh sumbernya adalah dari Alquran, Kitab Suci Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa? Jadi tidak mungkin kita membuat undang-udang yang melarang orang mengatakan kafir.   
 
Mungkin, yang bisa dibenarkan keterangan dari Nabi Saw. adalah ‘barang siapa mengatakan kepada seorang muslim kamu kafir padahal dia tidak kafir, maka kekafiran itu kembali kepada yang mengatakannya. Jadi seandainya mas Dani buat undang-undang ‘barang siapa mengatakan kepada seorang muslim kafir, padahal dia tidak kafir, dipidana lima tahun’….mungkin ini bisa.” Itulah kurang lebih kalimat koreksi yang saya coba berikan untuk seorang Ahmad Dani yang sering terlihat bicara pede dan jumawa.    
 
Subhanallah tiba-tiba Ahmad Dani seperti berubah pikiran.  Luar biasa, Dani  mengatakan bahwa kita itu memperoleh agama dari Nabi, Alquran hadits juga dari Nabi. Kata-kata kafir, sesat, itu  semuanya juga harus dari Nabi. Misalnya homoseks itu dilarang oleh Nabi Luth, Yahudi dibilang kafir oleh Nabi Musa, jadi semua dari Nabi. Ketika ditanya tentang MUI, Dani mengatakan kalau MUI boleh mengeluarkan fatwa kafir atau sesat. Sebab MUI yang diakui Negara.  “Jadi kalau ada ormas mau mengatakan seseorang atau satu kelompok itu kafir atau sesat, ya lobi aja MUI,” pungkas Dani. Allahu Akbar!  
 
Maha Suci Allah yang telah meluruskan ucapan Ahmad Dani. Alhamdulillah, semoga musisi kondang ini benar-benar tercerahkan.    
 
Memang masalah kata kafir  ini banyak yang masih gelap. Buktinya di forum yang sama setelah Dani bicara ada seorang ibu yang giliran bicara berkata sebagai seorang Kristen dia merasa sedih sekali kalau ada ustaz yang mengatakan kafir.  “Saya kira Nabi Muhammad itu toleran!,” kata ibu itu membela pernyataannya. Mungkin ibu itu tidak menyimak kata demi kata yang diucapkan Ahmad Dani.  Padahal sungguh sangat jelas dan gamblang bahwa pernyataan kafir dan sesat itu datangnya dari Nabi.   
 
Ya Alquran yang memuat  banyak sekali kata-kata kafir dan segala pecahan katanya. Secara bahasa kata kafir berasal dari kata kafara-yakfuru ( كفر- يكفر) artinya menolak. Siapa yang menolak Islam diungkap dengan kata kafir.  Sebaliknya yang menerima kebenaran Islam disebut muslim atau mukmin.  Alquran menggunakan kata  kafir (كافر)  yang artinya adalah orang yang menolak membenarkan Allah Swt, menolak kebenaran Islam, menolak kebenaran Nabi Muhammad Saw. atau para Nabi sebelum beliau Saw., atau menolak kebenaran Alquran sebanyak 3 kali, kata kafirun ( كافرون) yang artinya orang-orang kafir sebanyak 13 kali, kata kafara (كفر ) yang artinya dia telah kafir  18 kali, kata kafaru ( كفروا)  yang artinya mereka telah kafir sebanyak 135 kali, dll.  
 
Ringkasnya jika seseorang yang menolak membenarkan Allah Swt, menolak membenarkan risalah para Rasul utusan Allah Swt, menolak membenarkan Alquran Kitabullah, dan Islam sebagai dinullah disebut oleh Allah Swt dalam berbagai firman-Nya sebagai kafir sesuai data di atas, maka kalau ada orang menolak kebenaran Alquran dan Nabi Muhammad Saw tidak perlu sedih, galau, apalagi marah jika disebut kafir mengingat kafir itu artinya menolak.  
 
Jadi menyeret kata kafir dalam kategori “hate speech” apalagi harus dipidana adalah bentuk kekonyolan atau boleh dibilang pelakunya mengalami keterbelakangan intelektual.   Sebab kata kafir itu genuine dari Allah Swt Tuhan pencipta seluruh umat manusia.  
 
Oleh karena itu, ketika SE Kapolri tentang “hate speech” diluncurkan, kita berharap tidak masuk ke ranah mengkriminalkan ayat-ayat Alquran atau Sunnah Nabi Muhammad Saw. Sebab, NKRI ini dasarnya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Kuasa, bukan kesetanan yang luar biasa. Wallahua’lam! 
 
0 Komentar