Silaturahim Membawa Keberkahan

Kamis, 05 September 2013 - 11:27 WIB | Dilihat : 18334
Silaturahim Membawa Keberkahan

Keluarga muslim memiliki tradisi pulang kampung pada hari raya Idhul Fithri. Bukti silaturahmi ini menjadi syarat bahwa seseorang bisa memperoleh lailatul qodar. Silaturahmi adalah ibadah yang sangat agung, mudah dan membawa berkah, menyempurnakan rasa cinta dan interaksi antar anggota keluarga, membuktikan kedermawanan, kemuliaan serta ketinggian akhlak seseorang.

Silaturahmi menjadi kunci kekuatan keluarga muslim, menghadapi arus budaya individualis kaum kapitalis yang berusaha memecah belah umat Islam.

Keutamaan silaturahmi

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw: “Apakah hal yang lebih tinggi nilainya di sisi Allah SWT daripada salat, puasa, zakat dan haji? Rasul menjawab: “Silaturahmi”. "Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahmi niscaya umurnya akan diperpanjang, hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya." (HR Bukhari). Bertambah berkah dalam umur, karena mudah melakukan ketaatan, menyibukkan diri dengan amal sholeh dan terjaga dari kesia-siaan.  Mendapatkan tambahan umur karena ditunda ajalnya.  Namanya tetap diingat dan dipuji, seolah-olah tidak pernah mati.

Nabi saw bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi". (HR Bukhori dan Muslim).

Nabi saw bersabda, "Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya (berupa kasih-sayang dan rahmat Allah), dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari dan Muslim). 

Seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yang memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka. Maka Nabi saw bersabda : "Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi" (HR Bukhari dan Muslim). 

Allah SWT berfirman: "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah erintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk" (QS. Ar-Ra'd :21)

Seorang laki-laki dari Khos’am mendatangi Rasulullah saw dan berkata: “Kamu mengaku bahwa engkau adalah Rasulullah?  Rasul menjawab : “Ya”.  Aku bertanya : “Amalan apa yang paling dicintai Allah SWT?”. Beliau menjawab ; “Beriman kepada Allah SWT."  “Kemudian apa lagi?”.  Beliau menjawab : “Kemudian menyambung silaturahmi”. (HR Abu Ya’la).

Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits ra memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi SAW sebelumnya.  Tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata: “Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku?  Beliau bertanya: "Apakah sudah engkau lakukan?" Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu, niscaya lebih besar pahalanya untukmu." (HR Bukhori dan Muslim).

Nabi saw bersabda: "Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi." (HR Tirmidzi).  Zainab ats-Tsaqafiyah bertanya kepada Nabi saw: Apakah boleh dia bersedekah kepada suaminya dan anak-anak yatim asuhannya?  Nabi saw bersabda: "Untuknya dua pahala, pahala kekeluargaan dan pahala sedekah." (HR Bukhari dan Muslim).

Seorang pria berkata, "Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang  jika saya berusaha menyambung silaturahmi, mereka memutuskannya, jika saya berbuat baik mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati". Rasulullah saw menjawab, "Kalau memang demikian, seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api, dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” (HR. Muslim).

Ancaman Memutuskan Silaturahmi

Nabi saw bersabda “Sesungguhnya perbuatan anak cucu Adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi” (HR Ahmad).

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus keluarga” (HR. Bukhari).

Seseorang yang memutus silaturahmi tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir. Allah SWT berfirman : “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)” (QS.Ar’Rad: 25).  “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?  Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka” (QS Muhammad: 22-23).

Nabi saw bersabda, " Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahmi" (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi saw bersabda: “Tidak ada dosa yang Allah swt lebih dipercepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi” (HR Tirmidzi).

Ada kisah seseorang bertanya: “Mengapa tuan yang terkenal taat beragama, jujur dan amanah sampai ditempatkan di dalam neraka?”.  Ia menjawab: “Walaupun aku banyak mempunyai kebaikan, jujur dan amanah, tetapi aku mempunyai suatu kesalahan besar yaitu menjauhi saudara perempuanku yang miskin, aku kasar terhadapnya dan meninggalkannya.  Aku usir apabila ia datang mengunjungiku.  Maka Allah SWT menghukum dan menempatkanku di neraka.” (Dalil As-Sa’ilin oleh Anas Ismail Abu Daud).
 
Arti Silaturahmi

Ibnu Manzhur rahimahullah menjelaskan bahwa silah berarti menyambung, lawan kata dari hujron yang berarti meninggalkan atau memutuskan (Lisanul ‘Arob). Silaturahmi berarti: “Perbuatan baik, kasih sayang dan kelembutan yang ditujukan kepada keluarga yang senasab (satu keturunan) dan karib kerabat, serta perhatian terhadap kondisi mereka, sekalipun mereka berada di tempat yang jauh dan berbuat tidak baik kepada kita.

Ibn Hajar menjelaskan rahim itu bermacam-macam: ada yang dapat menerima warisan atau tidak, ada yang jauh atau dekat.  Termasuk: anak paman (dari pihak ibu atau ayah), anak bibi (baik dari pihak ibu atau ayah), dan lain-lain.

Cara Menyambung Tali Silaturahmi

Nabi saw bersabda: “Sambunglah keluargamu meskipun dengan salam.” [HR Al Bazzar, Ath Thabrani dan Al Baihaqi).  “Orang yang menyambung tali silaturahmi bukanlah orang yang menyambungnya sebagai balasan, namun apabila hubungan kekerabatannya diputus ia terus menyambungnya. (HR. Bukhari). 

Al Qurthubi menjelaskan, “Rahim (kekerabatan) yang wajib dijaga itu ada dua. Yaitu kekerabatan dalam makna luas karena agama, wajib dijaga dengan saling mencintai, saling memberi nasihat, bersikap adil dan menunaikan hak sesama muslim baik yang wajib dan sunnah.
 
Kekerabatan dalam makna sempit karena nasab, dijaga dengan membantu materi kepada kerabat, memperhatikan keadaan mereka dan mudah melupakan kesalahan mereka”.

Mengunjungi rumah karib kerabat, mengucapkan salam dan berjabat tangan, bertanya tentang keadaannya, memberikan hadiah, bersedekah kepada yang fakir, lemah-lembut dengan yang berkecukupan, menghargai dan menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghubungi via surat pos, sms atau telfon, menjamu dengan baik, ikut merasakan kebahagiaannya, menghiburnya, selalu menjaga hubungan baik dengannya, membesuknya, memenuhi undangan, memaafkan kesalahan dan menerima uzurnya, menyambung (tali silaturrahim) kepada orang yang memutuskan, memberi kepada orang yang tidak mau memberi, bersifat santun kepada yang bodoh, mengajak kembali kepada agama, menasihati , memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, mendoakan agar mendapat kebaikan dan hidayah.

Setiap muslim tidak boleh mengabaikan hak-hak keluarga, anak-anak, kedua orang tua dan kerabatnya. Buatlah agenda kegiatan untuk berkunjung ke salah satu kerabat, meskipun satu kali dalam sebulan.

[Ummu Hafizh]

0 Komentar