Fikih Waria dan Pesantren Waria ?

Senin, 22 Februari 2016 - 07:04 WIB | Dilihat : 5163
Fikih Waria dan Pesantren Waria ?
A'uudzu Billaah ...
Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Astaghfirullaah ...
Wa Atuubu ilallaah ...
 
Kaum LGBT dan LIBERAL berkolaborasi melempar wacana FIQIH WARIA dan membangun PESANTREN WARIA.
 
FIQIH WARIA
 
Sebagaimana sudah diulas dalam ARTIKEL yang lalu bahwasanya dalam ajaran Islam, BANCI itu terbagi dua, yaitu : ASLI dan PALSU, yang masing-masing punya hukum tersendiri.
 
BANCI ASLI harus ditetapkan hukumnya, ikut pria atau wanita, sesuai dengan ketentuan Syariat Islam yang telah diuraikan dalam ARTIKEL yang lalu, sehingga pada akhirnya ia akan mengikut satu Klasifikasi saja dalam Hukum Fiqih Islam, yaitu : Pria atau Wanita.
 
Ada pun BANCI PALSU wajib taubat dan harus kembali kepada jenis aslinya, yaitu : Pria atau Wanita.
 
Dengan demikian FIKIH WARIA tidak ada. Wacana FIKIH WARIA hanya merupakan langkah konyol Kaum LGBT dan LIBERAL untuk mengesankan bahwa LGBT diterima dan dibenarkan oleh Fiqih Islam.
 
PESANTREN WARIA
 
PESANTREN WARIA, tentu berbeda dengan PESANTREN REHABILITASI WARIA.
 
Pesantren yang menampung Waria untuk dinormalisasi sehingga taubat kembali kepada jalan Allah SWT, tentu terpuji. Itu namanya PESANTREN REHABILITASI WARIA.
 
Pesantren Rehabilitasi macam itu tidak ada masalah, sebagaimana adanya PESANTREN REHABILITASI NARKOBA untuk mengobati dan menyadarkan para pengguna Narkoba.
 
Sedang PESANTREN WARIA ala LGBT dan LIBERAL merupakan langkah PROVOKATIF untuk memancing kemarahan umat Islam, karena pesantren ini bukan untuk penyadaran Waria agar taubat, akan tetapi menjadi tempat PETERNAKAN WARIA.
 
PETERNAKAN GAY
 
Mantan Ketua Umum PBNU, KH Ahmad Hasyim Muzadi, yang kini menjabat sebagai salah anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) sekaligus juga sebagai Sekjen ICIS (International Conference Islamic Scholars), di tahu 2010, saat menyikapi Festival Film Q tentang LGBT, sebagaimana dilansir berbagai media, bahwa beliau menyatakan : "Jadi, homo atau lesbi harus dinormalisasi, bukan difestivalkan. Kalau difestivalkan artinya diternakkan by design."
 
Bagi Ikhwan yang ingin lebih jauh membaca tentang LGBT, silakan baca tulisan kami yang berjudul "PETERNAKAN GAY" yang telah dimuat dalam buku kami berjudul "HANCURKAN LIBERALISME DAN TEGAKKAN SYARIAT ISLAM" pada  halaman 139 s/d 150.
 
Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ...
Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...
 
(Habib Muhammad Rizieq Syihab)
1 Komentar