Kalahkan Ahok dengan Hanya Satu Cagub Muslim

Selasa, 13 Oktober 2015 - 12:38 WIB | Dilihat : 23251
 Kalahkan Ahok dengan Hanya Satu Cagub Muslim Ilustrasi: Tokoh dan umat Islam DKI Jakarta saat mengikuti Parade Tauhid Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

KH Muhammad Al Khaththath
Sekjen FUI
 
 
Pilkada DKI memang masih dua tahun lagi.Tapi hawanya sudah panas. Pasalnya Ahok semakin merajalela. Setelah kebijakannya yang sangat tidak popular, yakni menggusur rakyat miskin di Kampung Pulo dan melarang perdagangan hewan kurban yang merupakan syiar agama Allah Swt (QS. Al Hajj 36) yang seharusnya dihormati dan diagungkan (QS. Al Hajj 32), Ahok malah dijadikan Irup di upacara HUT TNI di Kodam Jaya 5 Oktober kemarin. Seorang pembaca Suara Islam mengirim sms kepada saya: Ustadz kenapa Ahok semakin merajalela! Saya jawab spontan, itu istidroj. Orang Sunda  bilang itu di-sungkun oleh Allah Swt. Kebencian kepada Ahok dan keinginan melengserkannya semakin mengristal di hati umat Islam yang sensitive dengan masalah agamanya.
 
Persoalannya bagaimana bisa melengserkan Ahok? Beberapa kali audiensi dengan DPRD DKI Jakarta dan bahkan disertai sejumlah demonstrasi massa yang massif yang dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) yang dipimpin oleh Gubernur Rakyat KH. Fachrurrozy belum juga berhasil melengserkan Ahok. Bahkan Ahok semakin jumawa dengan berbagai pernyataan dan kebijakannya.  
 
Upaya hukum pun sudah ditempuh oleh DPD FPI Jakarta dengan melaporkan kasus dugaan korupsi oleh Ahok dalam kasus pembelian tanah Rumah Sakit Sumber Waras ke Bareskrim Polda Metro Jaya. Entah kenapa belum ada pemanggilan kepada Ahok hingga hari ini padahal menurut data laporan BPK ada kejanggalan yang bisa mengarah kepada dugaan korupsi, misalnya adanya pembelian tanah dengan harga yang patut diduga penggelembungan harga dan tanggal pembayaran yang tidak wajar. Kita tunggu juga kiprah KPK dalam kasus yang diperkirakan merugikan Negara ratusan miliar rupiah ini. 
 
Ahok tampaknya terus melaju bahkan menantang maju sebagai calon independen dengan klaim telah mengumpulkan sekitar 250 ribu KTP. Kabarnya Ahok juga didukung sebuah perusahaan ojek milik seorang yang murtad yang menjadikan rekrutmen tukang ojek sebagai sarana pengumpulan KTP dukungan kepada Ahok untuk cagub independen. 
 
Kawan saya yang melakukan survey melalui pengguna Facebook di DKI mengatakan kans Ahok untuk kembali menduduki jabatannya cukup besar. Kalau seandainya data pengguna FB itu cukup valid mewakili suara pemilih, maka Ahok tampaknya berpeluang menjadi pemenang jika dibandingkan calon-calon Muslim yang muncul seperti Adhyaksa, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, bahkan mantan Pangdam Jaya Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin sekalipun. Kata kawan saya, yang bisa mengalahkan Ahok (didukung sekitar 740 ribu pengguna FB DKI)  jika pemilukada DKI dilakukan hari ini hanyalah Prabowo (didukung 2 juta pengguna FB DKI) dan Mario Teguh (didukung 1,7 juta pengguna FB  DKI).  
 
Ya mengalahkan Ahok bukan urusan enteng. Tapi bukan mustahil. Yang penting ada keyakinan umat Islam sebagai pemilih terbesar di DKI bahwa menjadikan Ahok yang kafir sebagai gubernur DKI Jakarta yang mayoritas muslim adalah diharamkan oleh Allah Swt (lihat QS. An Nisa 141). Haramnya menjadikan Ahok sebagai gubernur atas kaum muslimin harus diyakini lebih besar dari pada haramnya minum miras (lihat QS. Al Maidah 90-91). Apalagi Ahok akan melegalkan kembali peredaran minuman syetan itu di Jakarta di minimarket yang tentu sangat dilaknat oleh Allah Swt bahkan pernah mengatakan akan membuat khusus toko miras untuk menentang larangan Menteri Rahmat Gobel waktu itu. Haramnya menjadikan Ahok sebagai gubernur atas kaum muslimin harus diyakini lebih besar dari pada haramnya berzina (lihat QS. Al Isra 32) dengan pelacur. Apalagi Ahok getol kampanye membuka lokalisasi dan mau membangun apartemen pelacur. Haramnya menjadikan Ahok sebagai gubernur atas kaum muslimin harus diyakini lebih besar dari pada haramnya melakukan kemusyrikan karena Ahok ini mengatakan  ayat konstitusi lebih tinggi daripada ayat suci. Siapa yang lebih musyrik dari orang yang menyatakan hukum manusia lebih tinggi setatusnya daripada hukum Allah Yang Maha Kuasa? (lihat QS. At Taubah ayat  31). 
 
Kalau sudah yakin keharaman menjadikan Ahok sebagai gubernur Jakarta yang mayoritas muslim, maka tidak ada jalan mengoreksi kecuali menurunkannya dari jabatannya. Kalau nggak bisa di tengah jalan ya di ujung masa jabatannya, yakni tidak dipilih lagi dalam pilgub DKI 2017. Kalau sudah sampai pilgub DKI 2017 nanti tidak ada pilihan bagi umat Islam yang  masih beriman kepada Allah Swt, Rasul-Nya dan Kitab Suci Alquran selain mengalahkan Ahok yang terindikasi akan maju sekalipun dari jalur independen. Kabarnya untuk membangun persepsi atas keabsahannya Ahok telah minta bantuan ulama Cina untuk mem-briefing sekitar 200 ulama se-DKI bulan Agustus lalu. 
 
Di sinilah pentinya persatuan dan kesatuan umat Islam. Dalam berbagai aksi umat Islam sering mengumandangkan yel-yel “Islam bersatu tak bisa dikalahkan!”. Dalam sebuah pertemuan tokoh penggagas agar jabatan gubernur kembali kepada kalangan yang berhak sesuai asas proporsionalitas pada bulan September lalu saya katakan, insyaallah biidznillah gubernur muslim pasti menang jika cuma satu calon dan kita umat Islam bersatu memilihnya. Yang saya khawatirkan kita nggak mampu mengatakan slogan di atas secara tuntas, kita hanya mengatakan sampai kata “tak bisa”. Na’udzubillah!  Kekalahan Fauzi Bowo pada pilkada DKI lalu adalah karena ada sebagian pendukung tradisionalnya yang menyeberang. Semoga mereka kembali. Wallahulmusta’an!
0 Komentar